Bab 28

1779 Kata
Sayup-sayup terdengar suara pintu diketuk. Perlahan tapi pasti Gelano berjalan menghampiri pintu itu. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari para maid, kenapa tidak ada yang membuka pintunya. Suara ketukan itu semakin lama semakin kencang dan bel rumah ditekan berkali-kali. Semakin keras suara, langkah maju Gelano semakin cepat. Sampai tiba dia berada di depan pintu rumah. Membuka pintu sekaligus membuka mulut ingin menyemprot siapa pun yang datang di pagi hari. Gelano tak mempersalahkan soal tamu yang datang di pagi hari, tapi dia sangat mempersalahkan si tamu yang berani-beraninya mengetuk pintu seperti ibu kost penagih penagih uang bulanan. Pintu terbuka, menampilkan seorang pemuda seusianya. Membawa banyak paper bag dan satu boneka besar diapit di ketikan pemuda itu. Baru saja Gelano ingin menyemprot, pemuda itu langsung menyerobot masuk layaknya tuan rumah. Berjalan cepat, menaiki tangga. Gelano kesal setengah mati. Dia mengejar pemuda itu. “Muhammad Haris!” panggil Gelano sedikit berteriak. Ya, pemuda itu Haris. Datang bagai perampok di pagi hari. Tanpa memedulikan Gelano, Haris berjalan masuk menuju kamar Meira. Gelano menaiki tangga, mengejar langkah Haris yang terbilang cepat. “Woi!” Semakin kencang. Sampailah Haris di depan pintu kamar Meira. Menyimpan sebagian paper bag di bawah lalu mengetuk pintu pelan. Berbeda dengan sebelumnya yang mengetuk pintu secara brutal. Gelano baru sampai, menjitak keras kepala Haris. “Pagi-pagi Dateng ke rumah orang, bukannya salam kek malah mirip ibu-ibu kost. Bu—“ “Shtt, untuk kali ini aja jangan banyak bacot. Hati gue berbunga-bunga, abis belanja buat Mei anak gue.” Terdapat penekanan di dua kata terakhir. Gelano menaikkan sebelas alisnya. “Anak? Anak lo? Mimpi sana di gurun Sahara.” Ceklek! Pintu kamar terbuka. Meira sudah siap mengenakan seragamnya. Melihat itu Haris terdiam. Tanpa diketahui siapa pun termasuk Gelano, tangan Haris mengepal. Dia melihat logo TK Mutiara Islam Terpadu. Meira mengerjap-ngerjap. Pandangannya tertuju pada Gelano dan Haris, memandangnya secara bergantian. Haris tersenyum, menunjukkan beberapa paper bag tadi ke atas. “Tada!! Om punya hadiah buat kamu, boleh Om masuk ke kamar?” tunjuk Haris, mengangkat dagu ke dalam kamar Meira. Gadis itu mengangguk, mempersilahkan masuk. Keduanya, Haris dan Gelano masuk ke dalam kamar Meira. Disimpan paper bag dan boneka teddy bear berukuran besar di atas kasur. Gelano mengangkat tubuh putrinya ke atas kasur, membiarkan putrinya melihat-lihat hadiah yang sudah dibelikan “Wah, Om! Ini buat Mei semuanya?” tanya Meira terkagum-kagum. Melihat salah satu isi paper bag. Diambilnya barang yang ada di dalam paper bag. Beberapa buku hard cover pop-up berjudul ‘Keluarga Nabi Muhammad’, ‘Keluarga besar’ dan ‘Kisah Si Kancil yang Bijak’. “Buku-buku ini pop-up, pakai ilustrasi 3 dimensi,” jelas Haris. Kening Meira berkerut bingung, asing dengan kata-kata yang Haris ucapkan. “Tiga dimensi itu apa?” “Tiga dimensi itu bentuk yang memiliki ruang. Bisa dipegang dari segala sisi, beda lagi sama yang dua dimensi, kita Cuma bisa lihat dari satu sisi. Contohnya gambar yang ada di buku,” timpal Gelano ikut menjelaskan. “Berarti ini juga tiga dimensi kan Om, Dad?” tanya Meira seraya mengambil tas sekolahnya. “Iya. Itu tiga dimensi,” jawab Gelano. “Kamu mau lihat bukunya?” tanya Haris dibalas anggukan oleh Meira, “buka aja.” Dengan sangat semangat, Meira membuka plastik yang ada disalah satu buku. Dia membuka buku ‘keluarga Nabi Muhammad’. Ketika halaman kedua dibuka, Meira terkejut melihat ilustrasi yang tiba-tiba muncul. Lagi-lagi Meira terkagum-kagum, memerhatikan setiap detail gambar yang berbentuk tiga dimensi. Haris tersenyum senang, sama seperti Gelano. Meskipun karena Haris putrinya senang, tapi Gelano tetap merasa senang. Dilanjut ke halaman berikutnya Meira melihat-lihat lagi. “Mei, Om mau tanya sama kam—“ Belum sempat Haris melanjutkan pertanyaannya. Lebih dahulu Gelano menekan kaki Haris yang terbalut sepatu pantofel. Kedua pria itu saling berpandangan tajam. Gelano mengode sesuatu untuk tidak menanyakan kenapa Meira tetap berada di TK itu. Mendengar ada suatu kejanggalan, Meira menoleh menatap Haris. “Kenapa Om? Om mau tanya apa?” Meira bertanya. “Kamu udah sarapan? Mending kita sarapan bareng yuk!” ajak Haris mengalihkan arah pembicaraan. “Nah, kita turun sekarang ya. Lihat-lihat hadiahnya nanti kalau udah pulang belajar,” timbrung Gelano. Menggendong Meira tanpa persetujuan lalu keluar dari kamar, diikuti Haris. Gelano tahu apa yang akan Haris tanyakan. Dia tidak mau membuat Meira sedih lagi. Keputusan putrinya untuk tetap berada di TK itu suatu hal mutlak. Tidak bisa dibantah apalagi dipaksa. Raut wajah kesal Haris masih terlihat. Sedari tadi dia memperhatikan cara Haris menahan diri untuk tetap tenang. Sampailah mereka di meja makan, Gelano menurunkan Meira di kursi biasa. “Lho Haris, kapan kamu datang, Nak?” tanya Permata kaget melihat kedatangan Haris yang tiba-tiba. Andai tahu Permata akan membuat makanan lezat sebagai ucapan terima kasihnya. “Baru aja Tante.” “Ngomong-ngomong makasih banyak ya, Tante bingung harus minta tolong sama siapa. Mendadak banget. Untung ada kamu yang bisa dipercaya,” ucap Permata berterima kasih. “Tante kayak sama siapa aja sih, ini Haris lho. Lagian niat Haris kan ketemu Meira, jadi sekalian,” balas Haris, “oh, makanannya belum siap ya? Aku sama Gelano boleh ngobrol sebentar diluar?” Permata mengangguk. “Kalian sih kecepatan, lima menit lagi makanan siap. Kalian bicara dulu aja, nanti kalau udah siap Tante panggilin. Sekalian panggilin Keyla, sibuk banget. Dari pagi, malem-malem baru pulang.” Haris menatap Gelano, memberi isyarat. Terlebih dahulu Haris bangkit dan pergi meninggalkan meja makan. “Mei, kamu tunggu di sini aja ya. Kami mau ngobrol sebentar,” ucap Gelano seraya bangkit dari duduknya. Meira mengangguk sebagai tanda persetujuan. Setelah itu barulah ikut menyusul Haris. Di sinilah Haris dan Gelano berada. Di halaman rumah. Haris memang sudah berfirasat buruk mengenai kegagalan Gelano membujuk Meira. Kesombongan Gelano bisa membujuk Meira dengan mudah terlihat memalukan sekarang. Semua ucapan Gelano omong kosong. Gelano adalah ayah, sudah seharusnya pria itu yang mengambil keputusan bukan putrinya. Gelano bisa saja langsung menyiapkan semuanya dan mau tidak mau, Meira pindah. Lingkungan di TK itu tidak baik. Kemarin ibu-ibu, sekarang bisa saja teman-temannya? Esoknya? Jangan sampai guru ikut-ikutan mencap Meira sebagai ‘anak haram’. “Gue enggak bisa apa-apa Ris,” ujar Gelano seperti tahu apa yang ingin Haris bicarakan. Haris tertawa remeh. “Gue udah mikir kayak gini si. Mangkanya gue bilang, jangan bujuk tapi langsung buat keputusan. Cemen banget si lo jadi ayah, lo kalau lihat sendiri kejadiannya pasti tanpa pikir panjang lo langsung pindahin Meira hari itu juga,” murka Haris. Nadanya tidak meninggi, malah sedikit merendah. Khawatir ada yang mendengar. “Meira itu masih anak kecil, Bro. Pikirannya belum luas. Nih ya, kalau setiap hari Meira dibully, semakin lama kesehatan mentalnya bakal terganggu. Lo kan gak tahu, kehidupan Meira di tempat sebelumnya. Masa lo mau sih, anak lo terus-menerus dibully.” Gelano bergeming, menatap Haris. Apa pun permintaan Meira pasti dia akan mengabulkannya, terutama tetap belajar di TK itu. Dia juga cemas. Namun kecemasan itu hilang saat dia menemukan jalan keluarnya. “Oke emang gue ayah yang cemen, tapi gue enggak bisa nolak permintaan Meir—“ “Di sini bukan soal nolak permintaan. Tapi Lo enggak tegas, Lan. Demi kebaikan Meira sendiri!” geram Haris memotong penjelasan Gelano. “Gue yakin kali ini Meira enggak bakal lagi dibully, dia bisa lawan. Dan, gue udah cari asisten pribadi buat Meira. Seharian penuh, dari pagi sampai sore Meira diawasi. Bahkan kalau Meira mau main setelah sekolah, asisten bakal ikutin Meira.” “Itu emang harus sih. Tapi soal seharian dari pagi sampai sore itu enggak berlebihan, Lan? Kenapa enggak sampai pulang aja? Nanti Meira risih,” saran Haris. Memperkerjakan asisten adalah jalan satu-satunya. Dengan begitu tidak ada yang berani menghinanya. Gelano menggelengkan kepalanya. “Menurut gue enggak, dia juga bisa jadi teman main Meira. Anak gue itu super aktif, dia bakal banyak tanya-tanya. Nah nanti Meira bisa tanya-tanya ke asisten.” “Udah dijamin belum itu asisten bakal bener?” “Ya, jangan khawatir soal itu.” *** “Daddy itu Kakak siapa? Kenapa dia ikut sama kita?” tanya Meira menoleh, menatap seorang wanita berusia 20 tahunan. Wanita cantik mengenakan hijab, senyumnya manis mengalahkan gulali. Berkali-kali Meira menoleh menatap wanita itu, membuat wanita itu salah tingkah dibuatnya. “Itu namanya Kak Lily, Kakak itu yang akan temenin Mei belajar. Nanti Mei anggap Kakak itu kayak temen Mei ya. Tapi Mei harus hormati dia kayak guru kamu,” jelas Gelano. Meira membuka mulutnya. “Daddy jadi Kakak Lily bakal temenin Mei belajal sehalian? Kayak ibu-ibu itu yang nunggu anaknya sampai pulang?” Gelano mengangguk. “Yes! Meila akhilnya punya temen.” Gelano tidak menyangka, Meira akan menyukai asisten yang dia pilihkan. Dia pikir Meira akan menolaknya. Diluar dugaan. Sepertinya ini memang jalan terbaik. “Iya, mau ajak main juga enggak papa kok. Iya enggak Kakak Lily?” Gelano bertanya melirik kaca spion. Wanita bernama Lily mengangguk. “Iya Meira, nanti kamu bisa ajak Kakak main,” timbrung wanita itu. Suaranya begitu halus dan lembut. Meira makin menyukai Lily. “Asik!” seru Meira. “Kamu jangan terlalu keasyikan main. Jangan buat Kakak Lily terlalu capek,” ucap Gelano menegur Meira dari awal. Saking aktifnya dia takut Lily kesusahan merawat Meira. Meira mengangguk, mengacungkan jari kelingkingnya. “Mei janji, Mei enggak akan buat Kak Lily capek. Mei kan anak baik, Daddy tau kan Mei anak baik?” “Iya Mei anak baik.” Sesampainya di depan TK Mutiara Islam Terpadu, Gelano dan Lily turun lebih dulu. Gelano membukakan pintu Meira, membukakan seatbelt dan menggendong Meira masuk ke dalam bangunan TK Mutiara Islam Terpadu, Lily mengikuti Gelano dari belakang. Meira menatap ke sekeliling, ada ketakutan di dalam dirinya. Tibalah mereka di dalam kelas. Gelano menurunkan Meira di kursinya. Sekilas Gelano melirik ke arah pintu beralih ke jendela kaca, di sana para wali murid menunggu dan memantau anak mereka. Gelano menurunkan tubuhnya, mencium kening Meira. “Inget ya pesan Daddy. Kamu baik-baik di sini, belajar yang giat.” “Iya Dad! Daddy juga kelja yang giat!” seru Meira semangat. “Yaudah baik-baik. Daddy mau ngobrol dulu sama Kak Lily,” ucap Gelano dibalas anggukan oleh Meira. Gadis itu menyimpan tasnya di atas meja, duduk dengan nyaman di sana. Setelah melihat Meira duduk nyaman, Gelano keluar dari kelas. Mengode Lily untuk ikut bersamanya terlebih dahulu. Perasaan khawatir menyelimuti Gelano. Bagaimana tidak? Beberapa tatapan para wali murid tertuju padanya. Bukan Gelano takut, tapi dia khawatir mereka akan berbuat ulah lagi. Tidak! Gelano tidak akan membiarkan mereka bertindak semena-mena. “Lily tolong awasi Meira. Saya tahu kamu bisa dipercaya.” Ya, Gelano percaya pada Lily sepenuhnya. Kelihatannya saja lembut, baik, ramah, memang itulah Lily. Akan tetapi hal utama yang Gelano sukai adalah, ketegasannya. Lily bisa melawan mulut-mulut tak bertanggung jawab itu. “Iya Pak, pasti. Saya akan menjaga Lily seperti adik saya sendiri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN