Bab 23

1642 Kata
Gelano bangun tiga puluh menit lebih awal dari biasanya. Menyiapkan pakaian seragam yang hendak Meira pakai hari ini serta menyiapkan sarapan spesial buatannya sendiri. Hari pertama Meira masuk TK harus istimewa. Mulai saja dari sarapan. Gelano menyiapkan nasi goreng spesial khusus untuk Meira. Meski nasi goreng ini tidak seenak nasi goreng buatan Gresia, tapi setidaknya dia berusaha menyamai rasa nasi goreng yang Gresia buat. Setelah sarapan sudah tersaji, dia naik ke atas lebih tepatnya ke kamar putrinya. Tok.Tok.Tok! “Mei sayang? Kamu sudah bangun atau belum? Daddy buka ya, pintunya?” Izin Gelano. Setelah mendengar suara interupsi dari Meira, barulah Gelano masuk ke dalam kamar. Hal yang pertama kali Gelano lihat adalah putrinya yang sudah siap dengan seragam barunya. Seragam berwarna biru muda di sisi-sisi seragamnya ada garis berwarna bur dongker. Dikarenakan TK yang dipilih adalah TK berbasis Islam, semua seragamnya tertutup dan mengenakan jilbab bagi perempuan. Gamis panjang sebagai seragam TK tersebut sangat cocok dipakai Meira. Gadis itu kesusahan menguncir rambutnya. Baru Gelano ingin membantu Meira memakaikan pakaian, tapi gadis itu ternyata mandiri. “Sini Daddy bantu ikat rambut kamu.” Gelano mengambil alih sisir dari tangan mungil Meira. Duduk di sisi kasur lalu membantu Meira menyisir rambut. Hitam, halus dan terawat hingga Gelano mudah sekali menyisir rambut Meira. “Makasih Daddy!” seru Meira tersenyum senang. “Kamu pakai baju sendiri?” tanya Gelano seraya mengikat rambut Meira. Dikarenakan rambut Meira panjang, dia melipatnya menjadi dua agar rambut Meira tidak kelihatan pada saat memakai jilbab. Meira mengangguk. “Mei halus mandili, Mei enggak mau ngelepotin Daddy atau Oma. Lagian kan Cuma pake baju, anak bayi juga bisa.” Sebelah alis Gelano terangkat, sedetik kemudian dia terkekeh. Mengambil kerudung biru muda itu lalu memakaikannya secara teliti. Setiap saat Gelano merasa gemas pada Meira. Putri kecil yang amat sangat menggemaskan. Dia mengangkat tubuh Meira, mendudukkan Meira di sebelah pangkuannya. “Anak bayi bisa pakai baju sendiri?” tanya Gelano menggodanya. Menaik turunkan alis. “Bisa!” seru Meira. “Masa?” “Iya, bisa kok. Mei waktu bayi bisa pake baju sendili.” “Bohong.” “Mei enggak bohong Daddy.” “Enggak percaya tuh. Tapi Daddy percaya, di meja makan ada nasi goreng buat Meira.” Mata Meira berbinar. “Selius? Ada nasi goleng? Mei mau, Mei kangen makan nasi goleng. Mei juga kangen nasi goleng buatan Mama.” Wajah semringah itu berubah menjadi sedih. Gelano menyadari kesedihan Meira. Langsung menggendong putrinya keluar dari kamar. “Daddy!” pekik Meira kaget. Tiba-tiba gadis itu melambung tinggi, sangat tinggi nyaris kepala Meira terbentur pintu. “Kita makan nasi goreng, buatan Daddy!” Gelano berseru. Berniat mengalihkan pembicaraan tadi yang sempat menyinggung soal Gresia. Meira langsung sedih ketika teringat sosok Gresia. Dia tidak bisa menyuruh Meira berhenti memikirkan Gresia, karena dia sendiri sedih kehilangan Gresia. Namun dengan cara mengalihkan pikiran ke yang lain, dia melihat wajah bahagia putrinya lagi. Satu persatu Gelano menuruni anak tangga. Meloncat-loncat sesekali menerbangkan Meira ke atas lalu menangkapnya. Tubuh Meira sangat ringan, saking gemas dia dengan Meira dia menggendongnya bak boneka teddy bear. Saat tubuh Meira melambung di udara, Meira berteriak kesenangan. Tertawa lepas hingga Gelano melakukannya lagi dan lagi. Di sisi lain ada Permata dan Keyla, mereka berdua memerhatikan ayah dan anak. Permata tersenyum bahagia. Kebahagiaan Gelano adalah segalanya. Berkat Meira, keluarganya kembali harmonis lebih harmonis lagi Keyla resmi menjadi menantunya. Menjadi istri untuk Gelano dan ibu yang baik untuk Meira. Keluarga ini akan lengkap dan bahagia. Kesedihan di rumah ini akan menghilangkan. Tidak, sebetulnya sudah menghilang berkat Meira. Tampak Gelano berbahagia. Menggendong Meira lalu menciumi pipinya. Suara tawa dari ayah dan anak itu membuat suasana rumah yang gelap ini menjadi terang. Hadirnya Meira ke keluarga ini membawa cahaya terang. Ibarat malam yang gelap berubah menjadi siang. Kesedihan rumah ini sudah menghilang tergantikan oleh kebahagiaan. “Gelano! Ayo makan dulu! Nanti Mei terlambat!” teriak Permata menyuruh Gelano dan Meira ke meja makan. Gelano menghentikan aktivitasnya. Pria itu mengangguk lantas berjalan ke arah meja makan, menundukkan Meira di kursi. Di hadapan Meira kini sudah ada sepiring nasi goreng dengan lauk ayam dan sosis goreng mekar. Nasi goreng itu disusun menjadi sebuah bentuk love. Meira menghirup nasi goreng itu dalam-dalam. Aktivitas Meira diperhatikan oleh Permata dan Gelano yang juga duduk di samping Meira. Namun Keyla tetap diam, lebih tepatnya memerhatikan Meira dalam diam. “Boleh makan?” tanya Meira dibalas anggukan oleh Gelano dan Permata, “sebelum itu kita baca doa dulu, bial nanti setan enggak ikut makan baleng. Kalau enggak baca doa, pelutnya enggak kenyang. Nanti lapel telus.” Permata menatap Gelano sambil tersenyum. “Iya, kamu pimpin doa ya sayang.” Meira mengangguk antusias. Meira mengangkat kedua tangannya ke atas, berdoa. “Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannar. Aamiin.” Kedua telapak tangan itu diusap ke wajah. Begitu juga dengan Permata dan Gelano, mengikuti Meira. “Mari makan!” Meira mulai menyendokkan nasi goreng ke dalam mulut. Mengunyah nasi goreng itu lalu menatap Gelano. “Gimana enak enggak?” Meira mengangguk lalu melanjutkan makannya. Gadis itu memakan makanannya dengan lahap. Gelano mengusap rambut Meira. Dia bahagia hasil kerja keras membuat nasi goreng itu membuahkan hasil. Cukup dengan raut wajah bahagia dan senyuman indah Meira sebagai bayarannya, dia akan senang. *** Meira dihantarkan Gelano sampai masuk ke dalam kelas. Anak-anak lainnya sudah duduk di kursi masing-masing. Tersisa beberapa kursi kosong, dan Meira memilih kursi barisan kedua. Sebelum pergi Gelano mencium pipi Meira, selanjutnya Meira yang mencium kedua pipi Gelano lalu mereka berdua berpelukan erat. “Daddy hati-hati ya, jangan capek-capek keljanya nanti Daddy sakit. Mei enggak mau liat Daddy sakit, Mei enggak mau kehilangan olang yang Mei sayangi untuk kedua kalinya,” ucap Meira sedih. Gelano mengangguk, mengecup tangan Meira. “Dengerin Daddy sayang. Daddy enggak akan tinggalin Mei, kamu jangan takut. Daddy akan baik-baik saja. Kamu belajar yang giat ya, Daddy bangga sama kamu sayang.” Gelano mencubit pipi Meira, lantas bangkit dari posisi jongkoknya. “Semangat belajarnya! Nanti Oma jemput kamu.” Meira mengangguk, melambaikan tangannya.”Dah Daddy. Hati-hati di jalan.” “Iya sayang. Kamu juga hati-hati, Daddy berangkat kerja dulu ya.” Gelano berat meninggalkan Meira di sini, ingin menemani putrinya seharian sampai waktu pulang tapi hari ini dia ada rapat penting yang tidak boleh ditinggalkan. Beberapa langkah menjauhi Meira, dia berhenti menoleh sekilas memberikan senyum dan lambaian tangan sebelum benar-benar pergi. Meira memberikan sapa pada teman-teman barunya. Duduk di kursi dengan tas diangkat di atas meja. Mengambil sesuatu di dalam tas berwarna pink karakter Barbie. Sebuah foto Meira dan Gresia. Di foto itu Gresia sedang memeluk Meira erat, dan Meira mencium pipi Gresia. Diusapnya foto itu pelan. “Mama akhilnya Mei sekola. Sekolanya bagus, besal dan luas. Mei suka banget sama sekolahnya. Kata Mama Mei halus bahagia ‘kan? Sekalang Mei bahagia, Ma. Mama juga halus bahagia ya.” *** Untuk pertama kalinya Meira merasakan sekolah sungguhan. Di Bandung, tempat tinggalnya dulu—ada seorang guru yang secara sukarela mengajari anak-anak sekitar kampung. Menanamkan nilai moral, agama, akhlak dan pendidikan. Di depan rumah Teh Lia—guru yang mengajar anak-anak secara sukarela—dengan papan berukuran sebagai papan mengajar dan alas karpet. Setelah belajar Teh Lia membagikan makanan ringan atau permen, kadang-kadang makan bersama di atas daun pisang. Bukannya para murid yang memberikan hadiah pada sang guru, malah guru yang memberi hadiah pada murid. Dihari pertama Meira belajar membaca dan mendengarkan kisah para nabi, menyimpulkan pesan apa yang terkandung di dalam cerita tersebut. Meira paling aktif di kelas, saking aktifnya murid lain kesal sendiri karena tidak diberikan kesempatan menjawab. Meira sangat semangat belajar. “Nak, anaknya Gelano ya?” tanya seorang wanita paruh baya berambut pendek. Tubuhnya berisi, tampil mengenakan pakaian modern yaitu dress di bawah lutut. Wanita itu tidak sendiri, bersama tiga wanita lainnya. “Sht, anak enggak sah,” bisik wanita lain. Usianya lebih tua dari wanita berpakaian modern itu. Meira bisa mendengar bisikan itu, tapi dia membalasnya dengan senyuman. “Iya Bu, Mei anak Daddy Gelano.” “Ngapain sih kita pake nanya-nanya gini? Dan ngapain juga dia sekolah di sini, jangan sampe deh anak saya deket sama dia. Anak haram,” timpal yang lainnya bertanya. Berbisik-bisik. “Shtt, berisik itu anaknya denger. Nanti ngadu sama ayahnya.” “Hm, maaf Bu. Buku Mei ketinggalan di kelas, Mei ambil dulu ya.” Izin Meira berlari masuk ke dalam kelas. Bersembunyi di balik dinding samping pintu. Tidak ada bedanya, entah di Bandung atau di sini, mereka memanggilnya anak ‘haram’. Anak yang tidak diinginkan, anak yang seharusnya tidak lahir ke dunia. Memang terasa menyakitkan. Namun Meira tetap di sini, mendengarkan semuanya. “Kasian lho Keyla, dia udah tunangan. Tapi katanya batal gara-gara anak itu.” “Lho yang bener, Bu? Batal? Ya Allah kasian banget. Gara-gara anak haram itu Keyla yang jadi kena tumbal.” “Tahu enggak Bu, dengar-dengar sih ibunya meninggal. Terus Gelano disuruh jaga anaknya. Saya tahu betul Gelano anak baik-baik, pasti wanita itu yang goda duluan. Terus dia kabur karena malu, dan besarin anaknya sendiri. Uring-uringan Gelano cari tuh w***********g satu, karena dia pengen tanggung jawab. Bertahun-tahun akhirnya dia nyerah dan tunangan sama Keyla, eh malah ketemu lagi sama anaknya.” Deg! Jalang? Ibunya dikatai jalang. Tes! Sekuat tenaga Meira menahan tangisannya tapi buliran air mata mengalir begitu saja tanpa komando. Tangan kecilnya bergetar, tubuhnya hendak ambruk ke lantai. Namun Meira menahannya. “Keluarganya w***********g itu juga langsung ngusir dia pas tahu dia hamil. Padahal sebentar lagi sarjana. Hadeh, emang manusia tuh enggak suka mikir dua kali ya? Mikirin diri sendiri.” Sudah! Meira tidak kuat lagi! Gadis itu keluar dari kelas lalu berlari sekencang mungkin. Sementara para ibu-ibu itu memandang Meira kaget. Lantaran melihat Meira menangis tersedu-sedu sambil menangis. Bruk! Meira menghantam sesuatu, tidak! Seseorang, tubuh kecilnya terjatuh. Meira mendongkak. “Meira?” Seorang pria dewasa yang belum pernah Meira temui, muncul di hadapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN