Bab 24

1798 Kata
Dirasa pekerjaannya bisa dihandle, Haris datang ke rumah Gelano. Berniat bertemu dengan putri Gresia. Setidaknya jika Gresia sudah tidak bisa lagi dia temui ada putrinya yang menggantikan. Sudah beberapa hari setelah dia mendapat kabar dari Gelano mengenai kematian Gresia, tapi kesibukannya membuat dia tidak bisa bergerak kemana-mana. Tetap stuck di kantor, dari pagi sampai malam hari. Di tangannya sudah ada boneka teddy bear berwarna pink dan cokelat sebagai hadiah perkenalan. Gresia sangat cantik dan baik, pasti putrinya juga tidak berbeda jauh. Dia sadar betapa menyakitkan menjadi Gelano. Bertahun-tahun pria itu berusaha mencari keberadaan Gresia, sekali tahu keberadaan Gresia, Gresia pergi lagi. Pergi untuk selama-lamanya, ke sisi Tuhan. Seketika Haris si pria humoris dan blak-blakan ini menjadi pria paling cengeng. Kabar kematian Gresia amat sangat mendadak. Berhasil mengambil alih seluruh pemikiran di benaknya. Pekerjaan yang penuntut untuk dikerjaan kisruh. Dia ingin pergi ke makam Gresia. Meminta maaf di depan makamnya. Andai waktu itu dia tidak mengikhlaskan Gresia untuk Gelano, pasti kejadiannya tak mungkin seperti ini. Sambil menyetir, Haris mencari-cari nama kontak seseorang kemudian langsung meneleponnya. “Halo Tante Permata,” sapa Haris seraya menyimpan handphone di horder. Lewat headset yang sudah terpasang di telinga dia mendengar suara Permata dari sana. “Halo Nak Haris. Apa kabar, kamu baik ‘kan? Kapan kamu mampir ke sini?” “Alhamdulillah kabar baik, Tan. Iya Tan, Haris ke sana mau ketemu sama cucu Tante.” “Ah, begitu. Cucu Tante lagi sekolah, kebetulan banget Tante lagi butuh bantuan. Mendadak Tante ada urusan penting, kalau kamu enggak keberatan nih kamu bisa jemput Meira? Sekitar 10 menitan lagi Meira keluar.” “Iya Tan, Haris bisa kok jemput Meira sekarang. Tante bisa langsung share lokasi tempat cucu Tante sekolah, dan sekalian sama fotonya karena Haris enggak tahu muka cucu Tante.” “Enggak keberatan Ris?” Nada suara Permata berubah menjadi canggung. “Enggak sama sekali, Tan. Malah Harus seneng bisa ketemu sama cucu Tante.” “Alhamdulillah kalau gitu. Tante langsung kirim lokasi ya, Ris. Sekalian sama fotonya. Nanti bilang, kamu disuru sama Oma. Makasih banyak ya, Haris. Tante tutup panggilannya.” Tut! Panggilan terputus. Beralih ke room chat Permata. Di sana sudah terkirim lokasi dan sebuah foto gadis berusia 4 tahunan. Haris menekan lokasi itu dan langsung masuk ke GPS, mengarahkan jalan menuju TK Mutiara Islam Terpadu. Sesekali Haris melihat foto putri Gresia. Di sana ada foto seorang gadis sedang tersenyum lebar memakai gamis lebar dengan hijab panjang. Kedua sudut bibir Haris terangkat, membentuk senyuman bahagia. Putri Gresia condong ke Gelano. Namun senyuman itu milik Gresia. Gresia .... Betapa Haris merindukan Gresia. Sosok wanita istimewa yang sampai detik ini sulit dilupakan. Sekitar 10 menit perjalanan, tibalah Haris di sebuah Taman Kanak-kanak (TK) mewah berbasis Islami. Sudah telat 5 menit. Gadis kecil itu pasti sedang gelisah karena neneknya tidak datang menjemput. Satu persatu murid dia perhatian. Matanya meneliti intens, tidak ingin kelewatan satu wajah pun. Masih ramai, itu artinya kemungkinan Meira masih ada di sini. Bruk! Tiba-tiba seorang gadis kecil menubruk tubuhnya. Salah Haris juga berjalan tidak melihat-lihat karena terlalu sibuk mencari seseorang. Gadis itu mendongkak perlahan. Matanya berair dan wajahnya sembab, gadis itu menangis dengan sangat deras. “Meira!” Ya, akhirnya Haris bisa menemukan sosok gadis kecil itu. Namun pertemuan ini begitu tidak menyenangkan. Gadis kecil itu menangis seraya menoleh ke belakang. Perlahan gadis itu memundurkan tubuhnya. Menatap Haris asing. Tangan kecilnya terulur mengusap air mata di pipi chubby-nya. “Si-siapa? Ke-kenapa O-Om kenal Mei?” gagap Mei ketakutan. Haris berjongkok, tersenyum sambil mengusap air mata Meira. “Ini Om Haris, Om kamu. Ayah kamu itu temen Om, Oma Permata yang nyuruh Om datang ke sini buat jemput kamu,” jelas Haris. Meira diam, menundukkan kepalanya. Tubuh gadis itu bergetar. “Sekarang Om tanya sama kamu, kenapa kamu menangis? Siapa yang buat kamu menangis? Temen kamu?” “Bukan,” jawab Meira sambil menggeleng lemah. “Sama siapa, nanti Om omelin orang yang udah buat putri secantik kamu ini nangis. Siapa? Ayo ngomong sama Om?” desak Haris. Menangkup pipi chuby menggunakan kedua tangannya. Meira yang menangis tapi hati Haris yang tersayat. Apa mungkin karena dia anak Gresia jadi dia tidak kuat melihat gadis itu menangis? “O-Om me-meleka ngatain Mei anak halam. Tapi Mei gak papa, kalena Mei udah kebal, tapi Mei gak akan telima kalau Mama yang dikata-katain. Mei sedih, Mama bukan jalang. Itu kotol, enggak boleh disebut. Enggak boleh! Enggak boleh!” Cerita Meira, air mata keluar deras mengaliri pipinya. Tangan Haris mengepal. Memandang tajam ke arah pintu masuk bangunan besar ini. Anak sekecil ini harus mendengar kata-kata tidak baik? Diraihkan tangan mungil milik Meira, mendekap Meira erat-erat. Meira menangis kencang di pelukan Haris. Sungguh, Haris tidak bisa terus melihat Meira menangis. Dipertemuan pertama yang seharusnya dihadirkan kebahagiaan, malah sebaliknya. “Om, salah Mei apa? Apa salah Mei? Apa salah Mama? Kasian Mama udah tenang di sulga tapi meleka buat Mama enggak tenang. Katanya gala-gala Mei datang ke lumah Daddy, Daddy enggak mau nikah sama Tante Keyla,” Meira melanjutkan. Suaranya bergetar. Haris melepaskan pelukannya. Mengusap air mata Meira, terus mengusap sampai Meira berhenti mengeluarkan air mata. Hidungnya mengeluarkan cairan. Diambilnya sapu tangan di saku jas lalu mengeluarkan cairan yang ada di hidung gadis itu. “Mei, Mama, kalian berdua enggak salah. Mereka yang salah udah seenaknya ngomong. Dan soal Daddy Gelano yang enggak jadi nikah itu bukan karena kamu sayang, Daddy memang sebetulnya tidak mencintai Tante Keyla tapi Daddy kamu mencintai Mama Gresia. Saking cintanya, Daddy enggak bisa lupain Mama kamu, Mei. Daddy Gelano mau fokus jagain kamu,” tutur Haris menjelaskannya baik-baik, mendetail agar bisa dipahami oleh Meira. Soal Gelano tidak jadi menikahi Keyla, Haris baru mengetahui hal itu. Entah siapa yang mengatakan kata-kata itu, jika yang mengatakannya adalah orang dewasa maka orang itu tidak waras. Anak sekecil ini tidak bisa mendengar kata-kata menyakitkan. “Kurang ajar,” maki Haris dalam hati. “Daddy cinta sama Mama?” tanya Meira dibalas anggukan oleh Haris, “Mama juga cinta sama Daddy. O-Om pelcaya Mei anak halam?” “Shtt, kamu enggak boleh ngomong itu. Sama sekali enggak boleh. Nanti kalau kamu ngomong lagi Om marah sama kamu,” ancam Haris seraya mencolek hidung Meira. Meira mengangguk. “Daddy juga malah kalau Mei ngomong itu.” “Nah! Berarti kamu enggak boleh lagi ngomong itu. Meira itu putri cantik. Janji gak ngomong itu lagi?” Haris mengacungkan jari kelingkingnya. Ragu-ragu Meira jari kelingking Meira menggaet jari kelingking Haris. “Janji.” “Sekarang senyum!” perintah Haris dan Meira pun mengikuti perintah Haris, gadis itu tersenyum lebar. “Bagus! Ayo kita pulang, Om ada hadiah buat kamu. Kamu pasti suka sama hadiahnya.” Haris menggendong Meira, berjalan menuju mobil. Sebentar saja .... Sebentar saja Haris ingin menggertak siapa pun yang sudah bicara asal tentang Gresia dan juga putrinya. Tidak boleh ada yang menghina mereka. Telinganya akan menjadi sensitif, mendengar ada orang yang berbicara buruk. Setelah sampai di dalam mobil, Haris tidak ikut masuk. “Ini, buat kamu.” Diserahkannya paper bag berukuran sedang ke Meira. Dengan senang hati Meira menerimanya. Wajah sedih itu berubah menjadi wajah bahagia dalam sekejap mata. “Wah makasih Om!” seru Meira, mengeluarkan boneka teddy bear berwarna pink dari paper bag. Memeluk erat boneka itu sampai boneka itu mengkerut. “Mei suka!” “Sebentar ya Mei. Om mau beli minuman dulu buat kamu. Kamu di sini aja ya, jangan kemana-mana. Om Cuma pergi sebentar.” Meira mengangguk, lantas Haris pergi masuk ke dalam bangunan itu. Kemarahan yang menggebu-gebu mereda karena Meira. Kakinya melangkah cepat mencari-cari siapa gerangan yang sudah berani berbicara seperti itu di depan Meira. Permata bilang ini hari pertama Meira masuk ke TK. Seharusnya Meira mendapatkan kesan baik dihari pertama masuk TK. Namun siapa manusia biadab itu. Teganya mereka menyakiti gadis sekecil Meira. Mustahil Haris bisa menemukan keberadaan mereka. Dimana kelas Meira saja Haris tidak tahu, bagaimana dia bisa mengetahui siapa yang sudah berbicara asal tentang Gresia dan Meira. Seketika langkahnya terhenti, sayup-sayup dia bisa mendengar nama ‘Gelano’ disebut-sebut. Haris menghentikan langkahnya, mengintip di balik dinding. Perkumpulan wali murid ternyata. Apa mulut-mulut mereka yang sudah menyakiti hati Meira? “Tadi anaknya nangis kejer, nanti ngadu ke Pak Gelano gimana?” Benar. Tepat sasaran! “Kita emang salah? Toh emang bener, dia anak haram ‘kan? Dia anak yang lahir diluar nikah, disebut apa dong? Anak jalang? Masih mending saya sebut anak haram. Dia aja lebay.” Wanita paruh baya berambut sebahu itu tertawa lucu, ditimbrungi oleh yang lainnya. “Anak jalang juga enggak masalah sih, toh emang bener? Ibunya jalang?” timpal seseorang. Kemarahan yang sempat padam tadi kini meledak-ledak. Mendengar dari bibir Meira saja Haris marah apalagi mendengarnya secara langsung? Kedua tangannya mengepal, membanting kepalan tangan tersebut ke jendela kaca. Brak! Beruntung sekali jendela kaca tidak pecah. Kekuatan bantingan tangan Haris sangat kuat. Meski tidak pecah, bantingan tersebut membuat suara kencang. Sontak saja para ibu-ibu tadi menoleh ke sumber suara. Alangkah terkejutnya mereka mendapati seorang pria dijarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Wajah pria itu memerah, tangannya mengepal masih menempel di jendela kaca. Sudah bisa dipastikan pukulan kencang tadi disebabkan oleh pria itu. “Jalang?!” Haris berjalan mendekati sekumpulan ibu-ibu itu. “Coba Bu, saya mau denger sekali lagi. Saya mau rekam, kalau misal saya pengen marah saya tinggal liat video itu lagi.” “Maksud kamu apa ya? Kenapa kamu tiba-tiba mengamuk? Memangnya ada hubungan apa anak itu sama kamu? Apa jangan-jangan kamu ayah sebenarnya? Terus—“ Haris menepuk mulut wanita berambut sebahu. Ibu-ibu lain menutup mulut kaget sekaligus takut. “Jangan bicara asal Anda. Seharusnya Anda ngaca! Meira itu anak sah Gelano, Gelano dan ibu Meira sudah menikah dan sah secara agama!” jelas Haris berbohong. Di sini Gresia tidak salah, Meira juga tidak salah, yang salah di sini adalah Gelano. Namun Haris tidak ingin menunjukkan keburukan Gelano, jadi dia memilih berbohong. “Coba bayangkan, anak kalian ada di posisi Meira dan orang lain mengatainya dengan sebutan tak pantas? Kalian ingin merusak mentalnya? Sialan. Beruntung kalian wanita, saya jadi tidak bisa menghajar kalian semua.” “Kenapa kamu sangat marah? Memangnya kamu siapanya anak itu?” “Saya Om-nya puas? Semoga anak kalian akan bernasib lebih buruk dari kehidupan Meira. Lebih, lebih buruk! Jika Tuhan tidak bisa mengabulkan permintaan saya maka saya sendiri yang akan buat anak kalian bernasib jauh lebih buruk dari Meira,” pungkas Haris lantas pergi meninggalkan mereka. Adakah yang mendengar pepatah? Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti? Tidak selamanya orang jahat akan menjadi jahat dan begitu juga orang baik tidak akan selamanya menjadi baik. Sama seperti Haris, dia tipe penyayang, baik, humoris dan apa adanya tapi saat ada yang menyakitinya sengaja atau tidak, dia bisa lebih jahat dari orang jahat. “Sialan! Sialan!” maki Haris memukuli dinding bangunan, “toxic banget sekolah ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN