Bab 25

1656 Kata
Sebelum Haris pergi menemui Meira terlebih dahulu Haris pergi ke kamar mandi, membasuh wajah dan rambut. Kedua tangan dia tumpu di wastafel. Netranya tertuju pada dirinya sendiri di pantulan cermin. Sudah lima menit lamanya Haris ada di kamar mandi. Membasuh wajah sampai beberapa kali. Menormalkan kembali pernafasannya, menarik dan mengembuskan nafas—dilakukan secara berkali-kali. “Gue belum pernah semarah ini. Ayo, Haris lo paling bisa ngendaliin kemarahan orang lain tapi lo b**o ngendaliin kemarahan lo sendiri,” ujar Haris. Menundukkan kepalanya sejenak, mengambil nafas dalam-dalam kemudian dia embuskan secara perlahan. Masa kecil Meira harus diisi kebahagiaan. Gadis itu sudah cukup menderita dengan tinggal di lingkungan luar yang dia tidak tahu apakah dunia itu baik. Apakah gadis itu makan dengan benar? Apakah mental gadis itu baik-baik saja? Usia semuda itu rentan melupakan ucapan dan kejadian apa pun, tetapi diusia itu juga kadang ada sebagian yang akan selalu diingat sampai usia beranjak dewasa. Dirasa emosinya membaik, Haris melenggang pergi meninggalkan kamar mandi menuju parkiran. Kakinya melangkah cepat. Khawatir akan terjadi sesuatu pada Meira. Ketika mobil dibuka, dia melihat Meira sedang belajar membaca ditemani boneka teddy bear pemberiannya. Susah payah dia mengendalikan emosi, ternyata akan lebih membaik lagi jika dia melihat keimutan dari anak orang yang dicintainya. Gadis kecil itu mendongkak. “Om dali mana aja? Kok lama?” Seraya masuk ke dalam mobil Haris menjawab, “Om kebelet BAB jadi lama, maaf ya Mei.” Haris menarik seatbelt Meira lalu beralih menarik seatbelt-nya. Menyalakan mesin dan menjalankannya keluar dari area Taman Kanak-kanak. Tidak sadar kalau sedari tadi Meira mengernyit kebingungan. “BAB itu apa?” “Buang air besar,” jawab Haris melirik sekilas Meira. Meira mengangguk-angguk mengerti. “Ee?” Haris tertawa. Lihatlah Meira, betapa polosnya gadis kecil itu. “Iya sayang, ee.” “Kenapa Om ketawa? Ada yang lucu?” “Om ketawa karena keinget sesuatu.” Lagi, Meira mengangguk-angguk. “Mei jadi keinget Mama, Mei suka banget minta ini itu sama Mama. Misalnya, ‘Ma, Mei mau ee.’ Telus. ‘Ma! Mei mau makan, pelut kecil Mei butuh bensin.’ Telus—“ Mulut Mei masih terbuka. Namun Haris memotongnya, “kamu minum bensin?” Nada Haris bercanda. Sudah tahu jawabannya apa, tapi melihat Meira marah karena kesal sangat menyenangkan. Gaya bicara Meira begitu energic. Si pendengar yang tadinya menahan marah nyaris mengamuk dan membakar sekolah, dalam waktu singkat amarah meledak itu surut. Meira melotot, bibir mungil itu sedikit dimajukan tanda merajuk. “Bukan Om, maksudnya makan nasi. Mei nyebutnya bensin, karena motol kalau dipakein bensin bisa jalan kemana-mana. Dan Mei butuh makan nasi, biar Mei bisa main lari-lari. Abis tu Mama malah ‘Mei! Udah sole, gak boleh lali-lali’ sambil begini nih Om.” Meira memeragakan Gresia marah. Mengangkat jari telunjuknya, digoyang-goyangkan. Sebelah tangannya berkacak pinggang. “Mama Gres baik?” tanya Haris, tidak bisa berhenti tersenyum. Andaipun Gelano tidak mau mengurusi gadis kecil itu, biarkan dia yang mengurusnya. Oke Haris, lanjutkan mimpimu. Sangat cepat, Meira mengangguk. “Jangan ditanya!” Marah Mei, berkacak pinggang. “Mama olang telbaaaik nomol satu!” Gadis itu menunjukkan nomor satu menggunakan telunjuknya. “Daddy telbaik nomor dua.” Meira menambah satu jarinya, dan menambah lagi menjadi tiga. “Oma telbaiik nomol tiga.” “Oma baik?” “Jangan ditanya!” Marah Meira lagi, mengeluarkan ekspresi sama seperti tadi. “Omaa baaaik banget sama Mei, dia suka ajak Mei ke mall, belin Mei es krim, beliin Mei cokelat diem-diem karena Daddy gak bolehin Mei makan cokelat. Tapi cokelat enak! Makasih ya Om cokelatnya, boleh Mei makan?” Dia mengacungkan sebatang cokelat yang sudah dibuka cangkangnya. “Boleh, makan sebelum sampe rumah. Nanti Daddy kamu ngamuk.” Meira mengangguk segera memakan cokelatnya. Mata gadis itu berbinar tatkala menggigit cokelatnya. Mengunyah kemudian menelan. Haris menutup mulutnya, lebih tepatnya menutup mulut untuk menyembunyikan tawa. Dia tidak tahu ternyata anak kecil semenggemaskan ini. Haris tidak sabar menikah, dan mempunyai anak seimut dan sepintar Meira. “Tau gak Om, Daddy kalau malah Cuma diem natap Mei telus bilang, ‘Meila Gessi Aditchandla?’ gitu, Meila tau kalau Daddy udah diem telus manggil nama lengkap Mei pasti malah. Cuma malahnya enggak malah.” Kunyahan cokelat di mulut Meira ditelan lantas menggigit kembali cokelatnya. “Maksudnya gimana? Marah kok enggak marah.” “Ya Daddy kalau malah Cuma begitu, paling nasihatin Mei panjang lebal. Enggak malah-malah lagi, sualanya tenang banget milip Mama,” sahut Meira. Beberapa saat kemudian gadis itu berdecak sebal karena cokelatnya habis. “Cokelatnya habis, padahal Mei mau nyimpen dilumah, makan diem-diem. Nanti gigi Mei bolong enggak ya Om? Nanti kalau bolong gimana? Daddy nanti malah.” “Gak papa, nanti Om beliin lagi. Kamu makannya diam-diam, kalau ketauan bilang ‘dari Om Haris’ gitu ya.” Sampai Gelano tahu anaknya sering dibelikan cokelat olehnya, Gelano akan mengamuk. “Nanti Om yang dimalahin Daddy.” “Enggak bakal. Nah sampe rumah!” Mobil Haris terparkir di halaman rumah Permata. Haris turun terlebih dahulu, membukakan pintu Meira. Gadis itu sedang kesusahan membuka seatbelt. Tanpa berpikir panjang Haris langsung melepaskan seatbelt Meira kemudian menggendongnya masuk ke dalam rumah. Rumah ini tampak sangat sepi. Celingak-celinguk memerhatikan seisi rumah. Namun tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini selain maid yang bekerja. Seorang maid berjalan terseok-seok ke arahnya. Wanita yang lebih muda dari Haris menunduk hormat. “Tuan Haris, Nyonya Permata dan Nyonya Keyla sedang pergi keluar. Mereka pergi secara terpisah,” jelas wanita itu memberitahu. “Tante Permata kemana?” “Nyonya Permata sedang ada pertemuan penting bersama Jendral besar,” jawab wanita itu, “Tuan dan Nona Meira mau diambil minuman apa? Atau makanan ringan? Nona Meira suka brownies cokelat.” “Jus jeruk boleh, sama browniesnya buat Meira. Terima kasih.” “Baik, saya akan bawakan. Saya izin undur diri.” Wanita itu menundukkan kepalanya, lantas berbalik dan pergi. Haris menurunkan Meira di sofa. Di rumah ini kosong, Keyla tidak ada begitu juga dengan Permata. Mau tidak mau dia harus menemani Meira sampai Permata pulang. Bukan masalah dia menunggu, seharian pun dia siap jika bersama Meira akan tetapi dia gatal sekali ingin menemui Gelano secara langsung. Sekolah yang Gelano pilih tidak baik untuk Meira. Dia tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali. Bisa jadi mental Meira rusak karena tuduhan itu. Sekali lagi, anak tidak bersalah. Tidak pantas dijuluki hal-hal yang tidak pantas. Kalaupun ada, julukan itu diberikan untuk Gelano. “Jendlal besal itu apa Om?” tanya Meira. Jemarinya mengusap-usap boneka teddy bear. “Jendral besar itu diibaratin Big Bos. Atasannya bos, kaya Daddy kamu.” “Hm .... Big Boss? Daddy bos besar? Bos apa emang?” tanya Meira. “Gini, misal di kelas kamu ada ketua nah atasannya ketua itu guru, nah atasan guru ada lagi kepala sekolah. Nah kepala sekolah, Big Bos. Begitu Meira sayang,” jelas Haris mengibaratkan ‘big boss’. Ingin mencontoh dirinya sendiri, tapi disangka sombong nanti. “Oh, Daddy Big Boss ya? Belalti Daddy juga jendlal besal dong?” Anak Gresia ini menggemaskan sekaligus menyebalkan. Tangannya gatal sekali ingin mencubit kedua pipi chubby Meira. Pandangan bertanya dilayangkan ke Haris. Kelopak mata Meira mengerjap-ngerjap, siap menunggu respons dari Haris. Berbeda dengan Haris yang sedang berusaha merangkai kata-kata agar putri kecil ini mengerti. Maid datang meletakkan dua gelas jus jeruk dan sepiring kecil brownies cokelat ke meja. Pandangan Meira teralih ke browinies cokelat sebentar, lalu tersenyum pada maid itu sambil mengucapkan terima kasih. Meira meraih tangan maid itu kemudian menciumnya. Sontak saja Haris dan maid itu kaget. “Mei, apa yang kamu lakukan?” tanya Haris terkaget-kaget. Menatap maid itu sekilas dan kembali menatap Meira. Meira menepuk keningnya. “Mei lupa, kalau cium tangan itu pas mau berangkat sama pulang. Kalau ucapin terima kasih,” Meira menggantung ucapannya, dia naik ke atas sofa. Menyuruh maid itu sedikit mendekat dan— Cup! Meira mengecup pipi maid itu. Semakin kaget saja maid itu. “A-apa yang Non lakukan?” “Namanya Mei bukan Non! Mei Tante, Mei, Meila,” dengkus Meira, “Mei suka cium pipi Mama kalau mau ucapin terima kasih.” Gadis itu turun, duduk kembali di sofa. Lewat tatapan Haris menyuruh maid itu pergi. Mengerti, maid itu langsung pergi dari sana. Haris memijat keningnya. Rasa panik akibat Meira yang tiba-tiba naik ke atas sofa dia hilangkan. “Tapi Mei, dia bukan mama kamu. Enggak boleh! Kecuali sama Daddy Gelano, Oma, sama Om.” “Kok enggak boleh? Kenapa?” “Hanya orang yang Mei anggap spesial aja yang boleh Mei cium. Dan Om harap kamu anggap Om spesial.” *** Seperti preman pasar yang hendak memalak Haris masuk ke kantor perusahaan Gelano. Berdebat dengan receptionis karena tidak diizinkan masuk. Alhasil Haris harus membuat janji temu terlebih dahulu lewat telepon yang dia pinjam di meja receptionis. Siapa yang tidak mengenal Haris? Tidak, Haris tidak dikenal. Lagi pula siapa dirinya yang akan dikenal semua orang. Di hari dia membabi buta Gelano, dia menyelinap masuk tanpa izin terlebih dahulu. Menyelinap layaknya penyusup yang ingin membobol data-data perusahaan. Brak! Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Haris masuk ke ruangan Gelano. Di sana Gelano sedang duduk sambil menatap layar komputer. Suara ketukan layar keyboard terdengar cepat dan keras, menandakan Gelano tidak ingin diganggu lantaran banyak pekerjaan. Haris duduk tenang di kursi, berhadapan dengan Gelano. Pria itu menyadari kehadirannya tapi tetap fokus pada pekerjaan. Terlalu mendesak hingga waktu yang dipakai Haris untuk menemui Gelano tidaklah tepat. “Ada apa? Kenapa lo tiba-tiba Dateng ke sini? Mau nonjokin gue lagi setelah denger kematian Gresia?” tanya Gelano disela-sela mengerjakan pekerjaannya. Kacamata anti radiasi berbentuk bulat bertengger di hidungnya. Hanya bersama Haris dia berbicara santai menggunakan ‘lo-gue’ meski begitu, terdengar dipaksakan karena Gelano tidak pernah memakai aksen ‘lo-gue’ selain ke sahabatnya. “Bro, gue enggak mau bahas tentang Gresia. Dia udah tenang di alam sana, ngapain gue nonjokin lo lain toh enggak bakal guna. Nanti lo makin nyalahin diri lo sendiri,” balas Haris. “Terus lo mau ngapain?” Gelano menatap Haris intens, meninggalkan pekerjaannya. “Gue mau lo pindahin Meira ke sekolah lain."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN