Bab 26

1762 Kata
Bangunannya oke, sistem belajarnya oke, gurunya oke, semuanya oke kecuali mulut-mulut j*****m para wali murid. Suatu ketika Haris diingatkan kembali dengan suatu kebenaran bahwa siapa pun itu entah Gelano atau dirinya sendiri tidak bisa full menghentikan gosip mengenai anak Gelano. Akan bisa mendapatkan cap buruk dari masyarakat. Bagaimana tidak? Gelano tidak pernah menikah dan akan segera menikah, tapi tiba-tiba Gelano dikabarkan memiliki anak yang sudah sebesar ini. Pandangan masyarakat pada Gelano sangat baik, sialnya masyarakat menyalahkan Gresia atas ketidaksengajaan ini. “Gue mau lo pindahin Meira ke sekolah lain!” tegas Haris tanpa ingin dibantah. Masih banyak sekolah lain yang juga lebih bagus dari sekolah sebelumnya. Nanti dia sendiri yang akan mencarikan sekolah terbaik untuk Meira. Gelano bersedekap d**a. Memerhatikan kekonyolan sahabatnya dengan intens. Merasa ada yang janggal pada diri Haris. Pria itu seolah ingin meludahi wajahnya. “Kenapa lo dateng-dateng minta gue mindahin Meira ke sekolah sedangkan lo sendiri belum ketemu sama Meira?” tanya Gelano, langsung mengangkat tangan kala mulut Haris terbuka hendak berdebat. Lantas Gelano melanjutkan, “asal lo tahu aja Muhammad Haris, ini adalah hari pertama Meira masuk. Kalau lo marah gue sekolahin anak dari orang yang lo cintai sekolah di sekolah pilihan gue, coba lo teliti lagi deh. Lihat dari segala aspek, mulai dari cara mengajar, bangunan, kelas, semuanya. Coba semuanya lo perhatiin.” Gelano berbicara panjang lebar berusaha membuat sahabatnya mengerti. Namun bukannya mengerti, Haris malah semakin ingin meludahi wajahnya. Terlihat Haris sedang mengontrol kemarahannya. Mengusap-usap dadanya pelan lalu menjatuhkan kedua tangannya di meja Gelano sampai membuat sedikit suara gebrakan. “Gini Gelano Ardeno Aditchandra, pertama gue tahu TK itu TK bagus! TK terbaik di kota ini. TK yang juga mengajarkan hal-hal islami! Oke, gue acungi jempol karena lo pilihin TK itu, tapi ...,” terangnya menggantung, “tapi lo bisa enggak bungkam itu mulut-mulut s*alan? Bisa enggak?” “Apa sih?” Bingung Gelano. “Gue tanya lo bisa enggak?!” Nada suara Haris naik dua oktaf. “Ya apa b*doh?!” Gelano menyamakan nada suara Haris, bahkan lebih tinggi daripada suara Haris. “Tadi gue mau ke rumah lo, ternyata Meira masuk TK hari ini. Kebetulan Tante Permata enggak bisa jemput karena harus ketemu Jendral Besar, jadi Tante Permata minta tolong sama gue buat jemput dia. Sampai di sana gue nabrak anak kecil, dia nangis-nangis ternyata itu Meir—“ “Meira nangis?! Kenapa? Kenapa Meira nangis?” potong Gelano bertanya. Khawatir dengan kondisi putrinya, semakin penasaran kenapa Meira menangis. Apa mungkin gadis kecil itu teringat ibunya? “Dia bilang, dia dikata-katain ‘anak haram’ tapi hal yang buat dia nangis bukan itu. Kata dia, dia udah kebal sama itu. Hal yang buat dia nangis ... Mamanya dikatai J*lang sama mereka,” balas Haris sedih. Mengatakan itu serasa sangat berdosa. Brak! Gelano menggebrak meja dengan begitu kencang. Seluruh barang yang ada di meja seketika terangkat karena gebrakan yang begitu besar. Rahangnya mengeras tatkala mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang tidak boleh terucap dan didengar oleh anak sekecil Meira. Ingin dia pergi ke TK Meira, melihat seberani apa orang-orang itu mengatai putrinya. Akan jauh lebih baik jika dia yang dipandang buruk, bukan Meira apalagi Gresia. “Siapa? Siapa yang udah ngomong gitu ke anak gue? Siapa Ris? Siapa?!” bentak Gelano. Wajahnya sudah memerah karena marah. Kedua tangannya mengepal kuat, bersiap menghajar siapa pun. Mereka tidak mengetahui seberapa keras sifatnya. Siapa pun orang yang menyakiti putrinya, entah batin atau fisik, dia akan maju lebih dulu. Ayah protektif? Masa bodo, Gelano tidak memedulikan akan dicap sebagai ayah protektif kepada anaknya. Selagi tidak ada lagi orang yang menghina Gresia dan putrinya, dia akan melakukan apapun. Termasuk dirinya yang akan marah ketika ada orang lain menghina ibunya, sama seperti Meira yang sangat marah dan sedih ketika orang lain mengatakan kata tidak pantas yang ditunjukkan untuk Gresia. “Gue penasaran sama orang yang udah ngomong itu ke Meira, jadi gue masuk ke dalam dan cari. Gue emang belum tahu siapa yang udah ngomong itu, tapi Allah kayaknya sayang banget sama Meira jadi gue nemu itu ibu-ibu laknat. Kebetulan mereka juga lagi ngomong tentang Gresia, lo, Meira dan juga Keyla. Ah, gue berharap yang ngomong cowok Lan, biar bisa gue pukul,” imbuh Haris seraya menjambak rambutnya. Kedua pria yang terbakar emosi, lebih-lebih terbakar adalah Gelano. Cerita Haris adalah api, dan Gelano adalah bensin. Bensin diberikan sedikit percikan api sudah terbakar. Gelano mengambil air mineral, menegaknya sampai habis. Cara minum Gelano begitu berantakan. Air di gelas itu tidak full masuk ke dalam kerongkongannya melainkan berceceran ke kemeja yang sedang Gelano pakai. Dibuka jas kemudian dilemparnya ke sofa. “Gue enggak nyangka bakal kayak gini,” lirih Gelano menjatuhkan tubuhnya ke kursi, “dia nangis?” Gelano bertanya dibalas anggukan oleh Haris. “Dia nangis, senangis-nangisnya. Baru pertama kali gue lihat tangisan anak kecil yang buat jiwa gue gemetaran.” Benar, tipe Haris yang tidak akan mudah sakit hati tiba-tiba merasakan sakit hati yang teramat luar biasa hanya dengan mendengar cerita Meira. “Pertama kali gue lihat dia lagi nangis, Ris. Dia nangis sambil meluk jenazah Gresia. Gue enggak bisa lihat Meira nangis. Dihari gue tahu Meira itu putri gue, gue janji enggak akan biarin Meira nangis. Tapi ... baru pertama dia masuk TK, dia nangis,” kata Gelano sedih. Suara keras Gelano berubah menjadi lirih. Semenjak kehilangan Gresia dia menjadi emosional. Kadang sangat marah, marah sekali dan kadang juga sangat sedih, sedih sekali. Merasa bersalah telah membuat Meira bersedih. “Gue saranin lo pindahin Meira ke TK baru. Gue bisa cariin TK bagus. Gue punya temen, dia guru TK. Dia bisa jagain Meira di sana, kalau lo mau gue bisa hubungin dia dan jelasin sistem belajar dan bangunannya,” saran Haris, disetujui langsung oleh Gelano. “Tapi gue mau nanya dulu ke Meira. Takutnya dia ga—” “Ngapain sih lo mikirin pendapat Meira dulu. Langsung bilang aja kalau dia pindah, apa susahnya. Lingkungan di sana terlalu toxic Lan. Meira mungkin akan nolak karena, think it's normal. Dia akan berpikir untuk bertahan, dan mencoba hidup menyesuaikan sama lingkungan itu. Sama seperti lingkungan sebelumnya,” potong Haris tegas. Pasalnya Gelano ingin memberikan Meira pendapat. Dia yakin gadis itu akan tetap bertahan di TK itu. “Gue bujuk dulu, Meira anak baik dia bakal ikutin kemauan gue.” Haris tertawa meremehkan. “That's sure, Bro?" “Of course." “Bujuk sana, sampai gue denger Meira masih ada di tempat itu gue yang akan bawa Meira masuk ke TK baru,” ancam Haris, menunjuk Gelano serius. “Lo ayahnya.” “Ya, gue ayahnya. Kalau lo mau buang Meira, buang aja ke gue ya. Gue bakal bahagian Mei—“ “Wake up, Dude. Menikah sana dan buat anak sendiri.” *** Perlahan Gelano mengetuk pintu kamar berwarna putih bertuliskan ‘Meira Rooms’. Terukir indah nama Meira di sana, tulisan tersebut terletak setara dengan dagunya. Baru kemarin dia menyuruh orang mengukir nama Meira di sana serta sedikit merenovasi kamar agar sesuai dengan minat Meira. Gadis itu tidak meminta apa pun, dia sendiri yang memaksa Meira. “Ini Daddy sayang. Kamu ada di dalam?” tanya Gelano lembut. Nyatanya Gelano sudah tahu sekali Meira ada di dalam. Suara Meira terdengar sampai keluar. Tampaknya gadis itu sedang mempelajari sesuatu. “Iya Daddy Mei ada di dalam, Daddy masuk sini!” jawab Meira setengah berteriak sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya. Suara aktivitas Meira terdengar sampai luar. Dibukanya pintu, terlihat Meira sedang mempelajari sesuatu. Mengeja satu persatu huruf di buku cerita nabi yang Permata beli. Dibuka itu terdapat ilustrasi. Tanpa membaca saja bisa dimengerti keajaiban apa yang terjadi di dalamnya. Pandangan Meira fokus ke buku hard cover. Membaca sesekali melihat ilustrasi yang digambarkan. Tanpa mengganggu, Gelano duduk di atas karpet berhadapan dengan Meira. Meja lipat digunakan untuk menyimpan buku serta menumpu tangan kecil Meira. “Lagi sibuk ya? Apa Daddy ganggu kamu?” tanya Gelano. Betapa lembut dia bicara pada putrinya. Meira menggeleng, matanya masih sibuk meneliti isi bacaan. “Daddy, Mei enggak sibuk. Besok ada tugas, Mei suluh ceritain singkat kisah nabi Ayub alaihi salam. Dali tadi Mei belajal, temen-temen Mei pada malah-malah katanya gak bisa. Mei langsung tau, kalena Mama seling celitain kisah nabi. Daddy mau dengel?” “Mau, Daddy mau denger!” seru Gelano. Paling suka ketika Meira sedang bercerita. Selain fokus ke ceritanya, dia juga sangat menyukai Meira berbicara panjang lebar. Menggemaskan. “Pada suatu hali.” Meira membentangkan sebelah tangannya. Bercerita dengan sangat antusias. “Nabi Ayub alaihi salam menikah dengan seolang istli yang cantik jelita dan Sholehah. Mereka dikaluniai 12 putra. Nabi Ayub kayaaa banget lebih dari Daddy, Nabi Ayub dikasih banyak nikmat dari Allah. Telus, suatu ketika nabi Ayub dibeli cobaan belupa penyakit menulal. Nabi Ayub kena penyakit kulit dan lambutnya juga lontok.” Gelano mendengarkannya dengan saksama. Meira mengambil nafas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan. “Kabal ini ketauan sama seluluh negli, Nabi Ayub suluh istli dan anak-anaknya pergi tapi mereka enggak mau. Meila mau nangis kalau dengel celitanya Nabi Ayub. Dia sabal banget, dia tetep beldoa walau ditimpa ujian berkali-kali. Nabi Ayub sampai jatuh miskin dan dijauhi sama olang-olang. Anak-anaknya meninggal karena ketiban atap lumah.” Gadis itu menutup matanya. Mata gadis itu berkaca-kaca. “18 belas tahun Nabi Ayub diuji sama Allah, tapi Nabi Ayub tetep sabal dan tetep beldoa sama Allah. Nabi Ayub beluntung punya istli yang setia, dalam keadaan apapun istli Nabi Ayub tetap setia di sisi Nabi Ayub. Sampai akhilnya Nabi Ayub sembuh atas izin Allah.” Gelano menangkup tangan putrinya. Suara Meira bergetar, air mata Meira mengalir merasa tersentuh dengan cerita yang dibacakannya sendiri. Meira mengusap air matanya kasar lalu tersenyum lebar. “Nabi Ayub aja sabar ‘kan? Diuji 18 tahun sama Allah, Meila dapat ujian kecil aja langsung nangis. Setelah Mei tau kisah Nabi Ayub, Mei jadi lebih kuat. Mei mau jadi sabal kayak Nabi Ayub. Dua belas anak Nabi Ayub meninggal, tapi Nabi Ayub tetep sabal. Sementala Mei, Mei keilangan Mama udah sedih banget. Ngelasa Allah enggak adil dan enggak sayang sama Mei.” Berkali-kali Mei menghapus air matanya. Ditepikan meja lipat itu ke samping, meraih tangan Mei untuk masuk kedalam dekapan Gelano. “Shtt, Daddy tahu kamu anak yang kuat. Tapi Daddy enggak suka kamu sembunyiin kesedihan kamu sendirian. Mama kamu kalau liat kamu sedih nanti Mama nangis, sebaliknya kalau kamu senyum, Mama juga ikut senyum.” Dilepas pelukan itu. Tangannya terangkat menghapus air mata Meira. “Mei halus senyum ya?” “Iya, Mei harus senyum. Kesayangan Daddy harus senyum terus,” jawab Gelano memeluk Meira lagi. “Mei mau sabar kayak Nabi Ayub.” “Daddy sayang kamu Meira.” “Mei juga sayang banget sama Daddy.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN