Bab 19

1632 Kata
Tidakkah seorang berpikir bahwa manusia sering melakukan banyak kesalahan secara berulang. Entah sadar ataupun tidak, manusia sering melakukan itu. Tanpa disadari telah berbuat dosa. Seperti para koruptor yang sedikit demi sedikit menghabiskan uang rakyat, seperti para pembohong yang sering berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya dan seperti Gelano yang telah m*****i seorang wanita baik-baik. Ibarat kehidupan Gresia adalah kain putih tanpa bercak noda yang sudah diberikan noda hitam olehnya. Sebetulnya, hari itu, tidak ada orang gila lebih daripada dirinya sendiri. Dilakukan secara nyata tapi dia menganggapnya seolah mimpi. Lebih gila lagi ingin melakukannya lagi. Semua ini karena alkohol. Hari ini, esok dan seterusnya dia akan membenci alkohol berikut dirinya sendiri. Hari ini adalah hari kepulangannya. Datang sendirian, pulang bersama gadis kecil bernama Meira Gessi Aditchandra. Menyiapkan semua barang Meira untuk dibawa ke rumahnya. Hanya barang-barang penting, sisanya bisa dibeli diluar. Seperti pakaian yang sudah tidak layak pakai, Gelano tidak akan membiarkan putrinya memakai pakaian itu lagi. Sebelum itu Gelano bertanya terlebih dahulu, ‘dari siapa pakaian ini’ jika gadis itu menjawab ‘Mama Gresia’ maka dia akan membiarkan Meira membawa pulang, dan jika orang lain memberikannya Gelano akan menyobeknya. Srek! Suara baju disobek terdengar. Mata Meira berkaca-kaca. Dalam kemarahan Gelano berbuat apa yang dirasa benar tanpa memedulikan keadaan sekitar, keadaan putrinya sendiri. Gelano marah, mengetahui putrinya memakai pakaian bekas yang kumuh dari para tetangga. Namun apa daya? Semuanya sudah terjadi, dia tidak bisa melakukan apa pun selain menahan sesak. “Kamu mau lihat Daddy sobek semua baju kamu? Selain pemberian dari ibu kamu, Daddy enggak akan mengizinkan kamu membawa pakaian-pakaian itu!” tegas Gelano, bersiap merobek pakaian lagi tapi tangan mungil nan putih milik Meira menahannya. Meira menggeleng. “Daddy malu ya, Mei bawa pakaian itu ke rumah Daddy?” tuduh Meira sedih, memeluk erat dress berwarna baby pink pemberian dari ibunya. Salahkan! Gelano mengusap wajahnya gusar. Berbalik badan sebentar lalu tak lama badannya kembali berbalik. Menurunkan sedikit tubuhnya, menyamai tinggi badan Meira. Terjadi kesalahpahaman disini. Dia menginginkan yang terbaik untuk putrinya. Takut jika putrinya masih memakai pakaian bekas itu, Meira tidak bisa berteman di lingkungan sana. Bukannya berteman, putrinya akan menjadi bahan bullying. Cukup kali ini saja, hari ini, esok dan seterusnya tidak lagi. Manik mata berwarna cokelat gelap milik Meira berkaca. Ditangkup kedua pipi chubby mengunakan kedua tangan Gelano. Mengecup singkat seraya membenarkan rambut halus Meira. “Daddy enggak malu sayang, tapi Daddy mau yang terbaik buat kamu. Kamu tahu ‘kan? Bertahun-tahun Daddy enggak bisa lihat kamu, didik kamu, jadi seorang ayah buat kamu dan sekarang akhirnya setelah sekian lama Daddy bisa bertemu denganmu. Izinkan Daddy melakukannya untukmu, ya. Kamu cukup diam dan mengiyakan semua permintaan Daddy,” tutur Gelano lembut. Berbicara kepada Gresia saja tidak selembut ini. Hanya pada Meira, suara yang awalnya bernada tegas, kini berubah menjadi sangat lembut. Mirip seperti kapas. Gadis kecil itu mengangguk pelan. “Kamu mau ke tempat ini kapan? Misal sebulan sekali atau sebulan dua kali? Kapan pun Daddy akan mengantarkanmu ke sini,” sambungnya. Menggenggam tangan Meira. “Daddy, apa enggak bisa tinggal di sini aja? Nanti Mei bisa kapan aja dateng ke Mama. Kalau Mei sedih, Mei bahagia? Mei mau sama Mama,” pinta Meira bertanya. Begitu sedih nada yang tersirat. Menyentuh hati Gelano. Namun untuk kali ini Gelano tidak bisa menuruti permintaan Meira. “Maaf sayang, kali ini Daddy tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Tempat tinggal, tempat kerja, dan nenek kamu ada di sana. Nanti kamu bisa ketemu nenek kamu.” Nenek? “Dad, tapi Mei ini anak hal—“ Sebelum Meira mengatakan itu, lebih dulu Gelano membungkamnya. Kepala Gelano memanas, kemarahan di dalam dirinya menggebu-gebu. Lagi-lagi dia mendengar kata b*adab itu. Mengerikan sekali Meira mengakuinya, sebagai anak haram. Sedih sekali Gelano mendengarnya. “Daddy enggak mau lagi denger itu dari mulut kamu. Kamu anak paling spesial dan istimewa, kamu anak kesayangan Mama Gresia dan Daddy Gelano. Ngerti ‘kan sayang? Sekali lagi kamu ngomong itu di depan siapa pun, Daddy akan marah sama kamu.” Nasihat Gelano, mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk senyuman hangat. Meira mengangguk kemudian berhambur ke pelukan Gelano. “Makasih Dad.” “Daddy sayang kamu. Lebih dari hidup Daddy sendiri,” bisik Gelano. *** Meira berlarian memeluk satu persatu tetangganya. Mengucapkan salam perpisahan. Gadis itu tidak peduli pada siapa yang sudah menyakiti hatinya. Semuanya Meira peluk. Sementara Gelano memperhatikan semuanya dari jauh, sambil mengangkat semua barang-barang ke dalam mobil. Rumah ini adalah kenangan Gresia, maka dia akan membiarkan rumah ini tetap berdiri. Rumah sederhana bergaya klasik, di dalam rumah tersebut berisi dua kamar, satu kamar mandi, ruang tamu, dan dapur. Setelah selesai memasukkan barang-barang Meira ke dalam mobil, Gelano menghampiri Meira yang sedang memeluk seorang wanita paruh baya berjilbab hitam lebar. Meira menangis di dalam pelukan wanita itu. Tampaknya Meira sangat menyayangi wanita itu. Terlihat jelas bagaimana Meira memeluk wanita erat dan menangis. Gadis setangguh Meira menangis diperlukan orang lain. “Umi, Mei pamit ya. Nanti Mei seling-seling dateng ke sini. Jangan lupain Mei, Mei sayang Umi Vhifi!” ujar Meira menggunakan bahasa Sunda halus. Cairan bening masih mengaliri pipi chubby itu. Wanita paruh baya yang Meira panggil ‘Umi Vhifi’ itu mengusap air mata Meira. Mengecup kening Meira lalu mendekap Meira lagi. Wanita paruh baya itu menangis, lalu cepat-cepat menghapusnya. “Umi juga sayang sama kamu, Meira. Iya, Mei harus sering Dateng ke sini dan Umi enggak bakal lupain kamu.” Vhifi melepaskan pelukannya. Bangkit dari posisi bertumpu lutut karena menyamai tinggi Meira. Vhifi melempar senyum ke arah Gelano. “Teh, nanti Teteh juga main ke sana. Ini alamat dan nomor telepon saya.” Gelano berbicara seraya menyodorkan nomor yang berisikan alamat dan amplop berwarna cokelat berisi uang. Nominalnya cukup besar, terlihat dari ketebalan amplop itu. Meski ragu Vhifi mengambil amplop dan kartu nama. “Ini apa atuh, Lan?” Vhifi bertanya mengenai amplop yang dia pegang. Para tetangga yang memperhatikan aktivitas mereka pun penasaran. “Itu uang Teh, Teteh bisa beliin sembako buat dibagiin ke tetangga di sini. Seperempatnya buat Teteh. Kami pamit ya, kapan pun Teteh mau ngunjungi Meira saya persilakan dan sambut dengan baik,” jawab Gelano. Perihal soal anaknya, dia akan royal. Uang itu menurutnya masih kurang, membalas kebaikan mereka terutama Vhifi yang paling sibuk mengurusi jenazah mendiang Gresia. Vhifi melotot melihat begitu banyaknya uang yang dia pegang. Dia menggeleng, menyerahkan kembali amplop itu ke Gelano. Namun Gelano menolaknya tegas. “Saya enggak bisa nerima uang sebanyak ini. Lebih baik pakai uangnya untuk keperluan Mei,” tolak Vhifi bersikukuh memberikan uang itu pada Gelano. Seorang gadis remaja menyenggol lengan Vhifi. Diketahui wanita muda itu anak dari Vhifi. Sama seperti para tetangga, ada yang mendumel. “Teteh enggak perlu khawatirin soal Mei. Teteh pakai saja, dan bagikan pada tetangga lain,” kata Gelano, “kalau begitu, saya dan Meira pamit ya. Ayo sayang.” Gelano menggenggam tangan Meira, mengajaknya pulang. Sambil berjalan, tatapan Meira masih tertuju ke Vhifi. Vhifi melambaikan tangan, begitu juga dengan para tetangga lain ikut melambai tangan. Meira meneteskan air mata, terasa berat meninggalkan tempat ini dan ... Gresia, ibunya. Meira tersenyum lebar seraya melambai-lambai tangan sebelum Gelano membuka mobil dan membantu Meira masuk ke dalam mobil. Tidak lupa memasangkan seatbelt. Gelano tersenyum, menundukkan kepalanya singkat sebagai salam perpisahan. Memutari mobil lalu ikut masuk. “Daddy kacanya bisa dibuka?” pinta Meira dibalas anggukan oleh Gelano. Dia membuka otomatis kaca di sebelah Meira. Ketika kaca itu terbuka, Meira melambaikan tangannya lagi. Mobil Gelano menyala, berjalan meninggalkan perdesaan terpencil ini. Wajah Meira menjadi murung. Terpancar kesedihan di dalam matanya. Wajar, gadis itu baru saja kehilangan ibunya. Seorang yang menjadi kehidupan Meira dari kandungan sampai kemarin, sebelum Gresia meninggal. Gelano juga sangat-sangat merasakan sakit. Penyesalan Gelano dibawa sampai ke liang lahat. Tidak akan hilang sampai kapan pun, sampai dia meninggal nanti. Cintanya, dan ibu dari anaknya. “Apa cita-cita kamu, Mei?” Gelano bertanya, mencairkan suasana sedih. Sampai kapan Gelano akan bersedih, dan sampai kapan Meira akan selalu menyembunyikan kesedihannya? Gadis berusia empat tahun, begitu pandai menyembunyikan kesedihannya. Sempat dia berpikir, apakah Meira selalu menyembunyikan kesedihannya? Ujung telunjuk kanan dan kiri di ketuk. Meira bergumam pelan. Gumaman itu sangat pelan, Gelano tidak bisa mendengar suara Meira walau Gelano tahu Meira sedang memikirkan sesuatu. Gadis itu menatap Gelano. “Mei mau jadi doktel, Mei mau nolong banyak olang. Mei enggak bisa nolong Mama, tapi Mei mau nolong olang-olang. Kalau Mei jadi doktel, Mei enggak peduliin olang itu punya duit atau enggak, Mei enggak peduli,” jawab Meira. Masih belum bisa mengucapkan huruf ‘r’, tapi mendengar itu Gelano jadi gemas sekaligus sedih. Meira ingin menjadi dokter karena Gresia tidak mendapatkan perawatan dengan baik. Meira menganggap meninggalnya Gresia karena Gresia tidak memiliki uang. Itulah yang Vhifi ceritakan. Gresia mati-matian bekerja, pagi sampai sore Gresia bekerja dan malamnya dia freelance menjadi editor novel fiksi dan non-fiksi di penerbitan. Penyakit yang Gresia diderita akibat dari memforsir tubuh untuk bekerja keras, dari pagi buta sampai malam, dan kadang wanita itu tidak tidur. Kehidupan Gresia yang sangat sulit. Seharusnya Gresia tidak perlu merasakan kehidupan sesulit ini. “Kamu akan mewujudkannya sayang. Sekalian Daddy bangun rumah sakit untukmu,” balas Gelano secara gamblang seolah bisa mewujudkannya. Senyuman Meira merekah. “Daddy kaya?” “Sangat,” jawabnya bercanda. “Daddy punya lumah besar?” Lagi, Meira bertanya. Gelano mengangguk. “Sangat besar. Sebenarnya Daddy tinggal di apartemen, tapi karena ada kamu Daddy mau tinggal di rumah. Kita tinggal sama-sama, kamu, Daddy dan Oma Permata.” “Oma Pelmata baik?” “Baik, sangat-sangat baik. Kamu pasti betah tinggal di sana, Oma Permata akan memanjakan cucunya. Cucunya yang cantik, seperti Mei.” “Tapi Mei takut, Oma enggak bisa telima Mei. Gimana kalau Mei dijahatin? Mei ....” “Shtt, kalau Oma jahatin kamu. Kita pindah ke apartemen sayang. Kita berdua saja.” Ya, jika Permata tidak bisa menerima Meira, dia akan membawa Meira tinggal di apartemen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN