Bab 18

1708 Kata
Nyawa Gelano seperti sudah terangkat. Dia benar-benar mati rasa. Merasakan sakit yang sudah memporak-porandakan seluruh jiwanya. Satu-satunya alasan untuk kuat adalah Meira. Tanpa adanya Meira, Gelano tidak akan sekuat ini. Bukan kuat, melainkan mencoba untuk kuat atau berpura-pura kuat. Demi menguatkan Meira, dia harus menjadi kuat. Jika dia lemah dan Meira juga lemah, lantas siapa yang akan menguatkan? Sebagai ayah dia ingin Meira ikhlas dan mau menggenggam tangannya melangkah ke kehidupan baru. Gresia meminta jenazahnya tetap di makamkan di pemakaman dekat rumah yang mereka—Gresia dan Meira tinggali. Gelano awalnya menolak tegas. Perjalanan Jakarta-Bandung membutuhkan waktu lama. Entah dirinya sendiri atau pun Meira akan kesusahan mengunjungi makam Gresia. Terlebih lagi Meira, gadis itu sangat-sangat menyayangi Gresia. Namun jauh dari perkiraannya, Meira juga menyetujui pemakaman Gresia dilakukan di kota ini. Gelano tidak mampu berbuat apapun selain menyetujuinya. Pemakaman dilakukan sore hari. Para tetangga membantu pemakaman Gresia. Lepas ba’da sholat asar para tetangga desa ini berbondong-bondong ikut ke pemakaman. Masyarakat di sini begitu solidaritas. Seketika Gelano lega mengetahui kebaikan yang dilakukan oleh masyarakat di sini, setidaknya sewaktu hidup dan tinggal di sini, Gresia tidak begitu kesusahan. Dengan pakaian seadaanya yaitu baju koko serta peci pemberian dari salah satu tetangga, dia mengikuti pemakaman. Tangan kecil Meira setia menggenggam tangannya. Tatapan Meira kosong. Jelas saja, ibunya sudah pergi. Selama ini hanya Gresia yang ada di hidup Meira. Gelano turun ke tanah yang sudah digali. Ikut membantu menguburkan jenazah Gresia. Mati-matian Gelano menahan tangisannya. Ketika tangannya menyentuh kain kafan yang membungkus jenazah Gresia, tiba-tiba badannya lemas. Hampir dia terjatuh, untungnya dengan sigap para warga yang turun menahannya. Bolehkan dia memeluk Gresia untuk terakhir kalinya? Terakhir saja sebelum jasadnya terkubur di dalam tanah. Dia mendongkak menatap ke atas, memeluk singkat Gresia. Tidak, Gelano tidak boleh menangis. Tangisannya akan menjadi penghalang Gresia. Dia sudah banyak mempersulit hidup Gresia, sekarang tidak lagi. Bahkan air mata ini tidak boleh menjadi pisau yang menancap Gresia. Setelah posisi jenazah Gresia sudah benar, sambil merapal doa beberapa warga mengubur tubuh Gresia dengan tanah. Memberikan papan dengan ukiran nama ‘Gresia Ananta Binti Aryo Poermana’ di ujung lalu setelah itu dengan tangan Gelano sendiri, dia menaburkan bunga berlanjut ke air mawar. Ustadz memimpin doa, semuanya mengangkat tangan meminta kepada Allah semoga Gresia diterima di sisi-Nya dan diampuni segala dosa-dosanya. Gresia telah pergi. Pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali. Satu persatu para warga meninggalkan tempat pemakaman. Kini di pemakaman hanya tersisa Gelano dan Meira. Mereka berdua berjongkok, bersampingan. Sekilas dia melirik putrinya, betapa tegar gadis itu. Dia saja tidak bisa setegar itu. Betapa sesaknya menahan tangisan. Berkali-kali Gelano menghapus air mata. Tidak akan membiarkan air matanya jatuh ke tanah kuburan, hal itu akan mempersulit Gresia di alam kubur. “Ma, Mama yang tenang ya. Mama jangan khawatilin Meila di sini, Meila udah ketemu sama Daddy. Meila mau ikutin kata Mama, Meila udah janji sama Mama. Meila jadi anak baik yang enggak bakal nyusahin Daddy,” kata Meira sambil tersenyum dipaksakan, mengusap tanah. Betapa pintarnya Meira. Diusia yang masih kecil, sudah mengerti banyak hal. Gresia pasti mendidiknya dengan sangat baik. “Mama, setiap hali Mei mau doain Mama. Kata Mama anak yang baik bisa bantu ibunya di akhilat. Mei mau sholat banyak-banyak, Mei enggak akan biarin Mama kesakitan di sana,” sambung gadis itu. Gelano mengusap matanya mengunakan punggung tangan karena tangannya kotor terkena tanah. Air mata ini tidak ada henti-hentinya keluar. Mendengar suara Meira, sungguh dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Kadang dia menatap langit, memasukan air mata kembali ke dalam; kadang juga dia menatap ke arah lain, mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat lemah. Gelano tidak sekuat Meira. “Lihat di sini ada Daddy. Mama pasti seneng ‘kan? Bener kata Mama, Daddy baik. Tanpa Mama suluh pun Mei pasti bisa sayang sama Daddy.” Grep! Sekali tarikan Gelano mendekap tubuh ringkih putrinya. Menatap langit sambil mengigit bibirnya kuat-kuat. Percayalah Gelano kesulitan menahan tangisan. “Sayang. Kamu kuat, seharusnya Daddy nguatin kamu tapi malah sebaliknya. Daddy beruntung, sangat-sangat beruntung bisa punya anak kayak kamu. Maafin Daddy, selama ini Daddy enggak ada buat kamu sayang. Maafin Daddy.” Menyeka air matanya, tidak memedulikan tangannya yang kotor. Meira memeluk Gelano. “Daddy jangan nangis. Mama berat ninggalin Daddy nanti. Mama kesiksa, jangan nangis ya. Kasian Mama di sana.” Gelano melepaskan pelukannya. Perlahan tangan kecil milik Meira terangkat, mengusap air mata Gelano. Meira menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sht, Mama nangis nanti. Daddy enggak boleh nangis. Mei juga enggak nangis, lihat Mei enggak nangis ‘kan?” Meira memang sudah tidak menangis, tapi wajahnya sudah membengkak seperti bakbau. Gadis itu tersenyum kecil, menghibur Gelano. “Kamu enggak marah sama Daddy?” tanya Gelano. Saat Meira ada di dalam kandungan sampai sebesar ini, dia belum pernah ikut serta mengurus Meira apalagi mendidik. Semuanya dilakukan oleh Gresia, menjadi ibu sekaligus seorang ayah untuk Meira. Kepala Meira menggeleng pelan. “Mei enggak boleh malah sama siapa pun. Sama Bu Fella yang udah ngatain aku anak halam, sama Cika yang udah jailin Mei, sama Daddy yang Mei aja enggak tahu dimana kebeladaan. Tapi Mama bilang Daddy orangnya baik, penyayang, katanya Daddy lagi ada urusan jadi Daddy enggak pernah Dateng nemuin Mei.” Anak haram? Sakit Gelano mendengar itu. Gresia mengajarkan Meira tentang kebaikan. Hingga pemikiran buruk saja tidak ada di dalam diri Meira. “Maafin Daddy ya,” lirih Gelano, menundukkan kepalanya. “Mei maafin Daddy. Tapi Daddy jangan nangis, nanti Mama juga ikut nangis. Mei malah sama Daddy kalau masih nangis,” Meira merajuk. “Iya sayang Daddy enggak akan nangis lagi. Sekarang kita pulang ke rumah kamu? Kita menginap, ngadain pengajian buat Mama kamu.” “Iya, nanti Mei ikut ngaji!” Gelano bersumpah, Gelano akan membahagiakan Meira. *** Pengajian di rumah sederhana milik Gresia berjalan dengan lancar. Dibantu oleh tetangga Gelano bisa menyiapkan semuanya. Mulai dari membeli beberapa Al-Qur’an dan ratusan kotak makan sebagai tanda terima kasih. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Meira tiada henti-hentinya berdoa dan mengaji, surat-surat pendek yang dibaca secara berulang-ulang. Duduk beralas tikar, Gelano menemani Meira mengaji. Selama yang Gelano perhatian, Meira mengaji sambil terisak. Namun gadis itu dengan cerdiknya menyembunyikan suara tangisannya. Gelano merasa malu pada putrinya sendiri, diusia yang terbilang sangat-sangat muda mampu menghafal surat-surat pendek. Berbeda dengannya dulu, dia tidak ada apa-apanya dibanding Meira. Dengan lantas Meira membaca surat-surat pendek yang Meira hafal. Suaranya bergetar. Tampaknya gadis itu kelelahan, bersandar di dinding sambil menutup matanya. Gelano menutup turutan, berisi huruf-huruf hijaiah dan kumpulan surat-surat pendek. Menyimpannya di meja belajar milik Meira. Menggendong Meira, membaringkan tubuh kecil itu di atas kasur. Wajah gadis itu berkeringat. Tidak ingin mengganggu tidur putrinya, Gelano membuka jilbab yang Meira kenakan. Betapa bangganya Gelano memiliki putri seperti Meira. Gadis pintar yang taat pada agama dan juga orang tua. Dia mengambil handphone, mencari-cari nomor kontak seseorang lantas segera meneleponnya. “Halo Lan? Lo di mana njir? Gue cari di apartemen enggak ada! Di rumah juga enggak ada sampe nyokap lo khawatir gini. Berkali-kali gue hubungi lo tapi lo enggak ngangkat!” oceh Haris di seberang sana. Memang, ada dua puluh panggilan tak terjawab dari Haris. “Udah?” “Bodoh!” umpat Haris, “cepet hubungi nyo—“ “Gue udah nemuin Gresia,” ungkap Gelano memotong ocehan Haris. Hening. “Lo? Jangan bercanda, Lan. Gue hajar lagi baru tahu rasa!” ancam Haris. “Gue enggak bercanda. Gue udah nemuin Gresia tapi ....” Gelano menatap wajah tenang Meira. Jemarinya bergerak, mengusap rambut Meira. “Tapi apa?!” “Tapi Gresia meninggal, Ris. Dia meninggal 15 menit sebelum gue sampe sana. Gue ... gue telat 15 menit,” sambung Gelano dengan suara bergetar. “Gresia kirim gue SMS ... dia titip putrinya, enggak putri gue.” Hening kembali. Terdengar suara barang terjatuh, seperti gelas yang jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. “Sekarang lo ada di mana?” “Bandung.” “Gresia tinggal di Bandung?” “Iya. Gue hancur banget, Ris. Tanpa anak gue, mungkin gue udah jadi gila tahu kabar ini. Bilang ke nyokap gue ya, Ris, gue pulang besok. Bilang sama beliau jangan khawatir.” “Tap—“ Tut! Gelano langsung mematikan sambungan teleponnya, berikut juga handphone-nya. Dia ingin fokus berduka dan menghibur putri kecilnya. Sikap dewasa Gresia menurun pada Meira. Wajahnya 80% miliknya, dan sisanya milik Gresia. Andai dia dan Gresia bisa bersama, mungkin kita semua—dia, Gresia dan Meira akan bahagia. Seberapa berat beban yang Gresia pikul, seberapa berat beban yang gadis kecil ini terima mentah-mentah. Anak haram .... Benar, di surat itu mengatakan kalau Gresia dan Meira tinggal di lingkungan yang sebagai besarnya adalah orang baik. Sisanya orang jahat yang tak memiliki hati. Berani sekali mengatai putrinya ‘anak haram’, meski Meira ada karena suatu ketidak sengajaan tetapi gadis kecil nan malang itu sama sekali tidak bersalah bahkan Gresia juga. Di sini dia yang bersalah, 100% kesalahan ada padanya. Diambilnya buku diary berwarna hitam milik Gresia. Membuka halaman pertama, membacanya dengan saksama. Punggungnya bersandar di kasur. Di halaman pertama. Kak, aku pergi. Mereka mengusirku, memukuliku, menamparku, menendangku keluar dari rumah yang aku tempati selama 20 tahun. Aku meneleponmu, Kak. Sampai beberapa kali tapi nomormu tidak aktif. Aku pergi dari kota kejam ini. Semoga kalian bahagia. Berlanjut ke halaman kedua. Ah, sudah lama aku tidak menulis. Perutku sudah besar dan anakku sudah menendang. Telingaku serasa kebal, aku tidak peduli akan hinaan itu. Aku punya tetangga baik, punya teman baru yang juga baik. Sampai anak ini lahir, aku akan bekerja keras demi anakku ... anak tercintaku. Halaman ketiga Kak, anak kita perempuan. Manis sekali, mirip denganmu Kak. Aku jadi ingat wajah kamu sewaktu lihat dia. Aku kasih nama Meira, Meira Gessi. Hanya itu. Meira milik Gresia. Aku lupa, milik kamu juga, Kak. Pernah aku bermimpi hidup bersamamu Kak. Tapi, aku malu, aku tidak mau menghancurkan hidupmu karena aku. Aku tahu kamu mencariku, dan aku juga tahu kamu merasa sangat bersalah. Aku juga menyesal Kak. Andai aku bisa keluar dari apartemenmu, andai aku tidak menjawab teleponmu. Pasti sekarang kita hidup bahagia. Andai ... Hahaha, lucu sekali aku berandai-andai. Padahal sudah terjadi. Meira akan jadi semangatku, matahariku dan hidupku. Selamanya.... Love you, Meira Gessi Love you, Kak. Gelano menutup buku diarynya. Mengusap kasar air mata yang mengalir di wajahnya. “Seribu maaf pun, aku tidak bisa mendapatkan maafmu,” gumam Gelano.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN