Bab 17

1673 Kata
082xxxxxxx : Hai Kak Lano apa kabar? Ini aku Gresia, Lano maaf aku pergi darimu. Aku tahu kamu cari-cari aku ‘kan? Maaf, maaf, maaf. Satu-satunya nomor yang aku ingat itu nomor Kakak. Alhamdulillah, ternyata nomornya masih aktif. Kakak aku mau minta tolong boleh? Tolong Kakak datang ke alamat ini. 082xxxxxxx : Kencana Hospital Jl. Xxx desa Xxx Kp. Xxx Kec. Xxx Kota Bandung-Jawa Barat Berkali-kali Gelano menatap room chat itu. Antara bahagia dan gelisah bercampur menjadi satu. Bahagia akhirnya dia menemukan keberadaan Gresia dan gelisah karena lokasi ini menunjukkan sebuah rumah sakit yang ada di Bandung-Jawa Barat. Dia takut Gresia kenapa-kenapa. Banyak pertanyaan muncul di benaknya, kenapa Gresia menyuruhnya ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Sungguh dia khawatir. Sekalipun dia tidak memikirkan Gresia akan menempati kota itu. Namun anehnya, dia pernah menyuruh orang untuk menelusuri seluruh area pulau Jawa tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Gresia. Gelano mengikuti rute jalan. Mobilnya melaju di atas rata-rata. Perkiraan dia sampai ke rumah sakit itu sekitar dua jam lebih. Menggeram kesal tatkala keadaan jalanan yang cukup ramai, membuat mobilnya tidak bisa bergerak dan menembus jalanan. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat, mengelupas kulit bibir sampai berdarah. Tentu Gelano tidak memedulikan hal itu. Tangannya mencengkeram kemudi, sesekali memukul klakson. Hampir dia tidak waras, menerjang orang-orang yang sedang menyeberang. Banyaknya lampu lalu lintas membuat lelaki berhoodie hitam itu memukuli jendela mobil. Kesal sekali. Dia ingin segera memeluk tubuh orang yang dia cintai. Berlutut meminta maaf sambil menangis. Apa pun akan dia lakukan untuk meminta maaf pada Gresia. Apa pun, bahkan sekalipun Gresia meminta nyawanya akan dia kabulkan. Hidupnya tidak berarti tanpa Gresia. Hancur lebur tak ada yang tersisa. Semua keputusan ada di tangan Gresia. Entah kembali ke dalam pelukannya atau tidak, yang penting dia akan bertanggung jawab dan menebus segala dosa yang sudah mempersulit kehidupan Gresia. Wanita malang berbadan dua yang berani merantau ke daerah asing. Tangisannya pecah, mengingat bagaimana kehidupan Gresia di sana. Mungkin tidak akan mudah. Bagaimana kalau masyarakat di sana mengucilkan Gresia? Akibat menyetir ugal-ugalan, satu kali Gelano dihadang polisi. Untungnya, Gelano dibiarkan pergi setelah dia menceritakan tentang kondisi Gresia dan satu ikat uang tentunya. Diberikan penyuluhan singkat untuk tidak ugal-ugalan lagi. Gelano mengiyakan, tapi percayalah itu hanya kebohongan belaka. Mobil Gelano tetap melaju kencang. Sekilas Gelano melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Sekitar dua jam kurang sepuluh menit dia lalui untuk mencapai tempat ini. Tibalah di rumah sakit yang tidak terlalu besar. Ditatapnya nama rumah sakit itu ‘Kencana Hospital’ sesuai dengan alamat yang Gresia berikan. Tanpa berbasa-basi lagi, setelah dia memarkirkan mobilnya, dia langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit. Bertanya pada receptionis. Diarahkan Gelano ke ruang Melati nomor 7. Berlari sekencang mungkin membaca satu persatu ruangan yang ada. Nafasnya menggebu-gebu. Jadi benar Gresia yang dirawat di rumah. Gelano hanya bisa berharap, Gresia dalam keadaan baik-baik saja. Tepat di pintu ruangan Melati, Gelano masuk. Satu ruangan disekat menjadi tiga brankar dan tiga pasien. Saat pintu ruangan Gelano buka, suara tangisan seorang gadis berusia 4 tahun tengah menangis. Sangat-sangat kencang dan memilukan. Tangisan tersebut menggores hati Gelano. Gadis itu berteriak sangat kencang memanggil nama ‘Mama!’ sampai berulang kali. Di samping brankar yang gadis itu nangisi, seorang dokter dan perawat memandang gadis itu prihatin. “Hari ini, pukul 14.00 waktu Indonesia Barat,” kata dokter memberi tahu si perawat. Tes. Air mata tiba-tiba menetes, ikut merasakan rasa sakit gadis itu. Gelano melongok ke brankar lain, tidak ada orang alias kosong. Di ruangan ini, hanya tersisa satu pasien. Tunggu? Apakah Gresia sudah pulang ke rumah? Ah, dia harus menanyakan alamat serta penyakit Gresia. Semoga saja penyakit ringan. “Selamat siang Dok. Saya ingin bertanya, pasien bernama Gresia Ananta sudah pulang dari jam berapa ya? Kata receptionis dia ada di ruangan ini. Tapi, kosong?” tanya Gelano, lantas tangisan gadis itu terhenti. Dokter itu melirik ke arah perawat. “Apa Anda kerabat Nyonya Gresia Ananta?” Dokter itu bertanya. Gelano mengangguk. “Iya saya suaminya, suami Gresia Ananta. Apa Dokter bisa memberitahu saya tentang penyakit istri saya? Enggak parah ‘kan Dok?” Dokter itu tersenyum kecut, berjalan ke arah Gelano lalu menepuk bahunya sampai beberapa kali. Gelano mengernyitkan bingung. Dia bertanya tapi malah diberikan tatapan turut belasungkawa. Apa mungkin penyakit Gresia begitu serius sampai dokter ini memberikan tatapan itu, bukan hanya dokter itu tapi perawat juga dan ... gadis yang tengah menangis tadi berhenti, ikut menatapnya juga. Dokter itu memberikan kode dengan menoleh ke arah pasien yang terbaring di atas brankar. Tidak. Perlahan Gelano menatap pasien. Gresia, terbaring di sana. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus. Matanya berair, kakinya mendadak lemas. Ingin jatuh ke bawah tapi dokter langsung menahan tangannya. “Dok, Gresia sakit apa? Dia sedang perawatan ‘kan? Dia sedang mendapatkan perawatan ‘kan? Atau dia sedang pingsan? Soalnya dia enggak pakai infusan atau alat-alat berat lain,” Gelano bertanya sambil melihat ke arah sekitar. Tubuh pucat itu tidak memakai alat bantu apa pun, kemungkinan besar Gresia hanya pingsan. Namun dokter itu hanya diam, begitu juga dengan perawat yang malah ikut menangis. Gelano mengguncangkan tubuh sang dokter. “Kenapa Dokter diam! Dokter punya mulut, seharusnya Dokter jawab pertanyaan saya! Dia pingsan ‘kan?! Jadi setelah sadar saya bisa membawanya pulang ‘kan?” Dokter itu tetap diam. Kesabaran Gelano habis. Dia menghampiri Gresia, memeluk tubuhnya erat lalu menepuk-nepuk pipi Gresia. “Gres, ayo bangun. Kamu enggak bisa lari-larian lagi. Saya di sini mau jemput kamu, atau mau saya gendong sampai ke rumah?” “Tuan, Gresia Ananta sudah meninggal lima belas menit yang lalu. Dia sudah tenang di sisi-Nya, Anda harus tegar,” kata Dokter itu bagai petir yang menyambar-nyambar. Pertahanan Gelano runtuh. Ditatapnya baik-baik wajah Gresia. “Bohong! Saya enggak percaya, dua jam lalu dia kirim saya pesan! Enggak!” teriak Gelano kencang. Urat-urat di lehernya tercetak jelas, menandakan suara Gelano sudah mencapai volume full. Lima belas menit yang lalu. Andai dia tidak dicegat polisi mungkin ada kesempatan untuknya menemui Gresia, meski untuk terakhir kalinya. Dokter itu menundukkan kepalanya lantas pergi dari ruangan, diikuti dengan perawat. “Hei kalian enggak bisa seenaknya pergi! Tarik omong kosong kalian!” teriak Gelano, menunjuk kedua tenaga kesehatan. Sementara gadis itu, diam. Tatapannya begitu pilu terarah ke Gelano. Isak tangis kecil itu masih terdengar di telinga Gelano. Gadis itu mencoba menahan tangisannya. Gelano memeluk erat Gresia. Sangat-sangat erat, menumpahkan tangisannya di bahu Gresia. Mengeluarkan Isak tangisan yang kencang. Tidak memedulikan apa pun lagi. Dunianya hanya tentang Gresia. Setelah bertahun-tahun dia akhirnya berjumpa lagi dengan Gresia. Kendati demikian dia tidak menginginkan ini terjadi. Bertemu untuk yang terakhir kalinya. Dia hanya menemui raga, tidak dengan nyawa. Andai dia tidak terlambat. Andai dia mengendarai mobilnya sedikit lebih cepat, andai ... Anda .... Semuanya sudah berakhir. Dunianya sudah berakhir. “Gresia! Gresia aku belum minta maaf sama kamu! Cepat bangun!” bentak Gelano menciumi wajah Gresia, “bangun Gresia, bangun! Kamu tidak dengar? Bangun! Ini perintah!” Apa yang dia lakukan sekarang tidak ada gunanya. Semuanya sudah berakhir dan akan selamanya berakhir. Gresia tidak akan mungkin bangun meski sudah dia teriaki bahkan dia maki-maki. Sejenak dia menatap seorang gadis berambut sepinggang. Gadis itu tertunduk, air matanya mengalir deras. “Nak,” panggil Gelano. Entah siapa gadis itu, tapi ... gadis itu sangat mirip sekali dengannya. Gadis cantik berkulit putih bersih itu mendongkak. Wajahnya membengkak, air matanya berlinang. Tangan mungil itu bergetar, susah payah dia menyodorkan buku diary dan secarik surat ke arah Gelano. Agar tinggi, gadis itu mengenakan alat bantu untuk menumpu kakinya. “Ini dari Mama,” cicit gadis itu. Gelano mengambil diary dan surat itu. Menatap gadis itu sekali lagi sebelum surat itu dia bentangkan dan dibaca. “Mama?” batin Gelano. Untuk Gelano Ardeno Aditchandra, orang yang sampai saat ini aku cintai. Kak, maaf. Aku meninggalkanmu, aku tidak akan menyesali karena aku telah meninggalkanmu. Lagi pula aku ini siapa? Orang yang kebetulan mencintaimu dan tidak sengaja melakukan kesalahan. Aku tahu, Kak. Kamu tidak menyadari telah berbuat kesalahan, dan baru beberapa bulan kemudian baru sadar. Bukan sadar kemungkinan keluargaku yang membeberkannya padamu, Kak. Dan aku juga tahu, Kakak mencariku sampai detik ini. Kalau Kakak berpikir aku akan lemah menghadapi dunia luar, Kakak salah. Aku kuat, buktinya sampai detik ini, sampai aku menulis surat aku masih bisa bertahan. Di dunia luar tidak selamanya baik, tidak juga selamanya jahat. Alhamdulillah, aku ada disekumpulan orang-orang baik tapi tak jarang juga ada yang menudingku karena tidak ada suami mendampingiku. Hahaha, kita punya putri Kak. Kita punya putri, putri yang sangat cantik, dia sangat mirip denganmu. Namanya Meira Gessi, Gessi namaku. Aku harap Kakak memberikan nama Kakak di belakang namaku. Meira Gessi Aditchandra, karena dia anakmu Kak. Darah dagingmu, anak kita. Aku pergi bukan aku menyerah Kak. Tuhan lebih menyayangiku daripada anakku, atau kamu sendiri. Aku senang cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, aku mencintaimu Kak, sangat-sangat mencintaimu. Penyakitku ini ada karena aku terlalu semangat bekerja sampai malam pun aku anggap siang. Satu-satunya semangatku, Meira. Putri kecilku, putri kesayanganku. Aku yakin sekali Kakak juga akan menyayanginya, menyayanginya seperti Kakak menyayangiku. Kak, aku titip Meira ya? Jaga dia, berikan pendidikan sampai menggapai cita-cita. Dia anak yang manis dan penurut, Kakak tidak akan kesusahan mengurusnya. Aku yakin Kakak akan sangat-sangat menyayanginya. Aku juga sudah memberitahu Mei, aku memberitahu putri kita tentang kamu. Tapi aku tidak akan bisa memberitahu Mei tentang skandal ini. Aku sangat menyayanginya, dan dia juga pasti akan sangat menyayangimu. Titip salam buat Enday ya Kak. Aku kangen dia. Titip salam juga buat Tante Permata, semoga dia bisa menerima cucunya. Aku sayang Kak Lano. Kak Lano baik-baik ya, jaga Mei baik-baik juga. Salam -Gresia Surat yang sudah basah karena lelehan air mata terjatuh ke perut Gresia. Meira? Gelano menatap gadis itu, melangkah berat ke arah gadis bernama Meira. Putrinya? Sudah sebesar ini? Darah dagingnya sendiri. Tubuh Gelano membungkuk. Menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Mengusap rambut Meira. “Maafin Daddy, Nak. Maafin Daddy karena Daddy terlambat. Daddy janji, Daddy akan selalu ada buat kamu. Daddy akan menjadi Daddy terbaik untukmu. Mengganti seluruh hari yang sudah kamu lewati tanpa Daddy. I miss Meira.” Sementara Meira bergeming, tetap menangis di pelukan Gelano. “Meira. Meira Gessi Aditchandra.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN