Seharian Keyla bersama dengan Adrian. Pergi ke laut dan bermain pasir di sana. Menikmati momen-momen sebelum perginya Adrian. Sekitar lima sampai tujuh hari Keyla tidak bisa menemui Adrian. Bahkan untuk menghubunginya saja akan sulit. Kemungkinan besar Adrian tidak akan menghubunginya selama seminggu, tapi Adrian membuat janji untuk tetap menghubunginya saat malam hari.
Dari pagi sampai saat ini, dimulai mengunjungi wisata taman bermain sampai pergi ke laut untuk melihat detik-detik terbenamnya matahari. Pasangan kekasih, tidak kedua calon pasangan suami istri itu duduk di pasir membiarkan b****g dan kakinya terkena air.
Kepala Keyla bersandar di bahu Adrian. Bahu paling nyaman daripada yang lainnya. Jelas, karena Keyla hanya menyandarkan kepalanya pada Adrian dan juga Permata. Aroma parfum yang menenangkan hati menguar, memasuki rongga hidung. Soft, tidak berlebihan. Campuran antara keringat dan parfum, memadukannya menjadi satu kesatuan yang sangat Keyla sukai. Hanya Adrian, satu-satunya.
“Kamu mau oleh-oleh apa? Aku mau ke Singapore besok.” Adrian menggenggam tangan Keyla yang tersemat cincin lalu mencium punggung tangannya lama, tatapannya tertuju pada wajah cantik Keyla. Kecantikan Keyla membuatnya tergila-gila. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi pas untuk dipandangi terus menerus seperti ini. Apalagi saat wajah Keyla mulai memerah karena ulahnya.
“Haduh, stop buat aku deg-degan kayak gini Adrian. Mata kamu itu, jangan sampe mata kamu aku colok!” ancam Keyla mencebik kesal. Bukannya Adrian menghentikan tatapan menggoda itu, Adrian malah menggigit kecil kulit punggung tangan Keyla membuat wanita itu tersentak kaget. Cepat-cepat Keyla menyembunyikan tangannya.
Jantung Keyla berdebar-debar kencang. Di pantai ini ada banyak pengunjung, menantikan sunset, tidak menutup kemungkinan ada yang melihat perlakuan romantis Adrian. Pria itu mengulum senyum, menarik tangan Keyla lalu menciumnya kembali. Setelah puas menempelkan bibir di punggung tangan Keyla, beralih mengusap jemari Keyla dan berhenti pada cincin yang Keyla gunakan.
Cincin berlian.
Tentu Keyla sudah melepaskan cincin pertunangan Gelano dengan cincin Adrian. Sampai Adrian menemukan ada cincin lain yang tersemat di jarinya, pria itu tak segan-segan mencari tahu apa yang terjadi. Sampai saat ini Keyla tidak mampu memberitahu kebenarannya sedangkan pernikahannya tinggal dua Minggu lagi.
Apa Keyla harus memberitahu Adrian sekarang?
“Aku suka lihat kamu salah tingkah, dan ... aku suka lihat cincin ini tersemat di jari kamu,” puji Adrian.
“Hm, Adrian. Aku mau ngomong sesuatu,” ucap Keyla gugup. Kelopak matanya terpejam, bersiap untuk berkata sebenarnya. Sebelum semakin membuat Adrian sakit, lebih baik dia mempercepat memberitahu Adrian. Pastinya pria itu akan marah besar, tapi—bukankah itu lebih baik? Daripada Adrian bertambah sakit?
Alis Adrian bertaut. “Iya ngomong aja. Biasanya kamu langsung ngomong, sekarang ngomong aja ragu-ragu. Besok aku mau pergi seminggu, kamu nanti susah hubungi aku.”
“Bodoh Keyla! Adrian besok pergi, ini keinginan Adrian. Kesempatan ini tidak akan ada dua kali. Kalau kamu ngomong sekarang, kamu bakal hancurin hidup Adrian. Dan mimpi naik jabatan itu akan hancur. Tunda, tunda, tunda Keyla, jangan gegabah. Demi kebaikan bersama,” batin Keyla menatap Adrian serius. Sesekali dia menggeleng, menyuruh dirinya sendiri bungkam.
Seminggu berharga ini akan hancur. Andai Keyla mengatakannya sekarang maka Adrian akan menolak pergi dan memilih mengamuk seperti orang gila. Adrian bukan tipe yang akan tenang oleh kata-kata. Tidak semudah itu menenangkan Adrian.
“Kenapa Key? Mau ngomong apa? Aku penasaran nih.”
“Aku mau ngomong sesuatu, hm, sebenernya enggak penting. Cuma berandai-andai aja, dan aku mau kamu jawab,” kata Keyla membenarkan posisi duduknya, menjadi serong ke arah Adrian.
“Iya, aku akan jawab. Apa?”
“Kamu pernah enggak sih, mikir buat ninggalin aku?” tanya Keyla yang langsung disambut gelak tawa oleh Adrian.
“Kamu nanya itu? Aku cinta sama kamu, dan apa yang kamu tanyakan tadi sekalipun enggak pernah terlintas di benakku. aku tidak akan meninggalkanmu,” jawab Adrian yakin, sangat-sangat yakin.
“Satu lagi, apa yang bakal kamu lakuin jika seandainya aku pergi dari kehidupan kamu? Misal, pergi menikahi orang lain atau pergi karena Tuhan memanggil.” Sejujurnya Keyla sangat penasaran, apa yang akan Adrian lakukan setelah tahu Keyla akan menikah dengan Adrian.
“f**k,” umpat Adrian, kedua tangannya terkepal, “aku tidak bisa membiarkan itu terjadi, bahkan Tuhan sekalipun Keyla. Jika orang lain yang merebutmu dariku, maka aku akan rebut kembali dan jika Tuhan yang merebutmu dariku maka aku juga akan ikut bersamamu.”
“You're crazy?” Bahkan Keyla tak mampu lagi berkata-kata. Jawaban Adrian langsung membuat pikirannya melayang-layang entah kemana. Mendengar jawaban itu, rasanya dia tidak lagi menerka-nerka apa yang akan Adrian lakukan.
Adrian menyeramkan.
“Aku gila karenamu, Key.”
“Tapi kenapa kamu mau melakukan itu? Seharusnya kalau misalnya aku dipanggil Tuhan ya kamu cari wanita lain yang bisa mendampingi hidup kamu, dan misal aku menikah dengan orang lain—“
“Shut up!” bentak Adrian marah, “kamu mau ninggalin aku? Kamu berbicara seperti ini seolah kamu akan pergi. Aku ... aku enggak akan biarin siapa pun rebut kamu dariku, you are mine and forever will be mine! Rebut? dia mati.”
Ya Tuhan! Keyla ingin menjerit sekarang juga. Adrian adalah monster ketika marah. Bagaimana? Apa yang harus dia lakukan?
Adrian menarik Keyla, memasukkan ke dalam dekapannya lalu berbisik, “jangan pernah berandai-andai seperti itu Keyla. Aku sangat marah, marah sekali. Sepertinya kita harus pulang sebelum kemarahan ini memaksamu untuk menikah denganku dan menjadikanmu milikku sepenuhnya.”
“Ak-aku—“
“Shtt, Babe. Kamu harus ingat satu hal, kamu sudah masuk ke dalam duniaku, kalaupun kamu memaksa ingin pergi, aku akan menarikmu kembali. Aku tidak akan membiarkanmu direbut. Tidak akan dan tidak akan pernah. Semua ucapanku itu tidak main-main Keyla, camkan itu baik-baik.”
Tubuh Keyla meremang. Dia takut sekali. Sudah biasa dia mendengarkan ancaman Adrian, tapi kali ini terasa berbeda. Adrian sangat mencintai, berbarengan dengan itu juga mungkin Adrian juga terobsesi padanya. Apapun akan pria itu lakukan demi mendapatkannya.
Kadang Adrian semanis gula.
Kadang juga Adrian sepahit obat, tapi sepahit-pahitnya obat pasti menyembuhkan. Meski Adrian menyeramkan, pria itu tidak pernah mengangkat tangannya. Paling-paling Adrian mencengkeram tangannya.
“Kamu terobsesi?” Dan akhirnya Keyla memberanikan diri untuk bertanya demikian.
“Yeah, tapi tidak sampai melebihi cintaku padamu yang sudah melebihi dosis jatuh cinta.”
Keyla tahu itu.
“Kamu pasti akan membuangku setelah mendapatkan apa yang kamu inginkan.
Adrian tertawa remeh. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa membuangmu. Tujuanku menikahimu dan membuat keluarga kecil yang bahagia. Kamu takut?” Kemarahan Adrian yang semula menggebu-gebu akhirnya padam, melihat ketakutan di mata Keyla.
Keyla mengangguk.
“Jangan takut, babe. Malah aku yang seharusnya takut kehilanganmu,” sambungnya, merengkuh tubuh ringkih Keyla.
***
Tubuh Gelano terasa remuk. Wajahnya apalagi yang terlihat lebam dan membiru. Tidak salah Haris memukulinya sampai seperti ini, ditambah pria itu ternyata juga menyukai Gresia. Sebagai rasa tanggung jawab, semalam Haris menginap di apartemen. Menjaga Gelano semalaman takut terjadi sesuatu.
Haris memakai kaos oblong milik Gelano. Menarik kursi ke samping tempat tidur. Di tangannya sudah ada semangkuk bubur untuk dimakan Gelano.
“Lo mau nyuapin gue gitu?”
“Mata lo! Gila, najis banget gue nyuapin orang b******k kayak lo. Mending perempuan lah ini lelaki, nanti disangka gay,” oceh Haris, mendesak Gelano mengambil mangkuk di tangannya.
“Gue juga ogah disuapin sama lo.” Gelano menyerobot mangkuk berisikan bubur lalu melahapnya. Pelan-pelan karena saat dia mengunyah makanan, rahangnya terasa nyeri. Melihat cara makan Gelano yang terkesan cengeng itu, Haris tertawa.
“Sesakit itu ya? Sampe makan kayak orang stroke,” ledek Haris tertawa terpingkal-pingkal, memegangi perutnya. Lihat saja Gelano, si pria dingin tetapi b******k kesusahan memakan makanannya. Puas sekali melihat Gelano seperti itu.
“Puas? Seharusnya lo tonjok gue di perut kek, di mana kek, jangan di muka. Keliatan nyokap gimana?”
“Mau ngeluh? Oh, seharusnya gue tendang aja ya Lanbird, biar enggak main asal—“ Sebelum Haris melanjutkan perkataannya, Gelano menepuk bibir Haris. Sontak saja Harus melotot tak terima.
“Jangan asal ngomong!” tegur Gelano, “by the way kapan lo pulang?”
“Ngusir? Ngusir gue?”
“Enggak ngusir, memangnya lo enggak kerja? Gila ya, mentang-mentang atasan sekarang jadi seenaknya. Lo juga punya tanggung jawab!” Oke, Gelano memang berniat mengusir Haris dari tempat ini. Untuk hari ini dia akan beristirahat sepanjang hari, memikirkan tempat-tempat yang kemungkinan disinggahi Gresia. Waktunya tersisa 13 hari lagi.
Haris berdecak sebal. “Gue kerja hari ini, yaudah gue pulang. Gue mau nyuruh orang buat cari tahu keberadaan Gresia, nanti Lo kabarin gue lewat pesan ya detail kejadian sebelum Gresia hilang.”
“Iya thanks ya.”
“Gue bantu bukan gue dukung kejahatan lo, tapi gue mau lihat Gresia baik-baik aja. Ngapain bantuan si setan yang satu ini,” pungkas Haris setelah itu dia pergi meninggalkan Gelano sendirian.
***
Gelano keluar dari apartemen, memakai Hoodie hitam dan juga masker penutup mulut. Memakai tudung bawaan dari Hoodie. Memar di wajahnya sangat memalukan. Orang-orang akan takut melihatnya. Namun memakai pakaian tertutup di siang bolong demi menutupi wajah memar bukanlah tujuan awalnya, kali ini dia akan melakukan pencarian lagi. Masuk ke daerah-daerah terpencil di sekitaran kota ini. Bertanya pada masyarakat sekitar tentang Gresia.
Namun dia tidak bisa memastikan, pencarian kali ini berhasil. Entah mengapa dia yakin sekali akan segera menemukan Gresia. Bersamaan dengan keyakinan itu, dia juga merasa sangat sakit. Ada banyak ketakutan. Terasa tiba-tiba dan sangat mendadak.
Tibalah Gelano di sebuah permukiman kumuh. Mobilnya terparkir di pinggir jalan. Demi mencapai rumah warga, dia harus berjalan kaki. Berpindah dari rumah satu ke rumah lainnya, berharap salah satu dari mereka mengenali Gresia. Baik-baik lagi tahu keberadaan wanita itu.
“Permisi, Pak. Saya mau tanya, Bapak pernah enggak lihat wanita ini?” tanya Gelano pada seorang pria tua penjual kopi keliling, menunjukkan poster berisikan foto Gresia.
“Enggak pernah lihat saya.”
Gelano tersenyum, menundukkan kepalanya. “Oh begitu ya, terima kasih Pak. Kalau Bapak lihat wanita ini, tolong hubungi nomor di ini ya Pak.” Menyerahkan poster itu pada pria penjual kopi. Pria itu mengangguk, mengambil posternya lalu pergi dengan sepeda ontel.
Susah sekali. Ini sudah orang kesepuluh yang Gelano tanyai.
Ting!
Ting!
Handphone-nya berdenting, dia mengambil handphone-nya dengan perasaan malas dan letih. Dia menebak siapa yang mengiriminya pesan, antara Permata atau Haris.
Ternyata nomor tidak dikenal.
082xxxxxxx :
Hai Kak Lano apa kabar? Ini aku Gresia, Lano maaf aku pergi darimu. Aku tahu kamu cari-cari aku ‘kan? Maaf, maaf, maaf. Satu-satunya nomor yang aku ingat itu nomor Kakak. Alhamdulillah, ternyata nomornya masih aktif. Kakak aku mau minta tolong boleh? Tolong Kakak datang ke alamat ini.
082xxxxxxx :
Kencana Hospital Jl. Xxx desa Xxx Kp. Xxx Kec. Xxx Kota Bandung-Jawa Barat
Deg!
Gresia?!