Part 7

1582 Kata
"Wa, kamu kok bisa salah milih bus sih?" Nabila menghela napas, wajahnya terlihat panik meski dia berusaha menyembunyikannya seperti yang Hawa perintahkan. "Ya, aku juga nggak tahu, Bil. Tadi, kan, kamu tahu sendiri kalau kita nanya ke Abang Ojek pas kita mau naik bus. Dan si Abangnya yang nunjukkin langsung kita harus naik bus apa. Aku mana tahu kalau ini bus arah ke purwakarta." Hawa mendengkus, matanya menatap sekeliling terminal. "Apa jangan-jangan kita emang salah naik bus? Soalnya, kan, tadi tuh ada banyak bus warna putih biru. Ya, kita asal naik aja, kan, nggak mastiin ke sopirnya lagi. Siapa tahu emang si Abang Ojeknya udah bener ngasih tahu bus, tapi kitanya yang salah milih bus karena warna busnya sama." Helaan napas keluar dari mulut Nabila untuk yang ke sekian kali. Matahari sudah mulai naik ke permukaan atas menyorot manusia-manusia yang ada di sana. "Kan, pasti salah. Orang kita ada di Purwakarta. Andai aja kita ada hape, pasti bakal mudah. Kalaupun kita sekarang telepon minta pake hape orang lain, kan, nggak hapal nomor orang rumah. Jadinya ini gimana dong, Wa?" Di pesantren memang ada peraturan bahwa santriwati dilarang membawa benda elektronik apalagi ponsel. Peraturan di Pesantren An-Nur memang sedikit ketat. Mungkin itu juga penyebab Nabila dan Hawa merasa tidak betah berada di pesantren. Tidak hanya Nabila yang bingung, Hawa pun sama. Hawa juga takut jika mereka tidak bisa pulang lagi ke rumah atau bahkan yang paling parah hilang kemudian diculik oleh orang jahat seperti sinetron-sinetron yang sering ditontonnya di televisi. Membayangkannya saja membuat merinding. "Gimana kalau kita diculik coba, Wa? Aku takut. Aku takut nggak bisa ketemu keluargaku lagi. Aku takut diculik. Aku takut tersesat. Kita harus gimana, Wa?" Mata Nabila terlihat berkaca-kaca membuat Hawa semakin takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang Nabila katakan. Mereka masih sangat belia, mungkin orang-orang asing akan menganggapnya mudah dibodohi atau ditipu, yang lebih parah bisa diculik dan dibawa ke suatu tempat menyeramkan. "Bil!" Suara Hawa terdengar menahan kesal. "Bisa nggak sih kamu itu jangan ngomong yang aneh-aneh? Kamu, tuh, harusnya bantuin mikir dong, Bil. Mikir gimana caranya kita bisa pulang ke rumah dengan keadaan uang yang sedikit ini. Kita nggak mungkin tinggal di sini, kan?" Hawa memalingkan wajah, mencoba berpikir meski sebenarnya dia juga ingin menangis. Mendengar perkataan Hawa membuat Nabila terdiam dengan mata berkaca-kaca. Sekuat apa pun Hawa menahan air matanya, tetap saja matanya berkaca-kaca, sama seperti Nabila. Ketakutan itu semakin menjadi ketika melihat orang-orang berlalu lalang, orang-orang yang tak mereka kenali. Hawa pikir bahwa rencananya untuk pulang ke rumah akan mudah. Hawa pikir bahwa rencananya berjalan mulus. Namun, Hawa tidak memedulikan bagaimana dia naik angkutan umum karena yang dia pikirkan pertama kali adalah keluar dari pesantren tanpa ketahuan. Sayangnya, Hawa tetaplah Hawa. Gadis baru remaja yang belum mengerti banyak hal, yang belum memiliki banyak pengalaman. Sudah setengah jam berlalu mereka masih mengelilingi terminal, mencari cara agar mereka bisa pulang ke rumah. Mereka bertanya pada orang-orang di sana mengenai ongkos untuk ke Bandung. Uang mereka pas-pasan dan masih bisa untuk naik bus satu kali lagi ke Bandung. Namun, ketika mereka menghitung uang bersama untuk memastikan jumlahnya cukup, tiba-tiba saja sebuah motor mendekat ke arah mereka dan mengambil uang yang ada di tangan Hawa begitu saja melaju dengan sangat cepat. "Eh, eh, copet!" teriak Hawa membuat Nabila terkejut melihat apa yang baru saja terjadi. "Copet! Copet! Tolong uang saya dicopet!" Hawa berlari mengejar dua preman yang sudah melaju dengan motornya diikuti Nabila. Barang-barang yang mereka bawa cukup berat dan mereka kesulitan berlari mengejar preman yang sudah pergi jauh. Bahkan beberapa orang di sana pun tak sempat mengejar preman yang sudah pergi jauh karena kalah cepat. "Duh, Neng, hati-hati makanya. Di sini rawan sama copet. Kalau udah gini, copetnya juga udah pergi dan gimana mau balikinnya?" Seorang pria dengan handuk kecil di lehernya yang baru saja mengejar preman tadi kini menghampiri Hawa dan Nabila yang terengah-engah habis berlari. "Udah sering banyak copet di sini, hati-hati. Sekarang mah gimana, ikhlasin aja. Sabar, Neng." Kemudian pria itu pergi bersama orang-orang yang tadi membantu mengejar preman. Kedua pundak Hawa menurun, melihat hal itu membuat Nabila berjalan mendekat. "Wa?" "Gimana dong, Bil. Uang aku hilang, sekarang aku nggak pegang uang lagi. Gimana dong, aku nggak bisa pulang, Bil." Air mata Hawa jatuh begitu saja membuat Nabila terdiam. Semua ini terjadi di luar dugaan mereka. Melihat Hawa menangis membuat Nabila ikut mengeluarkan air matanya. Dia mengusap pundak Hawa pelan. "Kamu yang ngajak aku untuk pulang ke rumah. Kalau kamu nggak bisa pulang, berarti aku juga sama, Wa. Kita bareng-bareng mikirin gimana solusinya." Hawa mendongak, menatap Nabila dengan pandangan mengabur oleh air mata. Dia mengusap air mata yang membasahi pipinya, tersenyum kecil. "Makasih, ya, Bil. Maaf tadi aku udah kesel sama kamu." Nabila mengangguk, kemudian mereka duduk di bangku panjang terminal. Cukup lama mereka termenung di sana, memikirkan bagaimana cara untuk pulang ke rumah di saat uang yang mereka miliki saat ini tidak cukup. "Wa, aku laper." Nabila menoleh ke samping melihat Hawa yang sedari tadi hanya terdiam. Mengingat apa yang baru saja terjadi pada Hawa membuat Nabila tak bisa sepenuhnya menyalahkan Hawa. Dia tidak tahu harus bagaimana. Terlebih lagi perutnya sedari tadi terus berbunyi. "Sama, aku juga laper, Bil." Hawa menghela napas. Air matanya sudah kering meski sedari tadi terus memikirkan kejadian uangnya yang dicopet. "Tapi, aku nggak punya uang." "Uang aku ada, tapi cuma bisa buat berangkat naik bus ke Bandung satu orang aja. Tapi, kan, kita harus pulang ke Bandung bareng-bareng. Karena uangnya juga terlanjur nggak cukup, ya udah kita makan dulu aja. Aku laper banget soalnya." Nabila mengusap perutnya. Sedari tadi cacing-cacing di perutnya terus demo meminta diisi seolah-olah mereka sedang melakukan konser. "Nggak apa-apa, nanti kamu pakai uangku aja, Wa." "Ya udah kalau gitu." ucap Hawa akhirnya. "Makasih, ya, Bil." Kemudian mereka berjalan menuju warteg yang ada di seberang. Mereka lebih berhati-hati menyimpan uang karena takut kejadian beberapa saat lalu terulang lagi. Mereka memesan makanan sederhana dan murah agar tak perlu mengeluarkan banyak biaya. *** Saat Hawa dan Nabila selesai makan dan baru saja keluar dari warteg, seseorang yang baru saja ingin masuk membuat keduanya terkejut bukan main. Sama seperti Hawa dan Nabila, seseorang dengan gamis berwarna hijau muda itu pun terkejut. "Bu Zaenab?" Mata Hawa dan Nabila membulat. Waktu seolah berhenti sejenak untuk menyadarkan Hawa dan Nabila bahwa yang di hadapannya saat ini adalah Zaenab, salah satu pengurus pondok pesantren yang juga merupakan saudara Maryam. Hawa menelan salivanya ketika Nabila justru menyenggol lengannya. Mereka tidak tahu harus melakukan apa. Mereka juga tidak tahu bagaimana bisa Zaenab berada di terminal bus Purwakarta? Padahal kemarin Hawa dan Nabila masih bertemu dengan Zaenab saat acara kajian malam. "Hawa?" Telunjuk Zaenab terarah pada Hawa, lalu bergantian pada Nabila. "Nabila?" Zaenab berusaha memahami apa yang terjadi saat ini. "Kok kalian ... bisa ada di sini?" Alis Zaenab tertukik, bingung. Mendengar pertanyaan Zaenab membuat Hawa dan Nabila saling tatap. Sungguh, mereka tak mengira semuanya akan jadi seperti ini. Mereka tak mengira akan bertemu salah satu pengurus pondok di tempat yang bahkan mereka saja tidak tahu betul di mana. Mata Zaenab melihat tas yang digendong oleh Hawa dan Nabila. Kerutan di dahinya terlihat jelas, memicingkan mata seolah sedang mengintimidasi dua anak di depannya. "Kalian kabur dari pesantren?" tanya Zaenab membuat Hawa dan Nabila terkejut kelabakan. Bagaikan maling yang tertangkap basah, mereka tak bisa melarikan diri begitu saja. Jalan mereka terhalangi oleh Zaenab. Hancur semua rencana Hawa yang sudah dia rancang selama ini untuk pergi dari pondok pesantren hanya karena bertemu salah satu pengurus pondok di tempat yang tak pernah mereka inginkan. "Ibu kok ... bisa ada di sini?" Bukannya menjawab, justru pertanyaan itu terlontar dari mulut Nabila. Zaenab menggelengkan kepalanya. "Saya yang harusnya tanya sama kalian berdua. Kenapa kalian bisa ada di sini di saat sekarang masih jamnya kelas pesantren?" tanya Zaenab lagi. "Ini di Purwakarta, lho, jauh dari Karawang. Gimana bisa kalian ada di sini kalau bukan karena kalian melarikan diri sendiri?" Zaenab menghela napas gusar usai memahami apa yang baru saja diamatinya. "Umi Maryam nggak akan mungkin mengizinkan kalian pergi sendirian ke luar kota. Kalau sekarang kalian berada di sini, itu artinya kalian melarikan diri tanpa sepengetahuan Umi Maryam dan pengurus pondok pesantren lainnya, kan?" Percakapan mereka membuat beberapa orang yang sedang berada dalam warteg—yang didominasi oleh sopir dan kernet. Namun, mereka tak begitu memerhatikan dan melanjutkan kegiatan makannya. Melihat Hawa dan Nabila yang masih diam saja membuat Zaenab menghela napas lagi. "Kalian tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Nanti kalau kalian diculik bagaimana?" Pertanyaan Zaenab barusan membuat Hawa dan Nabila saling tatap lagi. Tanpa menunggu persetujuan mereka, Zaenab memesan satu bungkus nasi dan lauk-pauknya. "Duh, Wa, gimana dong ini? Kok bisa ada Bu Zaenab di sini sih?" tanya Nabila menggaruk keningnya yang terasa gatal. "Gagal dong kita." "Aku juga nggak tahu kenapa Bu Zaenab ada di sini. Padahal, kan, kemarin kita masih ketemu di acara kajian malam." Hawa mengembuskan napasnya gusar, memandang Zaenab yang sedang membayar pesanannya. "Kabur aja, yuk, Wa!" "Eits, benar, kan, kalian mau kabur?" Zaenab datang dari belakang membuat Hawa dan Nabila tersenyum lebar. Zaenab menggelengkan kepala, mengajak mereka untuk pergi dari warteg. Karena tak ada pilihan lagi, akhirnya mereka terpaksa ikut dengan Zaenab. Lagi pula uang mereka tidak cukup untuk membawanya pulang ke Bandung. Mungkin rencana mereka memang tidak berhasil saat ini. Sudah tertangkap basah dan mereka tak bisa mengelak lagi. Sebenarnya mereka bisa saja kabur di saat Zaenab memesan makanan di warteg, sayangnya percuma juga. Mereka tidak tahu apa-apa di kota orang. Terlebih lagi teringat dengan perkataan Nabila tentang penculikan yang juga diingatkan kembali oleh Zaenab. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN