Wajah Biren mendekat, dia bertanya lagi pada Didi. “Jadi jawabnya apa?” “Ja-jawab?” lagi-lagi otak Didi mulai kehabisan oksigen karena melihat pria yang di idam-idamkannya terlalu dekat, jantungnya terus berpacu cepat. “Eh ... Iya tentu aja boleh.” “Mmh ...” pria itu mengangguk pelan sambil tersenyum. Bola matanya bergerak mengikuti Didi yang menurunkan pandangan menuju lantai. Dia tahu wanita lugu di depannya menunduk malu. Justru keluguan itu yang membuatnya suka dan dia gak bisa menahan diri untuk tidak tergiur dengan .... Biren membungkukan punggungnya, sebelah tangannya bertumpu pada meja untuk menopang tubuh. Diarahkannya kepala, menuju wajah Didi. Menjadi lebih dekat, semakin dekat lagi. Nyaris melekatkan permukaan bibir mereka. Lalu .... Suasana menjadi sunyi untuk sesaat.

