“Kenapa Akang? Apa Didi punya salah?” bola mata wanita dengan softlens coklat itu berkaca-kaca. “Bukan, bukan lu yang salah. Tapi gue ...” kalimat Biren terjeda, untuk mengambil napas sebelum melanjutkan. “Gue yang gak jujur dari awal. Sebetulnya perasaan gue belum bisa move on dari Monalisa.” Didi terentak, ia tentu tahu siapa Monalisa. Didi sadar bahwa dirinya tidak bisa menyaingi kecantikan model blasteran Indo-belanda itu. Raut kebahagiaan Didi pun surut, menyisakan hati yang kian menciut. “Lagi pula kita baru kenal juga kan? Jadi ... Gue perlu waktu untuk terbiasa dengan pernikahan ini.” Sejujurnya itu hanya salah satu alasan Biren agar Didi bisa menerima pernikahan janggal ini, agar Didi tidak langsung minta pulang ke orang tuanya dan ogah jadi Ghost Writer lagi. Dengan penu

