Pigura

1067 Kata
Kalimat Biren terjeda, lagi-lagi ia mengambil napas panjang agar diafragmanya lebih kuat saat terimpit maksud hati yang mengganjal. “Karena apa kang?” tanya Didi yang mulai gusar melihat gelagat si Akang. “Eh, itu mereka! Ayo cepet-cepet!” Suasana hening berubah seketika menjadi ramai. Biren bahkan bingung kenapa para wartawan masih bisa mengenalinya, meski ujung topinya hampir menutupi bagian atas wajah. Biren buru-buru menarik tangan Didi, berlari dari kejaran wartawan. Ish, baru juga dateng udah di ajak lari-lari kek gini serasa lagi mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Apa lagi tangannya pake digenggam. Ya ampun akang... Didi teh siap banget jadi istri yang selalu mengikuti akang pergi gak usah pake digandeng lari juga Didi setia mengikuti. Seperti biasa Didi bermonolog dengan batinnya sendiri. Ia mengapitkan bibir ke dalam menahan senyum ke-pede-an. Sementara Biren terpogoh-pogoh untuk bisa sampai parkiran. Napasnya tersengal, pandangannya terus mencari keberadaan juru kamera yang mengintai. Ternyata benar saja, di dekat mobil range rovernya sudah berderet reporter yang siap mengorek informasi. Kilat kamera menyilaukan mereka, memburu Didi. Biren pun sigap dengan berdiri menghalangi tubuh Didi. Aih, heroik banget sampe rela melindungi Didi dari kejaran wartawan pikir Didi gagal paham malah kesenengan bukan kebingungan seperti yang disangka Biren. “Mas Biren, minta keterangannya dong masalah pernikahan?” “Benar ya mas berita yang beredar kalau kalian mau menikah? Sudah mendaftar di kUA mana?” “Minta dong keterangannya, sedikit aja.” “Ayo dong mas, Kapan nih tanggal pastinya?” Tanya warta berita, mendesak Biren agar bicara. Kalau gak ditanggapi, gue di bilang sombong. Mau ditanggapi harus jawab apa. Duh! Bikin kepala puyeng aja! Sial bener! Dengus Biren dalam hati. Wartawan semakin banyak mengerumuni mereka, hingga sulit bergerak. Mengajukan pertanyaan yang sama berulang-ulang, membuatnya ingin berteriak. Kepanikan memaksa Biren untuk bertindak, memilih antara bertahan idealis atau berbuat manipulatif. Biren mengumpulkan tenaga untuk bicara. Dia tidak ingin citranya buruk karena dianggap artis yang tidak ramah pada media. Juga tidak ingin berita yang sudah terlanjur berembus keras itu malah menjadi boomerang jika ia menjawab sebaliknya. “Oke, oke! Tolong temen-temen kasih jarak sedikit untuk kami.” Pinta Biren yang dituruti para warta berita. “Iya kami akan menikah, secepatnya, untuk tanggal dan tempatnya, kita kasih tau nanti ya.” Senyum terpaksanya kini terpampang nyata. Sementara Didi, kekhawatirannya kini sudah sirna, ketika mendengar jawaban yang melegakan hatinya. Biren, biren ... Niat hati mau bicara Jujur malah terus terjebak dalam drama yang ia buat. *** Destinasi Didi kini berubah, Biren membawa Didi untuk menyambangi butique kalangan Selebriti high class. Designer kelas internasional se-famose Ikun. Ipan Kunance. Tuh betul kan, si Akang tuh gak sabar pingin ngajak segera ke pelaminan, sampai beli baju nikah di sini segala, pikir Didi masih gagal paham. Tak apalah biarkan dia bahagia bersama angan-angannya. Begitu takjub Didi dengan banyaknya gaun yang begitu indah, membuatnya sulit untuk menentukan apa yang akan dipilih untuk dikenakan. Meski sebenarnya belum ada yang suruh Didi untuk memilih. Mata Didi terlanjur membelak takjub, memandangi gaun sutra putih pada manekin. “Naksir ya?” tanya pria tinggi nan gempal yang lebih mirip beruang kutub, bernama Ikun. “Cantik... Pasti mahal.” “Emberan ... Ini udah ada yang punya, shay. Yey hanya bisa memandanginya saja dari kejauhan.” “Punya siapa Kak?” “Punya Diva Indonesia dong, siapa lagi kalau bukan Syahremi” Jawab Ikun, sambil mengibas poninya yang panjang, Ikun pun memperhatikan gaya Syahremi bernyanyi dengan mic dari sisir roll miliknya. “Sesuatu yang ada di kopermu, sesuatu yang ada di kantongmu, sesuatu yang ada di dompetmu, Sesuatu juga ada dalam kutngku. Huwooo...” “Haha ... Si kakak bisa aja, memang apa sesuatunya?” “Duta lah, di kutang mak gue juga ada. Udah ah cuss... Lu mau yang mana?” “Yang ini sudah ada yang punya, terus Didi boleh pilih yang mana atuh?” “ di sindang, ini khusus buat size mini kayak Yey.” Lebih tepatnya ukuran pas untuk orang-orang cebol. Didi mengambil mandiri pilihannya, karena Biren sudah memberi akses penuh agar Didi mengambil apa yang dia suka. Padahal sih sebetulnya Biren malas untuk mengurusi keperluan pernikahan yang tidak pernah diharapkannya. Pilihan akhirnya jatuh pada gaun yang sederhana nan sopan, itulah yang paling pas dengan selera Didi yang bersahaja. Gaun berlengan panjang, dengan bagian bawah berbentuk duyung yang menjuntai itu ia kenakan. Ikun pun ikut merapikan penampilan Didi, dengan sedikit menata rambutnya agar lebih kelihatan elegan. “Nanti bilang sama MUA nya rambutnya minta diginin pas acara. Oya mang kapan sih rencananya? “ Ikun menggerai rambu Didi, mengambil setengah bagian untuk diikat dan dihias. “Belum tahu, itu sih terserah Akang Biren aja.” Jawab Didi melirik lalu menunduk, malu-malu. Sok imut, Jadi pengen nimpuk. “Ihhh, Akang... Manjalitah deh panggilannya.” Kreak Tak lama asisten Ikun yang berperawakan macho bak Marcelino Revlan datang, sambil berkata, “Alemong cin! Pangeran Yey sebentar lagi dateng, Cap cus siap-siap! ” ini sih bukan Marcelino Revlan tapi lebih mirip Marimar. Pria berambut hitam sepanjang tengkuk, dengan anak rambut yang bergelombang, dagu yang tirus dengan garis rahang nan tegas, bahu tegap dengan postur tubuh tinggi bak model catwalk berjalan. Mengenakan stelan jas berwarna putih dengan kancing kemeja yang tebuka. Formal namun tetap eksentrik! Tak berhenti-berhenti Didi memandangi Biren yang serupa opor lebaran, hidungnya mulai gatal seperti ingin mimisan. Debaran jantungnya kencang macam balon angin yang sedang di pompa naik turun. Liurnya menggenang mirip-mirip genangan air di Jakarta pas habis hujan. Aih, sekarang aja yuk langsung ke KUA. Gak usah nunggu lama-lama. Benak Didi berdialog lagi. Ia pun langsung terkesiap menyadari Biren menghampirinya. Didi merapikan ujung gaunnya lalu berjalan perlahan, membuat kelopak mata Biren tidak berkedip saat melihatnya. Sepertinya Akang terpana begitu melihat Didi, ish jadi malu. Begitulah sangka Didi. Biren mengangkat kedua simpul bibirnya, matanya berkaca-kaca melihat gadis cantik berkulit putih nan semampai berjalan perlahan menghampirinya. Senyum menawan mengiasi bibir wanita yang sangat ia rindukan kehadirannya. Rasanya ingin memeluk, namun kenyataannya membuyarkan semua fatamorgana yang ia lihat. Tatapannya berubah menjadi sendu, nyaris menangis ketika melihat bayangan Monalisa berganti wanita lain yang tidak pernah ada dihatinya. “Akang, Didi cantik gak pakai ini?” “Cantik ...” Bibir kedua insan itu saling terangkat. Senyum tulus mengembang pada Didi yang terlampau bahagia, hingga tidak menyadari, di hadapannya kini ada senyum palsu yang mengembang menahan kepedihan dari hati terdalam. Apakah Didi mampu menyembuhkan luka itu dengan mengganti bayangan Monalisa? Atau gambar pernikahannya hanya berada dalam pigura, menjadi pajangan yang terpampang pada dinding kamar?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN