Cewek Bawa Hoki

1076 Kata
Biren membenturkan dahinya pada sisi meja. Tidak berhenti menarik dan membuang napas. Kini ia meremas-remas kepalanya yang terasa pening. Niat hati memperlancar rezeki dan pamor. Eh malah tercebur kolam. Bukan nyebur lagi, udah kepleset, nyebur, ketimpa tangga sama pohon-pohonnya. Terus di kejar tetangga disangka maling mangga. Apess sudah digebuk masa. “Fuuuhhh ...” diembuskannya keras napas itu, sambil berjalan bolak-balik memikirkan apa yang seterusnya harus dilakukan. “Gimana dong Bim?! Masa gue harus nikah sama cewek undian itu sih?!” “Ya gimana lagi?! Kalau lu bilang ini Cuma salah paham, apa mereka semudah itu nerima? Apa Didi mau lanjutin lagi kerja sama bareng sama lu? Lihat nih! Dalam waktu berapa jam aja, beritanya udah nyebar ke mana-mana.” Bimo menunjukkan textline pada gadgetnya. “Argh! Gila!” Biren semakin gusar, mengacak-ngacak rambutnya. “Tapi bagus bro ... Berita lu dimuat di halaman utama. Apalagi kalau insiden cegat Asep tadi di blow up, bisa tranding satu berita viral! Ini artinya, pamor lu bisa naik lagi.” “Ck, viral karena masalah? Gak banget! Gue maunya karier ke artisan gue tuh viral karena talenta, karena kerja keras!” Si Akang ini kadang kalo ngomong gak ngaca, padahal bukannya dia yang mau manipulasi publik. Dari hasil kerja keras Didi, terus diakui sebagai hasil kerja kerasnya? Sungguh terlalu, kata bang Roma. “Itu bukan masalah Man, it’s a good news! Percaya deh sama gue, tu cewek bawa hoki. Lagian lu tinggal nikahin cewek itu aja apa susahnya?” “Please bro ... lu sebagai manajer gue, seharusnya paham dia tu bukan tipe gue banget. Dan gue belum recover sama perasaan gue sehabis Lisa pergi. Mana mungkin sih gue nikah tanpa rasa cinta.” “Apa sih yang gak mungkin, kecuali makan kepala sendiri. Orang Jowo bilang witing trisno jalani soko kulino. Cinta itu hadir karena terbiasa. Logis man ... Sekarang lu pikir masa depan lu, karier lu. Lu pikir baik-baik deh, mau pilih gak nikah dan stuck sama popularitas lu yang biasa-biasa aja kayak sekarang. Atau nikah, terus ambil banyak kesempatan yang terpampang nyata di depan? Karier lu bakal meroket berkat cewek undian, percaya deh sama gue!” “Terus ... Kalau gue gak bisa cinta sama dia gimana? Nikah itu bagi gue sakral banget, bukan hal buat main-main. Satu seumur hidup.” “Ah, Come on man! Gue ngerti perisip nikah cuma satu, tapi dari zaman Mesopotâmia, megalitikum. Selir raja aja bisa banyak di mana-mana. 500 tahun loh sedari dulu sampai zaman milenial masih berlaku. Makannya poligami sah-sah aja ditegakkan untuk menghormati wanita dari pada jadi selir.” “Ngaur lah ngomong sama lu!” Biren melempar jaketnya ke sofa, memilih masuk ke dalam kamar dari pada mendengar saran Bimo. “Heh, serius nih! pikir-pikir lagi saran gue! Jangan sampe lu nyesel dikemudian hari, gara-gara gak ngikutin saran gue!” teriak Bimo dari ruang TV. *** Satu hari terlewat. Biren enggan membalas caht dari Didi, apalagi mengangkat telepon darinya. Pikiran pemuda berbintang virgo itu masih saja gusar, dilema antara harus menyudahi kebohongan itu atau lanjut nyebur sekalian. Ia memilih menyalakan TV untuk mengalihkan semua kegabutan itu. “Kisah percintaan paling romantis sekarang diduduki oleh kisah cinta Birendra Padmana dengan gadis sederhana bernama Didia. Kedekatan mereka memang tidak terendus oleh media. Namun awal mula pertemuan mereka sempat diabadikan oleh kamera. Uniknya, pertemuan pertama mereka diawali dari hasil undian minuman kemasan. Kita simak bagaimana kencan pertama mereka yuk ...” Siaran TV pun memutar setiap kenangan kencan Biren bersama Didi kala itu. Melihat cuplikan video tersebut, Biren langsung menundukkan kepala. Pusingnya jadi bertambah bukannya berkurang. Ia pun segera memencet remote TV, mencari chanel yang lain. “Kabarnya Birendra sudah resmi melamar Didia, dan akan segera melangsungkan perhelatan resmi mereka. Mari kita simak pengakuan dari ibunda Didia.” “Bener atuh, kemarin Birendra datang kemari. Eta bawa uang seserahan sekalian. Ibu juga tidak nyangka si Didi bisa pacaran sama artis. Soalnya mah, anak saya orangnya tertutup. Tau-tau Biren datang saja, mendadak ngelamar Didi. Sok, doa keun semoga acaranya nanti lancar.” “Kapan Bu acara akad dan resepsinya berlangsung?” “Segeralah pokoknya mah.” Bukan pusing lagi, kepala Biren serasa dihantam oleh serangan tinju Crhis Jon bertubi-tubi, bak samsak yang membuat migrennya langsung kumat. Biren mengganti lagi siaran dengan stasiun TV yang biasanya menyuguhkan film kartun anak-anak. “Mari kita dengar yuk, tanggapan fans soal berita yang sedang viral hari ini.” Ee.. Tahunya stasiun tv anak-anak juga gak mau ketinggalan siarin berita viral. “Masa sih gak percaya?! Kalo calon istrinya orang biasa, kenapa Biren gak nikah sama gue aja ya?” “Wah, gak nyangka. Tapi salut buat Biren dari pada dia patah hati terus pacaran sama yang seprofesi, mending cari yang biasa aja. Ih, I can’t wait! Udah gak sabar nunggu mereka nikah!” “Selamat ya Biren, kami para fans mu bangga. Ternyata kamu beneran artis yang low profile. Ah, ini sih kayak cerita Cinderella. Atau kisah-kisah lady Diana gak sih?” Yang luar biasa sekarang kekalutan Biren bertambah, bak balon ditiup yang semakin lama semakin membesar. Dari pada Harap-harap cemas kalau balon itu akan meledak, mending langsung dimatiin TVnya. Kalau perlu mah dibanting sekalian. Biren yang frustrasi akhirnya memilih mengambil gawainya untuk menghubungi Didi. Sepertinya dia gak kuat menahan rasa sesak ini sendirian. Ya, Biren memutuskan untuk jujur, walau jujur itu menyakitkan. *** Biren memilih coffe shop yang tidak terlalu terkenal sebagai tempat mereka bertemu. Karna dia tahu akan ada saja kemungkinan pers mengintai, dia menggunakan kupluk beserta kaca mata gaya, untuk mengelabui pandangan orang yang lalu lalang. Dengan paras yang lesu, Biren menekan puntung rokok pada asbak porselen, hingga hanya menyisakan asap dari api yang padam. Sesekali ia menyeruput kopi, lalu mengeretakan jemarinya pada meja hingga berbunyi, menunggu Didi. Ia melihat ke luar jendela, belum juga ada bayangan seseorang yang ia nanti. “Akang...” Eh, ternyata sudah berada di depan mata. “Duduk, Di ...” pinta Biren dengan nada pelan. Didi begitu semringah, wajahnya cerah bagai bohlam. Ia mengira Biren akan mengajaknya berdiskusi masalah pernikahan. Menetapkan tanggal, tempat, gedung sampai ketringan. Bahkan Didi sudah membawa list apa saja yang harus disiapkan. Didi terus mengembangkan senyuman menanti satu dua patah kata yang diucapkan calon pacar halal, sampai pipinya keram. Tapi sesaat kemudian senyumnya hanya menyisakan segaris bibir yang datar, ketika melihat wajah Biren yang kusut tidak secerah seperti biasanya. Redup ... Macam nyala petromaks pas mati lampu. “Begini Di ... Sebetulnya ... Tujuan gue mau ketemu sama lu, karena ... ”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN