Pangeran Berkuda

1076 Kata
“Kumaha atuh, Pak Asep belum datang?”  bu Esih kini mulai cemas, mondar-mandir menunggu kedatangan calon besan. Dandannya mulai luntur karena sudah satu jam menunggu. “Parantos atuh Ma, calik.” Bapak berusaha membuat Bu Esih tidak cemas, menyuruhnya duduk. “Calik-calik! Coba,  teleponin lagi Pak!” rutuk Bu Esih yang kemudian menyeru. “Eleh, antosan wae! Meureun lagi di jalan.” “Di jalan! Masa udah telat satu jam masih di jalan!” Untung  mereka gak tahu apa yang sebenarnya terjadi di jalan MHT. Mobil Bimo sudah terpikir melintang  di depan gang,  sengaja mencegat rombongan keluarga Asep yang datang membawa barang seserahan. Bersiap jadi penjagal. “Sorry, jalanannya lagi di pake buat keperluan syuting.” Kata Bimo ketika melihat seseorang yang diduganya calon mempelai prianya Didi datang. “Tapi saya ada acara penting,  gak bisa kitu ini kan jalanan umum.  Kan bisa numpang lewat sebentar.” Terjadilah keributan kecil di antara  mereka. Untung saja ada Ares yang sedang nongkrong sambil main gitar.  Biren buru-buru mendekati Ares, meminta pertolongannya. “Res,  lu mau kan bantuin gue  nolong Didi?”  Ares tahu bahwa sekarang sohibnya lagi menderita. Tidak usah pikir panjang,  Ares menaruh gitarnya, sigap menolong Biren apa pun caranya, asal Didi batal kawin.  “Hayo! Didi gak boleh berakhir di pelaminan sama aki-aki!” Ares memanggil Pak Rt yang tentu saja sudah di sogok uang terlebih dahulu oleh Biren, agar bicara pada  Asep beserta rombongan. “Nah,  itu Pak Rt dateng. Coba tanya sendiri, bener gak jalanan ini gak boleh di lewatin.” Kata Bimo lagi pada Asep. “Betul begitu pak Rt?” “Iya,  lagi ada shooting. Jalanan ini sudah disewa untuk keperluan shooting.” Jawab Pak Rt,  yang ternyata masih sulit diterima Asep. “Kalo Suting kok sepi?” “Lagi istirahat, sedikit lagi mulai shooting. Nih,  artisnya aja sudah dateng.” Sahut Bimo menunjuk pada Biren. Biren membuka topi dan kaca mata hitam yang semula ia kenakan. Membuat rombongan Ibu-ibu dan remaja langsung memekik, begitu melihat wajah rupawan itu. “Hahhh!  Itu Birendra!” mereka mengerubungi dan bersemangat memfoto Biren lewat hape. “Nanti ya! kita mau lanjut shooting!” Bimo menghalau gerombolan perempuan itu,  menyuruh Biren untuk cepat ke rumah Didi  selagi Asep kebingungan. Biren pun langsung berlari kencang pada saat ... Dahi itu mengerut, mata Didi memerah,  kelopak matanya sembab,  dandan yang dipoles bu Esih sekarang luntur akibat air mata yang sedari tadi berderai. Didi meremas ujung gaunnya,  sesekali menengok ke arah pintu yang sedikit terbuka. Mengecek apa Asep jadi datang atau enggak. Batinnya terus berdoa agar asam lambung dan asam urat Asep kumat, hingga dia membatalkan acara. “Assalamualaikum.” Samar-samar ada suara lelaki mengucap salam. “Wa alaikummussalam.” Perasaan Didi semakin gusar. Tamatlah sudah riwayatnya! Kepalanya seperti tertimpa batu nisan bertuliskan RIP. Rasanya ingin masuk ke keranda mayat saja sekalian. Aduh gusti, mau bunuh diri dosa, tapi kalau hidup, batin Didi teh tersiksa. Begitu merananya suara hati Didi. “Didi,  kadieu!” terdengar bapak memanggil dari luar. Didi menarik napas panjang,  bercermin sejenak untuk merapikan penampilan. Berjalan perlahan,  merasakan gemuruh jantungnya yang bersahutan dengan deru napas. Menelan ludah,  sebelum matanya membelak lebar. Tak habis pikir, tidak percaya ... “Akang?!” Didi memekik. Mendapati Biren yang tengah duduk bersama Mama dan Bapak di ruang tamu,  bukan Asep. Bertambah kencang saja debaran jantung Didi,  ia tidak menyangka begitu cepat Gusti Allah mengijabah doanya. Gadis berambut legam itu duduk di dekat Ibu Esih yang ternyata sama syok dengan dirinya.  Sedari tadi beliau hanya mengelih.  Tidak bergerak sedikit pun, kaku seperti habis berendam air raksa. Benaknya terus bertanya,  apa yang dilihatnya artis sungguhan? Atau gambar poster yang terpampang dikamar anaknya? Lekum Biren bergerak naik turun, ia mencoba menghilangkan grogi saat menghadapi kedua orang tua Didi. “Begini pak,  maksud kedatangan saya ke sini ...  mau minta izin bapak dan ibu. Eng, saya mau minta Didi ...” Belum juga Biren selesai bicara,  bapak ikut histeris mendengarnya. “Minta? Minta Didi? Allahu Akbar!” si bapak langsung memegangi lengan bu Esih, “Kumaha ieu Ma,  anak kita yang minta teh artis?” “Sok atuh disegerakeun ...” antusias Mama. Heleh ceu Esih kumaha?  kemarin teriak-teriak anaknya cuma mimpi! Sekarang serasa bangga punya anak gadis bisa ngegebet artis. Mendengar perkataan Bapak dan Mama Didi,  nyali Biren kian menciut untuk melanjutkan kalimat yang terjeda.  Haduh,  gimana ini?!  Yang gue maksud,  gue minta Didi buat lanjutin kerja sama jadi ghost writer.  Bukan yang lain.” “Assalamualaikum ... “ tiba-tiba datanglah Bimo dengan membawa fresh money di atas nampan yang baru pinjem sama pak RT,  lengkap sudah kesalah pahaman ini. Bimo langsung cengengesan sambil bertanya,  “Sudah di utarakan maksud kedatangan Birendra ya? Jadi Didi di izinkan gak Pak, Bu,  Biren bawa ke Jakarta? Ini sebagai tanda terima dealnya.” Imbuh Bimo seraya memperlihatkan uang gepokkan di atas nampan. MasyaAllah, Esih teh teu nyangka punya anak gadis yang membawa berkah. Kalau Didi nikah sama artis lalu tinggal di Jakarta, kan Esih jadi bisa sering-sering main ke sana. Jadi orang Ibu kota,  hebat euy. Belum lagi nanti teh usaha Esih jadi terkenal,  harum sampe ke Jakarta. Orang-orang di sini pasti kesumbat mulutnya, terutama yang bilang anak Esih tu perawan tua.  Heleh rasakeun! Lihat nih,  Esih gak salah didik anak. Anak Esih bisa mengharumkan nama orang tua,  bisa terlenal, masuk tipi, jadi orang kaya! Ngapain harus nikah sama Asep,  kalau ada artis ganteng dan sukses mau jadi menantu Esih. Ini sih lebih dari sekedar rezeki nomplok. Pikiran Bu Esih pun kini treveler dari sabang sampai ke merauke. “Atuh kami mah, menyerahkan sama Didi saja. Mau terima Nak Biren atau engga.” Jawab pak Cecep bijaksana. “Pastilah Didi mah mau, ya kan?” Selak bu Esih,  melempar tatapan penuh harap pada Didi. Tentu saja hati Didi saat ini sedang berbunga-bunga. Meski tadi sempat berpikir mustahil,  ternyata pikirannya itu malah melangkahi kehendak Tuhan. Sudah gagal nikah sama Asep aja sangat bersyukur luar biasa, apa lagi dilamar Birendra,  gak bisa di bayangin gimana rasanya sekarang kembang api lagi meletup-letup di dalam hati Didi. Ini sih dreame come true. “Didi ... Tentu aja Didi mau,  akang ...” jawab Didi malu-malu. “Friwitttt!!! Didi mau nikah sama artis!” sorak gembira Ares dan Pak Rt yang ternyata sedari tadi berada di luar rumah, sedang menguping. Suasana dalam rumah Didi kini diliputi kegembiraan,  sementara Bimo dan Biren saling melempar pandangan. Ada suara jangkrik mengilik benak mereka yang sedang diliputi tanda tanya besar. “Nikah?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN