Nelangsa Desperado

1122 Kata
Jakarta,  macet,  polusi,  sesak,  panas. Hemh,  semua itu gak berlaku  untuk Aktor sekelas Biren Padmana yang sedang berada di dalam mobil mewah,  berfasilitas  AC dengan tripel blower. Tak peduli betapa bising di jalan, ia asyik melantunkan nyanyian Alan Walker dari radio yang berputar.  Ah,  sultan mah bebas ... “Parah nih macetnya bos,  bisa on time gak ya kita?” tanya Bimo kepada Biren sambil terus memantau laju mobil di depan. Biren tak menanggapi,  ia kini sibuk dengan gadgetnya.  Membalas pesan Didi yang mengejutkan. Cewek Undian : [ Kang, bisa ketemu siang ini gak di tempat kemarin? Penting banget ada yang mau Didi sampein.] “Puter balik,  Bim.” Pinta Biren masih mengetik chat. “Loh,  kenapa? Kita kan ada on air.” “Cewek undian ngajak ketemu.” “Halah, paling juga gak seberapa penting.” “Kayaknya sih ini penting, kalo di baca dari bahasanya. Lagian kemarin gue juga sempat ngajak dia ketemu.” “On Air ini bos, yang lain kan bisa ditunda nanti lah.” “Bim, bayaran dan peluangnya gak seberapa besar dibanding kita tembus kontrak sama Bang Roy kan?” “Iya juga sih. Oke,  puter balik!” Bimo memutar arah kemudinya menuju cafe di sebelah agency artis sesuai petunjuk Biren. Jalan pulang memang selalu lenggang di bandingkan arah berangkat ke setasiun TV pada jam makan siang. Beruntungnya Didi, karena gak harus menunggu lama ternyata Biren sudah berada di parkiran. Kelihatan persisi olehnya bagaimana perawakan tinggi dan memukau itu berjalan, sebab mereka hanya dibatasi dinding kaca yang transparan. Didi menarik strow dari bibirnya yang semula terkatup, begitu melihat bayangan Biren memasuki pintu Cafe. Jantung Didi kini terus berdebar,  seperti saat mereka baru saja bertemu.  Namun sayangnya hari ini bukan debaran kesenangan yang ia rasakan. Tapi kesedihan,  debaran ingin menyatakan perpisahan. Debaran seperti ingin memutuskan pacar, walaupun tidak pernah ada hubungan spesial. “Sorry ya jadi nunggu. Gimana,  naskahnya udah selesai?” Biren menarik kursi di hadapan Didi. Ia menyangka Didi mengajak bertemu karena ingin memberikan naskah,  atau mungkin mau menanyakan sesuatu yang Didi tidak mengerti seputar skenario mereka. “Baru jadi setengah kang,  maaf ya ... Eng ...” Didi menggigit bibirnya,  ragu-ragu untuk mengutarakan maksud kedatangannya. Sementara Biren menyatukan kedua alis, menanti wanita berkulit sawo matang ini bicara. “Didi teh gak bisa lanjutin pekerjaan Didi lagi.” “Kenapa?!” bukan main,  pernyataan Didi bagaikan anak panah yang melesat menjatuhkan piala penghargaan lalu menghunjam tepat pada d**a Biren menembus jantung. Waduh! Hilang sudah bayangan pundi-pundi uang dan ketenaran! “Banyak kendala Kang.  Satu karena jarak yang memisahkan,  eh maksudnya jarak yang membuat tidak efisien saat harus mendalami karakter akang. Dua,  orang tua Didi gak mengizinkan. Tiga ...” suara Didi terdengar berat saat ingin mengucapkan kalimat selanjutnya. Pundaknya tak kuasa bergerak naik turun,  menahan air mata yang mulai berjatuhan. “Didi mau dijodohkan,  kang ....  Huaaa uaaa ...” tangisannya kini pecah menjadi raungan. Membuat mata para pengunjung cafe menyoroti mereka. Biren bingung bagaimana cara menenangkan Didi,  sementara perasaannya juga dilanda kemelut. Ia mengangkat sebelah tangannya hendak mengusap bahu Didi. Sedangkan sebelah tangannya lagi mendorong kotak tisu ke arah gadis malang itu. “Memang calon suami lu juga gak ngijinin jadi ghost writer?” “Gak tahu kang,  Cuma sekarang, Didi sama sekali gak bisa konsentrasi, mau dijodohkan sama aki-aki, beranak lima. Makan gak pingin,  tidur juga gelisah gara-gara masalah ini. Sepertinya sudah gak ada solusi lagi selain menyerah.” Sial! Geram Biren dalam hati. Dia bukan kesal Didi mau dinikahi aki-aki,  melainkan kesal karna akseptasinya sekarang luruh,  kayak tanah longsor yang kemudian di terjang tsunami. Menghanyutkan angan-angannya,  target dan pencapaian yang akan didapat.  “Memang nikahnya kapan Di?”  “Sebentar lagi kang, tiga hari lagi mau seserahan.” Jawab Didi lesu,  sambil mengelap hidungnya yang berair. “Srrroottt!”  menumpahkan semua isi hidungnya pada tisue hingga basah. Ieu... Gak bisa gini nih... Harus ada solusi. Gue harus datengin keluarganya kalau perlu samperin calon suaminya. Mereka kan bisa diimingi-imingi dengan duit berjuta-juta. Cukup menunda masalah sampai proyek gue kelar. Monolog Biren dalam hati. *** Biren kini mengeluh pada Bimo yang merupakan manager sekaligus pakar konsultasi, alias tempat curhat gratis. Bimo itu orang yang paling bisa diandalkan dalam segala situasi termasuk memberi solusi. “Udah, mendingan kita cari aja ghost writer lain.”  Tukas Bimo,  dari pada keluar duit dua kali. Nyogok keluarga Didi dan bayar upah si Didi mending cari  jalan yang mulus, simple, efisien dan praktis, begitulah hemat manager Biren yang bertampang sebelas dua belas sama Daniel Minta apa, host Indonesian Odol. “Masalahnya udah mepet Bim. Apa bisa efisien waktu kalo begitu? Bang Roy udah ngingetin dateline terus dari kemaren.” Biren mengacak-acak rambutnya, otaknya kini buntu buat berpikir. “Tenang,  entar gue cariin.” Bicara memang mudah,  praktiknya? Sama seperti dugaan Biren. Kali ini solusi Bimo gak bikin efisien waktu.  Biren terus dikejar dateline sementara beberapa pelamar ghost writer gak ada yang sesuai dengan tulisan Didi. Tidak ada yang sama feelnya.  Menulis bukan hanya sekedar menulis tapi harus ada jiwa yang hidup dari tulisan tersebut.  Intinya,  tidak ada yang sehidup tulisan Didi. Dua hari terlewat, menyisakan satu hari yang paling membuat dua insan itu,  Didi dan Biren, kalut. Yang satu kalut akan setiap detik yang berlalu,  kerjanya hanya memandangi jam terus,  membayangkan nanti malam seserahan akan datang. Yang artinya,  pernikahan sebentar lagi akan digelar. Didi menatap langit lewat jendela dengan tatapan nanar.  Entah sudah berapa banyak tisu dia habiskan untuk menghapus jejak air mata dan ingus. Berharap takdir berkata lain. Berharap banget tahu-tahu si Asep sakit perut dan ngebatalin.  Atau gak kena virus covid biar dibawa ke wisma atlet. Aduhai nasib-nasib. Bagi Didi mengharapkan Biren datang bak pangeran berkuda itu .... mustahil! “Sok atuh,  sekarang cari siapa lelaki mapan yang siap ngawinin kamu? “Nah,  apa lagi dia. Sampai tahun monyet juga gak level sama kamu.  Mimpi Didi,  Mimpi aja terus!”  Kata-kata Mama hari lalu terus terngiang di setiap Didi berangan-angan. Bagai suara nyaring waker yang membangunkannya untuk segera menerima kenyataan.  Sementara dari balik jendela,  ada Biren yang memegang gawainya.  Ingin sekali meyakinkan Didi untuk menentang keluarga,  tapi jelas dia bukan siapa-siapa. Kepentingannya tentu gak seberapa dibanding pemikiran masa depan yang disiapkan orang tua Didi untuk anaknya. Duh,  benar-benar dilema ... “Ini gara-gara lu! Gue bakal kehilangan job lag!” tak ada jalan selain melampiaskan kekesalannya pada Bimo. “Lah, kok gue?! Gimana kalau lu sendiri yang bikin skenarionya dari pada ngarepin ghost writer. Comeon bro! lu harus bangkit dari keterpurukan masa lalu. Lu pasti bisa keluar dari writer block.” “Hah!” Biren mendongakkan kepala,  menekan-nekan dahinya. “itu gak  gampang Bimo! Sekarang pikirin solusi pastinya apa?!” “Oke oke,  kita nekat aja! Cara final nih! Berhasil gak berhasil, kita datengin rumah Didi!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN