Duda Lapuk

1291 Kata
Tengah malam waktu yang pas bagi kalong wewe gentayangan. Salah satunya ada yang lagi sibuk gentayangan di online. Biar gak sepi, perempuan berparas manis ini sengaja nongkrong di warnet milik teman kesayangan. Walaupun gak sayang- sayang banget sih, malah dominan gelay. Didi menopang dagunya, menunggu email dari ayang embeb. Katanya Biren mau kirim contoh naskah skenario. Baru juga di tongkrongin lima menit. Eh, Email akhirnya datang dengan selamat alias gak pake macet. Didi mengamati betul standar kepenulisan yang di wanti-wanti Biren, Mencoba menulis sesuai PUEBI dan KBBI yang benar biar gak malu-maluin. Supaya kliennya makin cinta. Gak perlu pake pelet deh, cukup komat-kamitin mulut buat jampi-jampi doa selagi nulis. Hiah ... Sia dukun mah lewat! Ah, sepertinya jari Didi mulai keriting setelah setengah jam mengetik. Ia mengecek gawainya. Matanya membelak, senyum lebarnya terangkat ketika menerima pesan chat dari sang pujaan hati. Tuh kan ... Manjur juga doa sambil nulis dari pada ilmu pelet, kata Didi dalam hati. Ia membaca pesan itu dengan hati semeriwing padahal isi pesannya paling-paling hanya membahas soal pekerjaan. Ayang Beb : [ Di, tolong ganti gambaran tokoh utamanya jadi karakter gue] [ watak tokohnya juga harus kuat, mencerminkan diri gue] Eleh, bagaimana bisa tahu watak, pendekatan aja belum. Didi pun melancarkan akal bulusnya. Ia pun pura-pura dungu biar Biren kembali mengajaknya kencan. SweetDe : [ Tapi, Didi kan baru ketemu Akang dua kali, belum tahu banyak tentang Akang.] Ayang Beb : [Mm, iya ya. Kayaknya kita harus sering-sering ketemu. Next, kita ketemuan lagi dengan durasi yang lebih lama ya?] Aduh gusti, kenapa isi hati Didi teh sama kayak akang. Hati kita tuh nyatu, mirip truk gandeng, eh bukan. Lebih tepatnya Hati kita tuh bagai dua hape terkoneksi sinyal GPS yang menyatu. Eahhh ... Rasanya Jadi pengen cepet-cepet ganti hari. Biar cepat-cepat ketemu. Padahal baru saru hari gak ketemu, tapi rasa rindunya seperti kata Delan. Rindu itu berat, seberat ongkos dari Bandung ke Jakarta apa lagi naik taxi online. Niat hati mau fokus kerja, tapi Didi malah sibuk melambungkan harapannya. Terlalu banyak, sampai nyangkut di awan, membuat super man dan gatot kaca jadi susah manuver untuk terbang. “Hoahhhh...” Didi mulai menguap, membuat mulutnya serupa corong vakum cleaner yang siap menyedot segala macam serangga terbang dari segala penjuru. Ngung ... “Hamp, ukhuk uhuk... “ “Nyamuk sialan!” Tuh kan, baru juga di bilang. Sementara di pojokan sebelah kiri, ngumpet di balik dispenser, ada yang sedang treveler melimpir ke film hentai. Ada yang tau? Ah, sepertinya tidak perlu di perjelas secara gamblang ya. Cukup mendeskripsikan saja wajah mupeng pria satu ini. Lelaki dengan kaca mata masa kini, tapi muka masa gituh. Mulutnya menganga, bola matanya melebar, lalu cuping hidungnya mulai kembang kempis. Ditambah imajinasinya meningkat setelah bertemu model-model berkulit mulus nan halus kemarin. Semakin membuat visual khayalannya bertambah ngaur. Ck ck ck, Ares Ares ... Peletuk! "Heh ! Nonton be ep deui nya?" Didi memukul kepala Ares dengan hape begitu melihat gambar Be-ep dari layar komputer Ares. “Cuma kartun. Itu juga belom ngapa-ngapain, keburu lu dateng.” Ares buru-buru mematikan layar komputernya, sedang sebelah tangannya mengusap-usap kepala. Dia tahu betul sedang berhadapan dengan karateka bersabuk hitam. "Memang na maneh ngarep nanaonan kitu? Heulueh, Dosa banyak malah ditambahan deui. Nanti mata maneh di colok di neraka! Hih serem!” ceramah Didi tak kalah nyelekit dari mamah dedeh. "Rek Mayar yeuh !sakalian tadi nyokot congacola hiji" Didi memberikan uang kertas lima puluh ribu pada Ares. “Cepet amat, mang udah kelar nulisnya?” Ares memberikan uang kembalian pada Didi. “Belom, udah ngantuk. Korting atuh, sama temen juga.” “Bisnis is bisnis, gak kenal temen.” “Hih, pelit!” Didi berjalan pulang. Tak jauh dari warnet sudah kelihatan terpal hijau bertuliskan “Sayur Segar Ceu Esih!” dengan logo sawi dan cabe sebagai pemanis. Dari kejauhan terlihat Bapak sedang berjabat tangan dengan rekan sesama profesinya yaitu Pak Asep, duda lapuk beranak lima. Feeling Didi pun mulai terserang corona, langsung meriang bikin gak enak pikiran. “Nah itu Didi, Assalamualaikum ...” sapa Pak Asep, dengan senyum yang membuat kumisnya semakin ngetril. “Wa alaikummussalam.” Mesem Didi, mulai diliputi kejanggalan. “Kamu dari mana aja? Dari tadi di tungguin.” Bisik bu Esih yang mendekat ke putri sulungnya. “Dari warnet. Memangnya ada apa?” "Enjing we ngajelaskeun na mah .tos wengi. pak Asep ge bade uwih." Kata bapak, menjelaskan agar besok saja di jelaskannya, karena sudah malam. Pak Asep juga mau pamit. “Baik kalau begitu saya pamit dulu Pak Cecep, Bu Esih. Neng, Didi, Aa teh pamit. Assalamualaikum.” Ting Tong! Aa? Sejak kapan Pak Asep memanggil dirinya dengan sebutan Aa pada Didi. Ini sih clue-clue manjahh ... Setelah bayangan Pak Asep menghilang, Didi pun masuk ke kamar ditemani Bu Esih. Mereka duduk di sisi ranjang. Terlihat wajah Bu Esih yang mendadak menjadi glowing diliputi rasa senang. Bu Esih merapikan helaian rambut putrinya yang berantakan, sambil terus tersenyum memandangi Didi. “Kamu ngapain ke warnet?” tanya sang ibu sebagai pembuka obrolan. “Nulis, Ma.” Didi mulai heran melihat tingkah laku ibunya yang seperti habis menang arisan. “Udah, ga usah nulis-nulis lagi. Kamu gak usah kerja juga gak apa-apa, nanti kan jadi ibu rumah tangga.” “Maksud Mama apa? Didi jadi bingung.” “Pak Asep ke sini tadi, mau minta kamu.” “Maksudnya?!” terkejut sudah pasti, tapi Didi butuh penjelasan detail dari ibunya. “Iya, dia mau ngelamar kamu. Didi mau kan nikah sama Pak Asep? Dia sudah mapan, seoleh, baik hati, royal, punya kontrakan, kebun, sawah, ternak. Hidup Didi pasti terjamin.” Intinya ‘kaya. Aduh Bu Esih, pake di jabarin semua asetnya. Wajah Didi langsung memucat. Tak bisa ia bayangkan harus menikahi lelaki sesusia bapaknya. Mana harus ngurus anak lima, anak sulungnya saja sudah seumur Didi. Jadi apa dong manggilnya? “Gak mau ah! Aya-aya wae! Masa Didi di suruh nikah sama aki-aki! Pak Asep kan sudah punya cucu satu, Ma.” “Hus! lelaki mah gak ada istilah tua. Gak kayak perempuan yang bisa menopause. Selama masih sehat, dia masih bisa jagain kamu. Kan enak punya suami yang bisa ngemong.” “Gak mau! Pokoknya Didi gak sudi.” “Sok atuh, sekarang cari siapa lelaki mapan yang siap ngawinin kamu? Si Ares? Eleh, gak ada masa depannya cuma jaga warnet. Siapa lagi?” cerca Bu Esih, mulai naik pitam mendengar penolakan Didi. “Itu ... Saha namina?!” ia menunjuk poster artis yang terpampang pada dinding kamar Didi. “Birendra.” Jawab Didi lemas. “Nah, apa lagi dia. Sampai tahun monyet juga gak level sama kamu. Mimpi Didi, Mimpi aja terus!” Hati Didi kian menciut mendengar teriakan Bu Esih yang serupa sepiker masjid. Berbekas. Ngilu. Seperti tercubit lever itu. Oh, malangnya nasib Didi bagai Siti Nur Halizah. Eh, salah. Siti Nur Baya yang di paksa menikah dengan Datuk Maringgih. “Melek Didi, kamu hidup di dunia nyata yang sekarang apa-apa pake uang. Ke MCK aja bayar. Belanja di alpa maret aja kereseknya bayar. Mama sama Bapak, sudah tua. Sudah terbatas tenaga untuk jagain kamu, mikirin kamu, menghidupi kamu. Buatlah Mama dan Bapak tenang perasaannya. Sekarang fokus sama masa depan kamu dan Asep, gak usah lagi nulis-nulis. Buang-buang waktu. Terima yah pinangan Asep?” “Didi mau kan berbakti sama orang tua?” Didi hanya terdiam mendapat pertanyaan yang begitu menyayat perasaannya sebagai seorang anak. Siapa yang ingin menentang orang tua, siapa pula yang ingin jadi anak durhaka. Didi sungguh mencintai Mama dan Bapak. Ingin membahagiakan selagi ada. Ingin berbakti selagi bisa. Namun bagaimana jika bakti itu harus mengubur mimpinya, cita-citanya yang sedang ia rangkai. Mematahkan semua harapan. Tenggelam, bersama keinginan yang tidak pernah kesampaian. Malam ini, merupakan malam terberat untuk Didi dalam menentukan. Menggapai impian kah? Atau berbakti pada orang tua?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN