“Halo ini Didi ya?”
“I-ya.” Didi merasa penasaran dengan nomor tanpa nama yang menghubunginya. Sebetulnya takut nomor penipu yang suka sok kenal dengan kasih pertanyaan jebakkan, “masa gak kenal sih sama saya?” tapi gak boleh seudzon kata pak Ustadz Sabeni. mungkin aja ini nomor dari minuman kemasan, yang mau memberitahu kalau Didi menang undian lagi. Ya kali, sekarang hadiahnya dapet mobil BMW.
“Ini Bimo, manajernya Birendra Padmana.”
Tuh kan betul!!! Aih, hidup Didi selalu mujur.
“A-ada apa ya ka?”mendadak Didi menjadi salah tingkah meski yang telepon hanya manajer artis.
“Maaf ya mengganggu, Besok ada waktu luang gak? Biren mau ketemu.”
“Yang bener ka?!” wajah Didi kini terharu dengan mata yang berkaca-kaca, dan bibir yang bergetar seperti merasakan sensasi vibrasi naik bajai.
“Serius, kata Biren ada sesuatu yang penting yang mau dia omongin ke Didi.”
Ya, gusti. Mungkin kah mimpi Didi kemarin menjadi kenyataan? Gimana kalau Biren besok mau kasih cincin pengikat untuk Didi? Mama... Bapak... Didi teh laku ... Akhirnya, Didi terbebas dari predikat perawan tua! Decap kegembiraan pada hati Didi, menandakan impiannya yang mulai melambung tinggi.
“Jadi gimana? Besok bisa ke Jakarta gak?”
“Bisa kak ....”
Impian itulah yang membawa Didi sekarang menjajakan kaki ke kota metropolitan yang bernama Jakarta. Tentu saja bukan hanya bermodal nekat, dia datang ke ibu kota yang gak kalah macetnya dari Bandung. Ia mantap walau hanya bermodalkan niat, setelah menerima wangsit dari mimpinya kemarin malam. Didi pun sengaja mengajak sohibnya yang serupa peta milik Dora the eksploler, yaitu Ares yang kata orang wajahnya mirip Junior Leam habis ke tabrak truk peti kemas. Ares tahu betul seluk beluk Jakarta, karena dia pernah tinggal di Ibu kota lumayan lama sebelum akhirnya orang tuanya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.
"Res, ini bener tempatnya? Kita gak nyasar kan? Kok kitu banyak banget cewek menor di sini?"
“Heh, ini kantor manajemen artis, ya iyalah banyak awewe gulis. Ish, ck ck ck ... Gila, ini sih di surga, bisa liat cewek-cewek cantik pake pakaian mini.” Mata Ares melotot tidak berkedip sedikit pun melihat para wanita pesolek mondar-mandir di depannya. Kapan lagi bisa liat dan mencium aroma ayam boiler fresh baru keluar dari oven. Biasanya cuma bisa liat di internet sambil ngelamun pas jaga warnet.
“Akang!” Didi melihat Biren dari kejauhan hendak berjalan mendekat ke arahnya. Ia langsung memasang senyum sangat manis cenderung giung sampai semut pun ieu melihatnya.
“Eh, itu Biren... Biren!” beberapa artis FTV melambaikan tangan ke arah Biren. “Ren, makan siang bareng yuk..?” mereka merangkul Biren yang membalas senyum para wanita pesolek itu.
Ah, menyedihkan ... Biren seolah tidak melihat senyum pasta gigi Didi yang cemerlang. Sepertinya kilatan dari gigi Didi kalah dengan aroma ayam boiler yang sedari tadi tak lepas dari pandangan Ares. Ah, Biren melewati Didi begitu saja. Pemuda tampan itu berjalan sambil mengangkat dagu menghampiri para awewe menor yang di cibir Didi barusan. Sedangkan Didi hanya bisa mematung dengan giginya yang mulai mengering.
Seketika Didi langsung mengatupkan kembali bibirnya yang mulai keram karena kelamaan mengernyih macam nenek-nenek nyirih. Sungguh ironis, walaupun dalam batin ia masih terus membela Biren. Mungkin aja kan Biren gak lihat gue karena gue teralu kecil sampai gak bisa keliatan, ah bukan, mungkin karena gue terlalu biasa di antara awewe menor. Gak, bukan, pasti karena dia gak denger panggilan gue. Iya pasti karena itu.
“Nasib lu Di, di panggil Biren ternyata cuma untuk menyaksikan kenyataan pahit ini. Jangan-jangan yang nelepon lu cuma orang yang mau nge-prank doang. Udah gue bilang semua artis tuh sama, mana level dia sama orang-orang kayak kita.” Mengejek, begitulah cara Ares berempati pada sahabatnya. Ia menepuk-nepuk kecil pundak Didi, ketika melihat raut kecewa terpancar dari kedua mata gadis berkaca mata itu.
“Eh, Didi?” Didi dan Ares pun menoleh ke arah sumber suara tadi. “Saya Bimo yang waktu itu pernah jemput ke rumah. Masih inget kan?” Bimo memberikan tangannya untuk berjabat.
“Iya ka, kemarin telepon saya untuk datang ke sini untuk apa ya?” tanya Didi lesu, pikirannya mulai terkontaminasi oleh perkataan Ares tadi, Jangan-jangan Cuma di prank.
“Yuk, kita ke ruangan meeting.”
***
Yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pria dengan wajah tirus dan hidung bangir itu membuka pintu sambil menunduk. Tidak lama, dia mengangkat kepalanya bertemu pandang dengan cewek cupu yang tersenyum lebar di hadapannya.
“Akang ...” ihh, meni ganteng pisan pujaan hati eneng. Decap Didi dalam hati.
“Baru dateng ya?” Biren menarik kursi lalu duduk berdekatan dengan Bimo.
“Didi teh dari tadi nunggu akang di depan? Tadi kita ketemu, tapi akang gak lihat ya?”
“Oh ya? Sorry, gue gak lihat kalian tadi di depan.” tidak ada yang spesial dari perempuan berambut panjang itu di mata Biren, semuanya terlihat biasa-biasa saja dari ujung kaki sampai kepala. Yang membuatnya spesial hanya satu, tulisannya. “Langsung aja nih Di, tujuan gue manggil lu ke sini sebenernya karena tertarik...” hati Didi langsung kembang kempis mendengar perkataan Biren yang padahal baru sepenggal, “ sama naskah lu.”
Yah, kirain tertarik sama orangnya kitu, “Jadi akang udah baca tulisan Didi?”
“Eng... Iya.” Jujur aja sih Biren baru baca setengah bagiannya. Itu juga di baca karena sudah terlanjur sampai ke tangan Bang Roy.
“Terus? Tulisan Didi masih jelek ya?”
“Enggak, justru gue mau beli tulisan lu.”
Didi dan Ares saling melempar pandangan, seolah tidak percaya dengan perkataan Biren barusan.
“Hah? Yang bener atuh kang, jangan bercanda?! selain aktor kan akang novelis terkenal juga. Tulisan Didi mah gak ada apa-apa nya dibanding akang.”
Bimo langsung mengambil alih pembicaraan. “Begini, gue mau menjelaskan sesuatu tapi ini sifatnya rahasia ya diantara kita?” pandangan Bimo tertuju pada Didi dan Ares yang kemudian dijawab mereka dengan anggukkan. “Sebetulnya Biren terkena writer block.”
“Apa itu?” Ares bertanya dengan polosnya.
“Kelumpuhan ide dalam menulis, bisa bersifat sementara atau bisa lama. Jadi Biren butuh bantuan Didi buat jadi ghost writer-nya. Kita lagi ada project pembuat film, Didi bisa kan buat nulis skenarionya?”
“Ghost writer itu penulis hantu? Nulis cerita horor kitu?” maklum lah, Didi terjun ke dunia literasi baru satu setengah tahun terakhir. Istilah-istilah kepenulisan belum semuanya dia pahami.
“Bukan, ghost writer itu penulis siluman atau penulis yang dibayar untuk membuat karya orang lain. Jadi gimana lu berminat gak jadi ghost writer gue?” kini giliran Biren yang bertanya.
Antara senang dan sedikit kecewa, Didi mulai berkata dalam hatinya. Didi kira teh, akang panggil Didi buat ngelamar jadi istri akang seperti di mimpi.
“Gaji awalnya sepuluh juta, di bayar pas skenario pertama di buat. Dan gaji ke dua lu, sepuluh juta lagi di bayar pas skenario selesai. Udah gitu karya lu naik cetak ke penerbit lagi. Gimana?” Biren memicingkan matanya menatap Didi. Pastilah gadis itu syok, mendapat tawaran yang begitu menggiurkan. Dua puluh juta? Hah, ngebayanginnya aja udah susah ngitung fisik duutnya.
Ini pembuktian kalau tulisan Didi teh bisa menghasilkan uang, Mama pasti tutup mulut lah kalau di sumpel pake uang. Udah kitu. kalau jadi ghost writer kan, bisa merekatkan hubungan Didi dan Akang, Bukan..? Ahhh, Tentu aja ... “Didi mau kang!”
“Eh, Emak lu gimana? Emangnya boleh?” Bisik Ares sambil menyenggol lengan Didi.
Biar lah Ibu Esih menjadi urusan nanti, yang penting sekarang dil dulu. Urusan dimarahin belakangan. Anggaplah teriakan bu Esih itu serupa orkes dangdut pantura di siang hari, tarik sis ... Semongko!