Di Sarungin Aja Kang

1392 Kata
Sinar mentari membiaskan pandangan Didi, menutupi sesuatu yang indah di bawah cahaya pagi yang berkilauan. Senyumnya merekah, telapak tangan lebar seorang lelaki mampu menghangatkan, serupa sinar sang surya yang berguna bagi proses fotosintesis tumbuhan. Eh, mungkin tepatnya sentuhan lelaki di sebelah Didi dapat mencairkan kebekuan hati. Melelehkan, seperti es krim yang dibiarkan tanpa di jilat. “Mubazir...” lontar Didi sembari membayangkan lelaki di depannya serupa es krim yang meleleh. “Apanya yang Mubazir?” tanya suara lembut itu. “Kalo cuma dilihati aja, Akang jadi Mubazir.” “Terus diapain?” tanya Biren menyenggol pundak Didi dengan pundaknya. Ya Gusti, meni menggugah selera. Didi menelan ludahnya. Rasanya pingin jawab mau diputer, dijilat terus dicelupin kayak biskuit moreo. Eh, gak jadi deh, harus tahan-tahan iman kan belum sah ke pelaminan. “Disarungin aja kang wajahnya, Didi teh takut khilaf.” Jawab gadis berkaca mata tebal itu, bahkan kaca akuarium ikan lohan kalah tebalnya dengan kaca mata yang bertengger di batang hidungnya. “Khilaf juga gak apa-apa, sebentar lagi kan kita mau nikah.” Mata Didi membelak tak percaya, mulutnya mengaga lebar dengan liur yang melambai pada sisi bibir. “Beneran Kang?!” “Beneran, masa gue bohong. Di, lu mau kan nikah sama gue?” Biren membuka sebuah kotak kecil yang ia ambil dari dalam saku. Rupanya sebuah cincin berlian, membuat mata Didi semakin melebar dengan lubang hidung yang membesar. Mulutnya yang tadinya menganga sekarang berbentuk huruf O sempurna, bergerak-gerak hendak bicara tapi tertahan di tembolok. “Mau gak? Kok muka lu gitu sih.” Apa yang salah dengan wajah Didi? Didi pun mengecek dengan memegang ke dua sisi wajahnya. Lalu berpikir, persis Mpok Alpha kah? Atau mirip Asmiranda? Asal jangan mirip iguana aja. “Ya udah kalau gak mau.” Biren memasukkan kembali kotak cincin ke saku. Sambil menekuk wajahnya. “Eh. Ja-jangan dong akang!” begitu mandiri, Didi langsung merogoh kantung Biren dan memakai cincin berlian itu pada Jarinya. "Didi kersa ,kersa atuh nikah sama akang ,hayu atuh enggalkeun!" Dengan senyum semeringah Didi menatap kilat berlian pada jari manisnya, lalu menarik tangan Biren tapi beberapa detik kemudian ia terdiam. “Tapi ini bukan prank kan?” Senyum Papisoden mengembang dari kedua bilah bibir Biren, “Mana mungkin sih gue ngeprank. Apa harus gue tunjukin keseriusan gue dengan ini.” Bukan merinding lagi, jantung Didi kian cenat-cenut melihat pria tampan di hadapannya meraih kedua lengan. Menatap matanya, wajahnya hendak menerjang angin untuk bertemu pada wajah Didi, seraya bibir yang sebentar lagi meluncur. Aih, Rejeki nomplok! Mau sosor dosa, gak di sosor mubadzir jadinya. Batin Didi kini bergulat berpacu dengan waktu sampai ciuman mendarat. “Hemp!” bibir Biren terhalang oleh tangan Didi yang sigap, ia memundurkan kepala sambil bertanya, “Kenapa?” “Belum makhrom Kang, nanti aja kalau udah sah.” Jawab Didi malu-malu, menggigit bibirnya untuk menahan agar tidak berubah seperti ikan koi yang megap-megap mencari napas. “Iya deh, sayang. I Love you...” “I lope you tu ... Hihi.” “Ah, Jangan kitu Akang ...” "Eeh ieu b***k, diciprat air malah makin gila. Ini anak perawan, bangunnya kesiangan terus!" Tiba-tiba serangan fajar datang dari tangan mama Didi yang menyemprotkan spray pada wajah anaknya. Seperti sedang menyiram tanaman kembang kol, air itu masuk pada lubang hidung dan mulut Didi yang terbuka. Aa ... Apaan nih? Rasa-rasanya kayak pestisida? Didi bertanya dalam benak. Ia langsung menyeka wajahnya yang basah. Melihat mimik kiler sang ibu, beserta mata yang mendelik, bola mata keluar seperti ingin copot. “Mama!” “Bangun! Anter mama ka pasar!” Begitulah keseharian Didi selain menjadi author, profesi sebenarnya adalah tukang ojek pribadinya Ceu Esih Sukaesih. Maklum ibunya terlalu banyak berharap pada anak sulungnya padahal mah yang dilakukan Didi tidak pernah sesuai dengan harapan sang ibunda. Esih selalu berpikir lebih baik anaknya di kawinkan cepat-cepat dari pada jadi bulanan lambe turah tetangga yang suka nyinyir anaknya pengangguran plus perawan tua. Baginya, jadi penulis kan gak kelihatan kerja. “Ma... Di mana sanguna?” ini Ucup adiknya Didi, datang dengan seragam merah putih sambil menyeka ingusnya dengan telapak tangan. Terlihat kerak ingus menempel pada pinggir lubang hidungnya. Ieu, Ucup-ucup ... “Kemarin kan udah!” “Kurang atuh Ma kan buat ongkos sekalian.” “Gak usah pake ongkos! Barangkatna bareng sama mama, sama teteh.” Oceh Bu Esih yang makin lama makin panjang Juga nyaring. “Tapi Didi belum mandi Ma ...” “Elehh, biasana oge jarang mandi! Hayu, buru cuci muka!” Keributan pagi di rumah Didi berbanding terbalik pada Panthouse Biren. Saking sunyinya di kamar, Pemuda itu sekarang lebih sering tidur di meja kerjanya dari pada di kasur. Kertas-kertas menumpuk, dibiarkan tergeletak di atas meja. Semua kertas itulah naskah yang ditolak produser filem, begitu banyaknya sampai ia malas menulis lagi. Tapi bukan Biren namanya kalau menyerah begitu saja dari serangan writers Block. Kariernya tidak boleh tenggelam seperti hatinya yang galau, ia memikirkan banyak ide untuk bangkit dan tetap menjadi superstar, meski harus banting stir jadi model iklan. “Arkh, Weker penganggu!” Biren melepaskan tangannya dari tombol waker untuk mengucak mata. Sesekali menguap sambil mencari sesuatu di atas meja. “Mana, lagi?!” ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mencari naskahnya yang sudah ia siapkan tapi entah berada di mana sekarang. Biren merasakan kakinya menyentuh sesuatu di lantai, ia mendorong kursinya untuk bisa menunduk ke bawah meja dan fola! Ketemu apa yang sedari tadi dicarinya. Pemuda bertinggi 183 cm itu bergegas untuk mandi. Bersiap mendatangi RM production, kali ini harus berhasil, bayangkan aja sudah tiga purnama dilewati hanya untuk menyusun naskah bergendre romances dengan penghayatan yang luar biasa. The man was feeling blue, Harusnya bisa berhasil karena saat ini hidup Biren memang sedang dramatis banget. Semoga feelnya dapat menyentuh perasaan Bang Roy dan nasib keberuntungan berpihak kepadanya. *** RM production, pukul 13:30. “Gimana Bang? Udah lu baca kan?” tanya Biren pada kakak seniornya sewaktu masih jadi mahasiswa di IKJ (Institut Kesenian Jakarta), Bang Roy namanya, sang prosedur film terkenal di Indonesia. Namun kedekatan mereka terkadang tidak berarti apa-apa, penilaian Bang Roy benar-benar objektif tanpa melihat siapa yang hendak bekerja sama dengannya. “Hem,” dengus bang Roy. Biren mulai pesimis, sepertinya bakal ditolak lagi, padahal sudah satu jam menunggu bang Roy membaca Prolog dan tiga bab bagian pertama serta epilognya. Gak bisa dibiarin nih, Biren langsung ambil sikap, “gak apa Bang, besok aja bahasnya. Santai, baca-baca aja dulu.” “Gila! Lu dapet ilham dari mana sampe bisa nulis cerita kayak gini?!” Perkataan Bang Roy sontak membuat Biren jadi bingung, sebetulnya Roy mau menghina ceritanya jelek atau malah sebaliknya? “Maksudnya, bang?” “Ini ... Keren!” “Be-benaran bang?” “Iya, besok lu mulai tulis skenarionya ya?” Bagai habis buang hajat setelah menahan mules sekian lama. Akhirnya ... d**a Biren diliputi rasa lega, dia kini dapat melebarkan senyuman. “Siap! Makasih bang ... Akhirnya di terima juga. Pemeran utamanya tetep gue kan?” “Ya iya, gue gak nyangka lu bisa bikin cerita treller.” Bang Roy menepukkan naskah yang ia pegang pada lengan Biren. “Treller?!” apa bang Roy gak salah? Yang dikasih kan cerita romantis bukan treller. Biren pun mengambil naskah dari tangan bang Roy. “Kenapa? Lu mau ganti peran utamanya? Ngerasa gak sanggup akting jadi tokoh utama yang lu buat? Gue rasa tokoh Dirgan itu cocok kok buat lu?” Dirgan? Asli itu buka nama tokoh yang gue buat! Benak Biren terus diliputi tanda tanya. Segera ia membaca naskah tadi. Astaga, yang benar aja! Ini bukan naskah gue! Terus, ini tulisan siapa? Biren mencoba mengingat kembali siapa saja yang mungkin bisa menaruh tulisan di mejanya. Bukan, bukan di meja, melainkan kolong meja. “Didi gak bisa kasih kenangan apa-apa buat Akang, Cuma bisa ngasih tulisan Didi. Barang kali Akang sudi membaca tulisan jelek Didi.” Itu dia! Cewek undian! Seru Biren dalam hati. Ia menggaruk alisnya sambil berpikir apa yang harus dikatakan pada bang Roy. Jujur kah kalau naskah itu bukan buatannya? Tapi kalau jujur apa jaminan naskah asli milik Biren lebih disukai bang Roy? Ah, s**t! “Yee! Malah Bengong, jadi gimana skenario sama peran utamanya?” “Ya, bang. Segera gue bikin sekenarionya. Gue setuju ambil peran utama.” “Oke lah kalau gitu.” Gue aja belum baca naskahnya, gimana mau bikin skenario? Bener-bener cari mati. Gue harus ngubungin cewek undian itu nih secepatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN