Pagi yang cerah dan indah, sedari bangun tidur gak henti-hentinya senyum Didi mengembang. Dia merasakan berada di taman indah yang di penuhi dengan bunga warna-warni. Dipetiknya satu bunga lalu menciumnya. Mengendus aroma bunga serupa aroma tubuh Biren semalam. “Ehem. Lagi ngapain?” Biren mengerutkan dahinya ketika melihat Didi tersenyum sambil mengendus-endus semprotan nyamuk Bangion. Begitu tersadar Didi langsung mengembalikan semprotan obat nyamuk ke tempat semula. Mengambil kain kanebo, berpura-pura sedang membersihkan meja. “Hihi, akang udah rapih.” “Iya, gue .... mau wawancara.” Biren terpikir sesuatu, rasanya-rasanya sudah gak pantas lagi menerapkan panggilan gue elu pada sang pujaan hati. Dia pun mencoba membiasakan diri untuk memakai bahasa lembut pada istrinya. “Ini bua

