Ibu Mertua

1899 Kata

Pagi yang cerah dan indah, sedari bangun tidur gak henti-hentinya senyum Didi mengembang. Dia merasakan berada di taman indah yang di penuhi dengan bunga warna-warni. Dipetiknya satu bunga lalu menciumnya. Mengendus aroma bunga serupa aroma tubuh Biren semalam. “Ehem. Lagi ngapain?” Biren mengerutkan dahinya ketika melihat Didi tersenyum sambil mengendus-endus semprotan nyamuk Bangion. Begitu tersadar Didi langsung mengembalikan semprotan obat nyamuk ke tempat semula. Mengambil kain kanebo, berpura-pura sedang membersihkan meja. “Hihi, akang udah rapih.” “Iya, gue .... mau wawancara.” Biren terpikir sesuatu, rasanya-rasanya sudah gak pantas lagi menerapkan panggilan gue elu pada sang pujaan hati. Dia pun mencoba membiasakan diri untuk memakai bahasa lembut pada istrinya. “Ini bua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN