Didi menyeka air matanya mencoba mengalihkan rasa sedih dengan membereskan meja makan. Mencuci piring, menyapu dan membersihkan lantai berkali-kali. Namun rasa lelahnya gak cukup untuk mengobati sesak yang terus ada. “Mungkin akang akan menandakan halaman buku yang pernah akang baca dan menutupnya.” Sambil menyapu perkataan Biren tadi terus melintas di pikirannya. Didi menggeleng, membanting gagang sapu, lalu mengambil lap basa dan mengusapnya ke lantai. “Akang harus kembali ke rumah sakit dan kamu gak perlu menunggu Akang pulang.” Didi tetap gak bisa mengenyahkan perkataan Biren dalam benaknya. Kalimat itu terus berulang-ulang bagai rekaman rusak . Dia pun bangun dan menghidupkan radio di kamar. Membesarkan volumenya. Berusaha menikmati lagu Happy Metal. Kepalanya terus mengangguk

