Dru ikut berjongkok di hadapan Didi, dia gak memberikan tisue atau pun mengelus punggung Didi, dia hanya menatap Didi yang hatinya hancur di malam ini. “Lu tahu, tempat ini cocok buat lu nangis. Gak ada yang lihat dan tahu kecuali gue. Cuma gue yang tahu rahasia lu termasuk jadi ghost writernya Birendra.” Didi, gak menyangka Dru bisa tahu masalah ghost writer itu. Dia mengangkat kepalanya berusaha mengatur napasnya untuk berbicara. “Maneh teh lancang bongkar-bongkar USB orang! Mana USB nya!” “Nanti gue balikin setelah lu nerima tawaran gue.” “Tawaran apa?” tanya Didi kembali menghapus sisa-sisa air mata pada pipinya. “Balas semua perlakuan Rendra, bongkar semua kebohongannya. Hancurkan kariernya.” Suara Dru memelan namun tajam, itu yang di inginkannya sejak dulu menghancurkan ka

