Awalnya kupikir sanggup hidup sendiri menikmati hari tanpa ikatan namun nyatanya seorang pria kini telah melamar untuk menjadikan aku sebagai istrinya. Pria yang baru kukenal beberapa bulan itu mambuat hidupku berubah. Banyak rasa yang dia torehkan di hari-hariku yang anehnya membuat aku merasa nyaman. “Cie, yang habis dilamar,” goda Raya saat aku tiba di kantor. Belum sempat aku duduk di kursi kerjaku Raya sudah duduk manis menatapku dengan wajah berbinar. “Bulu mata baru,” ledeknya. Aku hanya menggeleng sebagai tanggapan dari ucapannya. Aku harus bersiap menerima berbagai macam pertanyaan dari Raya. Wanita ini kalau tidak dapat jawaban yang sesuai tidak akan berhenti bertanya. “Mau tanya apa?” ujarku kini duduk di hadapannya. Sengaja tidak kunyalakan laptop supaya tidak mengganggu

