Bab 6. Memulai Keberanian Gressida

1004 Kata
“Mbak.” Gressida menduyungkan badannya ke arah Joelle. “Kenapa, Joe?” tanya Gressida berbisik seperti yang dilakukan oleh Joelle. Di depan dua perempuan itu sosok Isaac fokus pada piring sedangkan Joella merasa kurang nyaman karena beberapa kali kedapatan lirikan kakaknya kepada Gressida, tapi sayangnya sang kakak ipar tidak sadar sedang diperhatikan. “Kenapa?” ulang Gressida karena Joella tidak memberi respon selain gelengan, tapi kelihatan jelas kalau adik iparnya tidak nyaman. “Sudah kenyang, Joe?” Pertanyaan tiba-tiba mendadak mampir membuat perut Joelle mulas, tapi ditepis mulasnya karena mata kakaknya mengarah padanya. “Habiskan.” “Aku menyisakan sedikit, Mas,” balasnya menunjuk satu sendok nasi di piringnya. Tanpa kata Isaac menarik piring adiknya lalu mengambil sisa nasinya yang sudah disendok. Pria itu makan tanpa merasa jijik meskipun sisaan adiknya, hal itu menjadi mendapatkan poin tambahan di benak Gressida. Perempuan itu lemah jika dihadapkan dengan pria yang diam-diam memperhatikan. Cuek, tapi tidak abai. Diamnya itu meneliti. “Es krim,” katanya saat seorang waiters mengantar dua cup es krim. “Buat kita, Mbak,” katanya terlihat ragu. Aneh saja mendapati sang kakak yang mendadak baik ya meskipun memang baik. Tapi, sangat susah bagi Isaac memperlakukan orang-orang di sekitarnya dengan manis seperti ini bahkan dahulu Joelle pernah berpikir mengkhawatirkan yang akan menjadi istrinya Isaac pasti tak akan dapatkan keberuntungan sebab menikahi pria cuek seperti kakaknya. Namun, agaknya perkiraan Joelle ingin sekali dia tarik. Melihat bagaimana sikap diam Isaac, tapi perhatian pada Gressida membuat siapa saja pun akan beranggapan bahwa mereka sejoli yang saling sayang. Joelle menyimpulkannya begitu. Gressida menyendokkan es krim sedikit demi sedikit lantaran ragu itu mulai terkikis bersamaan dengan lelehan es krim di lidahnya. Yang awalnya ragu untuk mengenal Isaac mendadak ingatan perbincangan dengan ayahnya pun kembali diputar. Awalnya Gressida meragukan kemampuannya, tapi setelah meraba sedikit melalui tindak-tanduk Isaac dia memiliki sedikit keberanian walaupun sisanya … bergantung pada takdir Tuhan. “Ada lagi yang mau kamu beli?” tanya Isaac ditujukan kepada adiknya. Joelle menggeleng. “Udah cukup, tapi Mbak Gressi tidak membeli apa pun, Mas.” Alis Isaac terangkat naik menanyakan kebenaran dari perkataan adiknya itu dengan menatap intens istrinya. “Aku nggak lagi butuh belanja apa-apa,” jawab Gressida lalu membantu adik iparnya membawa tentengan yang dibelinya. Isaac tidak kebagian membawa apa pun, dia berjalan dengan santai di depan dua perempuan itu yang terlihat sibuk menenteng barang-barang di kedua tangannya. Sesampainya di depan mobil semua barang-barang diambil alih oleh Isaac, memasukkan ke bagasi sedangkan Joelle langsung masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang. Gressida yang berjaga menunggu suaminya yang sedang menata barang-barang pun diam saja. Mereka ini minim bicara banyak aksi. “Masuk!” perintah Isaac menutup bagasi lalu berlalu masuk ke mobil disusul juga oleh Gressida. “Boleh kan, Ma? Janji tidak sampai menghitamkan kulit. Boleh? Asik, iya, nanti aku mengajak Mbak Gressi sekalian. Okay, bye, Ma!” ucapnya melambaikan tangan di udara saat sambungan video call terputus. “Mama memberi izin renang. Mbak Gressi mau temani aku?” “Temani apa, Joe?” tanya Gressida lalu melirik ke sebelah kanannya. "Aku tidak bisa berenang." Joelle terdiam seraya berpikir sejenak lalu menyeletuk, “Mas Isa bisa mengajari.” Suaranya lirih, tetapi mendapat lirikan dari Isaac pertanda pria itu mendengar. Hanya Gressida yang tidak mendengar jelas, tapi kepalanya menoleh ke belakang memastikan tanpa buka suara. Tak ada pembahasan lebih lanjut selama perjalanan ke rumah utama yang dihuni oleh tetua Adhiyaksa yakni Rianti. Rumah singgah selama berada di Indonesia karena Sekar tidak mau meninggalkan ibunya selagi masih bisa menyambangi alhasil selalu menjadikan quality time seperti yang dikatakan Joelle kesibukan ibu dan neneknya membuatnya dilupakan sejenak. “Aku bawa sendiri,” ujar Joelle sesaat turun dari mobil, dia bergegas ke belakang menunggu dibukain bagasi oleh Isaac. Sudah tidak sabar mengambil barang-barangnya. Sedangkan Isaac dan Gressida masih di dalam mobil dengan keheningan yang menyelimuti. “Ganti baju renang,” beritahu Isaac sebelum turun. Pria itu menghilang memasuki rumah lebih dulu tanpa memedulikan Gressida yang kaku karena dia menyadari setelah menikah akan tinggal di rumah segede ini. “Aku pikir mas Isa lebih milih tinggal terpisah supaya sandiwara kita nggak terbongkar.” Monolog Gressida. “Meskipun belum membahas peraturan setelah menikah, aku merasa rumah ini yang dijadikan tempat tinggal. Apalagi selama ini dia tinggalnya juga di sini, ‘kan?” tanyanya pada diri sendiri, sedikit ragu juga karena dia tidak terlalu mengenal suaminya sebatas bos di tempat kerja. Saat mendatangi Rianti pun tidak pernah ketemu dengan Isaac. Tempat yang rutin didatangi untuk melaporkan informasi berujung menjadi tempat tinggalnya saat ini. Tak pernah diduga olehnya. Dalam setiap langkah perempuan itu menarik napasnya panjang. Di depannya sosok Joelle sudah balik lagi padahal Gressida pun belum masuk. Terlihat Joelle buru-buru menghampirinya setelah meletakkan barang-barang sembarangan. Gressida meringis akan hal itu. “Mbak Gressi, maaf aku kelupaan,” katanya memberitahu. “Ayo bersama masuk. Mas Isa sudah di kolam renang.” "Joe, aku nggak bisa berenang," tolak Gressida. "Aku nemenin kamu aja, ya?" Namun, gelengan diberikan Joelle. "Mas Isa yang minta supaya Mbak dipinjami baju renangnya. Ayo, masuk ke kamarku dulu, ya, Mbak," ajak adik iparnya menggandeng Gressida disusul oleh dua asisten rumah tangga yang membawakan barang belanjaan Joelle ke kamar gadis itu. "Joe ...." Gressida memelas. "Beneran aku nggak bisa renang." Di sinilah mereka berada. Kolam renang yang jernih menjadi fokus perhatian mata Gressida yang tak bisa berpaling. Kolam renang indoor yang dilapisi dengan atap kaca memang memantulkan cahaya yang menembus. Tidak terlalu panas, tetapi terang dan tentunya terjaga privasinya. Joelle sudah menyeburkan ke air bergabung dengan kakaknya yang bertelanjang d**a dengan boxer ketatnya sedangkan Gressida memilih duduk di tepi kolam dengan kedua kaki terendam air. Tubuhnya dibalut dengan kimono handuk demi menutupi baju renang ketat yang press body. Gressida malu, memperhatikan riak air yang bergelombang bergerak seiring gerakan Joella sampai tidak sadar sosok Isaac sudah mendekat jongkok di bawah kakinya. “Kya!” teriak Gressida menggelegar saat badannya basah sepenuhnya. Kakinya ditarik sehingga jatuh ke kolam yang langsung memeluk leher Isaac. Perempuan itu kaget, napasnya ngos-ngosan dengan jantung berdebar kencang. Bola matanya hampir melotot.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN