Bab 7. Atas Dasar Balas Dendam

1030 Kata
Kedua tangan Gressida berpegangan ke bahunya Isaac ketika sudah memastikan kakinya menyentuh keramik. Kagetnya Gressida bukan main-main semata karena dia beneran terkejut saat kakinya ditarik turun langsung menghentak lantai. Perempuan itu menatap Isaac memohon kecil yang berharap dipenuhi sang suami. “Nggak bisa renang.” Namun, agaknya Isaac tidak peduli. Pria itu memangkas jarak membimbing istrinya ke tengah-tengah dengan melingkarkan kedua lengan kekar di pinggang sang istri. Tak bersuara, tapi langsung bertindak gesit. “Nggak mau,” tolak Gressida. Dia menyisir area kolam renang, mereka ada di tengah agak pinggir sedangkan Joelle sudah berselancar mendayung air ke tengah-tengah kolam. Adik iparnya terlihat gesit membuatnya meringis kaku. “Dulu pernah diajarin renang sama ayah, tapi akunya nggak bisa, Mas. Aku beneran nggak bisa apalagi kalau sampai menyelam.” “Aku biasanya pakai pelampung,” lanjut perempuan itu tanpa merasa malu asalkan Isaac tidak memaksanya. “Mas …,” rengek perempuan itu. Isaac menatapnya datar, sedatar papan triplek sehingga membuat nyali Gressida mengkerut. Dia tak bisa apa-apa di saat gerakan tangan suaminya mengerat; menggerayangi area pinggang. Tindakan yang dilakukan atas dasar balas dendam di hotel. Balas dendam karena sikap antisipasi istrinya ketika bersama Seno. Isaac membalasnya saat ini, bahkan ketika wajah Gressida sudah memucat pun tak dihiraukan. Tubuh Isaac mendekat, mendekatkan wajahnya sejajar dengan d**a Gressida yang menyembul karena kelebihan muatan. Pakaian renang yang dipinjamkan sang adik bukan kekecilan di badannya akan tetapi, press d**a yang membuat Gressida malu; kurang pede karena diperhatikan oleh Isaac. Embusan napas pria itu menerpa d**a lalu perlahan naik ke atas hingga tanpa sadar perempuan itu menahan napas sesaat wajah mereka sejajar. Incaran Isaac adalah bibir, tetapi Gressida sudah memalingkan muka terlebih dahulu sehingga berakhir menerpa leher. Bibir tebal Isaac jatuh di sana, memberi kecupan kecil-kecil yang bercampur dengan basahan air. Gressida mengepalkan telapak tangannya di dalam air. Dia diam memalingkan muka, tetapi antispasi dengan tindakan Isaac berikutnya. Untungnya bunyi ombak dan semburan air membuat keduanya menoleh bersamaan. Sosok Joelle menyembulkan kepalanya ke daratan ketika tak sengaja hendak menyenggol Isaac saking fokusnya mengepakan tangan. "Aku sudah cukup," beritahu gadis itu. "Mama memberi waktu dua puluh menit untuk berenang." Baru Gressida sadari kalau Joelle sangat patuh pada Sekar. "Mbak Gressi, temani aku unboxing, ya," katanya yang sudah naik ke daratan. Sedang mengeringkan badannya dengan handuk lalu membalut tubuhnya dengan bathrobe. Gressida mengangguk. "Okay," ujarnya hendak balik badan tanpa peduli dengan pinggang yang masih dililit lengan kekar sang suami sehingga gerakannya terbatas. Pria itu menariknya mundur bahkan ketika Gressida baru satu langkah maju. "Mau ke mana?" "Joe minta tolong, Mas," jawab lirih Gressida. "Kalau saya tidak memberi izin, bagaimana?" bisik Isaac. "Kamu belum berenang. Saya ajarin." "Mas Isa," panggil Gressida memelas. Memberanikan diri menoleh sedikit ke belakang, dia belajar membuka hatinya untuk masuk ke keluarga Adhiyaksa termasuk memanggil suaminya dengan nama kebiasaan di rumahnya. "Di sini saja," ujarnya tak mau menerima bantahan. "Saya belum cukup. Temani saya berenang kalau kamu tidak mau diajarin," lanjut pria itu, tetapi tidak melepaskan pelukannya. Dagunya yang lancip bersandar di bahu kecil Gressida membuat perempuan itu menggeliat geli. Tangannya yang mengerat di atas perut Gressida bergerak mengelus dengan gerakan memutar. Entah maunya apa, bahkan berhenti di pusar perempuan itu membuat Gressida menahan napas saat ditekan pelan. "Kamu merasakan sesuatu?" bisik sensual Isaac seraya menjilat tengkuk sang istri. "Seperti itu jika tidak tuntas rasanya sakit sekali, Gressi." "Mas ...." "Saya cuma memberitahu. Membiasakan kamu supaya terbiasa dengan saya. Saat didekati jangan terus-terusan menolak. Saya tidak suka, Gressi." "Maaf," kata Gressida. "Tidak akan menolak saya lagi, 'kan? Saya merasa tersinggung karena kamu." Kepala Gressida menggeleng. Dia sadar diri dinikahi untuk apa termasuk urusan ranjang karena keinginan pria itu menghadirkan seorang bayi. Gressida tidak akan ingkar. "Aku tahu lambat laun pasti akan diminta. Aku sadar diri Mas kalau semua ini nggak sebanding dengan utang-utang ayahku." Diam mendengarkan, tetapi mata Isaac berkilat tajam sarat akan emosi. "Aku siap mengandung keturunan Adhiyaksa. Lebih cepat lebih baik, yang kemarin itu maaf jika membuat harga diri Mas Isa rendah. Sama sekali tidak berniat merendahkan, aku hanya minta waktu." *** Usai perbincangan dan kejadian di kolam renang Gressida dilepaskan begitu saja. Tak ada belitan lengan kekar atau cengkeraman karena Isaac tidak mengatakan apa pun selain mundur dan naik ke daratan meninggalkan Gressida di dalam air dengan kepala tertunduk dalam. Perempuan itu ikut naik setelah memastikan suaminya sudah tidak ada di area kolam. Menyambar bathrobe lalu memakainya baru kemudian mengeringkan lengan kaki dan tangan. Gressida kurang nyaman dengan pakaian seksi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Selama bekerja pun pakaian Gressida tergolong sopan. Celana panjang dipadukan dengan blazer. Tak seperti kacung-kacung lain yang lebih suka memamerkan betisnya. ... meskipun status Isaac merupakan suaminya. "Joe, aku mandi dulu ya. Nggak pa-pa, 'kan?" tanya Gressida memasuki dapur saat melihat sosok Joelle sedang duduk di pantry menikmati secangkir s**u cokelat. Penampilannya masih sama seperti di kolam renang tadi. Joelle menoleh gesit lalu mengangguk. "Tidak masalah, Mbak." Mengangguk perempuan itu menoleh ke kanan dan kiri. Dia bingung, badannya sudah menggigil kedinginan karena lembab yang sengaja ditutup. "Astaga aku melupakan sesuatu. Ayo, aku antar ke kamarnya mas Isa. Aduh aku lupa kalau Mbak Gressi kan baru sampai ya. Seharusnya mas Isa mengajak Mbak Gressi," cibir Joelle. Percayalah jika di hadapan Isaac gadis itu tak akan berani berceloteh seperti ini. Unek-unek sebatas sampai ke Gressida saja sedang yang diajak bicara meringis kikuk. Terlihat ragu Gressida menahan tangan Joelle saat hendak melewatinya. "Sebenarnya aku punya masalah lain, Joe. Aku nggak punya baju di sini, semua barang-barang—" "Tenang saja. Mas Isa sudah menyiapkan semuanya, Mbak. Dengan bantuanku dan mama kami sudah penuhi wall in closet perlengkapan mbak Gressi karena kami yakin sekali mas Isa tidak memikirkan keperluan ini." "Jadi merepotkan." "Sama sekali tidak. Mari aku antarkan ke kamar," ucapnya menggandeng lengan ramping kakak iparnya. Dilihat-lihat sudah akrab sekali padahal mereka baru bertemu. Salahnya juga karena hanya membawa keperluan singkat di koper itu pun sebatas keperluan untuk menikah. Gressida pikir Isaac akan mengantarkan dirinya pulang sekadar membereskan barang-barang bukan meninggalkan begitu saja. "Okay sudah sampai. Silakan masuk saja, Mbak. Mas Isa sudah di dalam," katanya sedikit ragu. "Di dalam ... sepertinya." Melihat kakak iparnya yang ditinggal sudah jelas ada sesuatu yang terjadi, tetapi Joelle tak banyak ikut campur masalah rumah tangga kakaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN