Rasa bersalah

1011 Kata
Setelah memastikan jika calon menantunya itu sudah terlelap, kini saatnya untuk Reta melangkahkan kaki keluar dari kamar tersebut. Namun, Reta tentu saja tak langsung memejamkan mata di atas tempat tidur. Sebagai seorang istri yang sangat patuh sekali pada suami, maka Reta pun memilih untuk melangkahkan kakinya menuju ke ruang televisi. Menunggu suaminya itu di atas sofa yang sudah disediakan di situ. Namun, yang datang justru bukan suaminya tercinta terlebih dulu. Melainkan anak semata wayangnya. "Ma, belum tidur?" tanya Dion, dengan wajah yang sangat heran sekali. Berjalan mendekat ke arah Reta, duduk tepat di samping orang tuanya itu, lalu menyodorkan tangan kanannya. Tentu saja itu adalah caranya untuk mencium punggung tangan dari Reta. "Masih jam berapa sih sekarang? Kok kamu malah nanya Mama belum tidur?' sahut Reta, wajahnya berubah menjadi heran. Dion yang tadinya terlihat tak galau, kini tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi sangat tak bersemangat sekali. Tangan kanannya selalu saja memainkan ponsel, tetapi saat Reta mencoba untuk melihat apa yang tengah dimainkan. Ternyata hanya buka tutup aplikasi w******p saja, bahkan yang dilihat adalah nomor dari Keysa. "Oh iya, kamu sendiri dari mana?" tanya Reta basa-basi, karena jawabannya yang tadi juga tak dibalas sama sekali oleh anak semata wayangnya itu. "Nyari angin tadi, Ma," jawab Dion dengan sangat singkat. Mendapat pertanyaan yang seperti itu, membuat Dion langsung mengingat saat-saat di mana dirinya itu menghubungi Keysa terus menerus. Meskipun, pada hasil akhir tetap saja nihil. "Nyari angin di mana? Apa perginya sama Keysa? Tapi kok tumben banget wajahnya itu enggak ceria sama sekali?" tanya Reta, yang langsung bertubi-tubi dan juga memasang wajah yang sangat heran. "Ma, jangan bicarain soal perempuan itu lagi, dan juga jangan pernah ngarep banget kalau dia bakalan jadi istri Dion," protes Dion, napasnya kini memburu. Mencirikan sekali, jika dirinya saat ini memang tengah menahan rasa kesal yang teramat dalam. "Loh, kok malah bilangnya kek gitu, sih? Kalian emangnya kenapa? Lagi ada masalah?" tanya Reta, berpura-pura untuk tidak tahu menahu apa yang telah terjadi antara anak semata wayangnya dengan Keysa. "Ma, dia itu lagi keluar sama cowok lain, bahkan dia bilang sendiri ke Dion, kalau cowok itu ternyata lebih penting dari Dion! Makanya mulai saat ini Dion bilang ke Mama, supaya enggak terlalu suka perempuan itu!" jelas Dion. Tangan laki-laki itu langsung memilih untuk meraih remote televisi yang berada di atas meja, lalu mengganti saluran televisi. Meskipun, pada aslinya Dion sama sekali tidak melihat tayangan tersebut. Namun, itu adalah cara untuk memendam rasa kesal yang berada di dalam hati. "Loh, kamu itu kalau ngomong sembarangan aja ya! Keysa enggak mungkin kalau sampai kek gitu!" protes Reta. Hal itu ia lakukan, supaya anak semata wayangnya bisa lebih merasakan lagi sesuatu yang menyakitkan. Yaitu, dalam hal penghianatan cinta. Bukan dalam hal kejam atau apa pun, tetapi ini perihal tentang kejutan yang akan ia berikan nanti besok di hari minggu. "Ma, Dion itu bilang beneran, kalau Keysa sendiri yang bilang kek gitu ke Dion. Dion enggak mungkin bohong tentang hal ini," ujar Dion, sendu. Namun, tentu saja Reta masih pada rencana yang sudah ia siapkan itu. Mengedikkan kedua bahunya, lalu menjawab, "Udah ah! Jangan bahas hal yang kek gitu terus, karena Mama enggak bakalan percaya sama apa yang kamu omongin itu!" "Ma, tapi Dion beneran loh bilang kek gitu!" sahut Dion, yang juga masih tetap ada berita yang pertama kali ia bawa. "Udah ah! Kamu masuk ke dalam kamar sana, gih!" titah Reta, dengan suara yang sudah benar-benar serius sekali. Mau tak mau setelah mendapat perintah seperti itu dari Reta, maka Dion pun berdiri dari posisi duduknya itu. Berniat ingin melangkahkan kakinya untu k segera masuk ke dalam kamar. Namun, Dion keburu mendapat pikiran, jika dirinya itu sedari tadi tidak melihat di mana keberadaan ayahnya. Sehingga dengan pertanyaan yang seperti itu, maka Dion pun memilih untuk langsung bertanya, "Oh iya, kalau ayah ke mana, Ma? Belum pulang?" "Kalau ayah kamu udah pulang, keknya Mama enggak akan mungkin banget deh masih ada di luar kamar tidur," sahut Reta, membuat Dion langsung menggelengkan kepalanya. Karena tak ada pertanyaan apa pun lagi yang ingin dikeluarkan oleh Dion, maka laki-laki itu lebih memilih untuk segera mewujudkan keinginannya untuk segera melangkahkan kaki masuk ke dalam tempat tidur. Sebenarnya, Keysa sedari tadi itu tidak tertidur sama sekali, ia hanya terus memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Dion. Apalagi, ditambah dengan perbincangan antara calon mertuanya itu, dengan calon suaminya. Justru membuat Keysa benar-benar merasa sangat sedih sekali. Padahal, apa yang Dion dapat dari dirinya itu sebenarnya tidak benar sama sekali. Namun, kenapa kekasihnya justru seperti itu? Keysa kembali disadarkan dengan tanggung jawab yang dibawa oleh dirinya, yaitu kejutan pesta ulang tahun yang akan dilaksanakan buat esok hari. 'Sabar, Key. Nanti besok adalah hari yang terkahir kok. Semua akan baik-baik saja,' gumam Keysa di dalam hatinya. Dan setelah menenangkan hatinya dengan cara seperti itu, barulah Keysa bisa merasa sedikit tenang, lalu dapat memejamkan kedua bola mata. Setelah memastikan jika Dion tak akan keluar dari kamarnya lagi, Reta langsung berdiri dari posisinya tersebut. Melihat bagaimana keadaan Keysa, karena sebenarnya Reta juga tahu rasa sakit yang dirasakan oleh hati dari calon menantunya itu. Namun, mau bagaimana lagi, toh hanya satu hari ini saja mereka melakukan hal yang seperti itu. Reta membuka pintu dari kamar yang ditempati oleh calon menantunya itu, lalu langsung menghembuskan napas lega saat mendapati Keysa yang memang sudah tertidur dengan sangat pulas. Memilih untuk kembali melangkahkan kaki menuju ke ruang televisi, berniat untuk kembali melihat acara yang tengah ditayangkan. Namun, suara deru mobil yang berhenti langsung dapat dipastikan oleh Reta, jika mobil itu adalah mobil yang dikenakan oleh sang suami. Buru-buru perempuan tersebut langsung melangkahkan kakinya menuju ke pintu rumah miliknya itu, tentu saja untuk menyambut kedatangan laki-laki yang sangat berarti di dalam hidupnya itu. "Yah, akhirnya pulang juga! Yuk makan, pasti laper, kan?" tanya Reta, yang langsung disambung dengan ajakan menuju ke ruang makan. Mendapat tawaran yang seperti itu, tentu saja tak dapat ditolak oleh Prawira, karena masakan yang dibuat oleh sang istri tercinta tak tertandingi sama sekali. Tangan kanan Prawira langsung berada di pinggang Reta, hal itu tentu saja langsung membuat perempuan tersebut mengulas senyum dengan sangat lebar sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN