Pertanyaan

1013 Kata
“Kamu tahu enggak, Sayang?” Prawira mulai melempar pertanyaan, setelah ia baru saja mencuci bersih kedua telapak tangannya itu. “Kenapa? Ada apa?” tanya Reta, yang memilih untuk menghentikan kegiatannya itu. “Selalu aja kalau Mas ada di kantor, pikirannya itu sama kamu terus,” jawab Prawira, dengan seulas senyum yang langsung tampil di wajahnya yang masih terlihat tampan. Bukannya menjawab, Reta justru menggelengkan kepalanya saja, lalu memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya lagi. “Udah, jangan gombal dulu, masih mending makan dulu, nih, Yah! Nanti aja kalau mau gombal itu di dalam kamar!” protes Reta, lalu meletakkan piring yang tadinya ada di genggaman tangan. Menjadi ada di atas meja makan, itu pertanda jika dirinya memang sudah mempersilahkan untuk Prawira segera melahap makanan yang sudah disediakan itu. “Kenapa enggak ikut makan?” tanya Prawira, saat ia baru saja duduk pada salah satu kursi yang berada di depan Reta. Mendapat pertanyaan yang seperti itu, tentu saja membuat Reta langsung menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Enggak, yah, udah kenyang banget!” “Sekarang, tugasnya itu Cuma mau ngeliatin Ayah yang lagi makan aja,” ujar Reta lagi, yang langsung mendapat tatapan tajam sebentar dari Prawira, tetapi beberapa detik kemudian langsung mengeluarkan tawa. “Sini, deh, duduknya di sini!” titah Prawira, dengan tangan kanan yang menepuk kursi di sampingnya itu. “Loh, emangnya mau ngapain, sih? Mama ada buat salah, kah?” tanya Reta, dengan nada bicara yang terdengar sangat takut sekali. Prawira langsung menggelengkan kepalanya, lalu ia pun berujar, “Kenapa sih pakai nanya dulu? Mama itu emang udah ngelakuin kesalahan, bahkan kesalahannya itu pada tingkat yang paling tinggi banget!” Dahi Reta tentu saja langsung berkerut, ia bahkan tidak merasa melakukan kesalahan apa pun, tetapi suami yang sangat ia cintai itu justru mengucapkan hal itu? Aneh, benar-benar sangat aneh di dalam pikiran Reta, tetapi tentu saja tidak bagi Prawira. “Kamu itu udah ngelakuin kesalahan yang sangat besar, Ma. Yaitu, buat Ayah berkali-kali jatuh cinta sama kamu,” ujar Prawira, menjelaskan dari apa yang tadi ia ucapkan itu. Bukannya mendapatkan balasan yang sama, tetapi Prawira justru mendapat cubitan tepat di pinggangnya, membuat laki-laki itu langsung meringis. “Kenapa? Enak, kan? Itu yang namanya cinta,” tanya Reta, lalu mengeluarkan senyuman pertanda jika dirinya itu tengah gemes dengan sang suami. “Kalau cinta itu gini ....” Prawira menggerakkan tangan kanannya, untuk meraih kepala bagian belakang Reta. Perlahan, kedua orang yang sudah memliki status perkawinan itu saling mendekat. Kedua mata mereka itu saling beradu pandang, tetapi saat bibir akan saling menempel dan juga menyatu. Dion tiba-tiba saja berdeham, lalu berucap, “Kalau lagi ada di ruang makan, berarti tugasnya itu harus ngabisin makanan. Bukan malah kek gitu, Yah!” Sontak saja Reta dan juga Prawira langsung gelagapan, dan bahkan Reta memilih untuk memeluk sang suami, itu ia lakukan supaya tidak terlalu merasa malu sama sekali. “Dion! Kamu itu jadi anak nggak sopan banget, harusnya kalau emang butuh sesuatu di sini, ya tinggal ambil-ambil aja. Enggak usah pakai negur segala!” protes Prawira, dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal sekali, karena keinginannya itu tidak terpenuhi. Sedangkan Reta lebih memilih untuk tetap memeluk suaminya itu, karena sedikit merasa malu jika hal itu terpergok oleh anak semata wayangnya. “Ye, kan Dion juga nggak sengaja. Ya lagian, Ayah kenapa ngelakuin hal yang kek gitu di ruang makan? Seharusnya itu, kan masuk ke ruang tidur!” sahut Dion, yang masih tak ingin untuk disalahkan. “Awas kamu ya, kalau kamu udah punya istri terus ngelakuin hal kayak gitu nggak lihat tempat, Ayah bakal protes sama kamu! Ayah bakal jadi orang yang pertama mengeluarkan protes!” ancam Prawira, yang justru membuat Dion mengeluarkan tawa dengan sangat keras. “Aduh, Ayah! Jangankan kek gitu, buat cari calon istri aja enggak ada,” ujar Dion, lalu wajahnya itu berubah sendu, dan tiba-tiba saja membalikkan tubuh meninggalkan kedua orang tuanya itu, yang kini tengah membahas masalah tentang Dion “Kenapa sih Dion, Ma? Kok tiba-tiba aja sikapnya kayak gitu, nggak ceria lagi?” tanya Prawira terlebih dahulu, yang membuat Reta langsung mengulas senyum dan menyimpan arti banyak di dalam senyuman tersebut. “Ayah mau tahu kenapa Dion itu bersikap kek gitu?” tanya Reta, lalu menaik turunkan alisnya. Prawira langsung menggelengkan kepalanya dan menarik napas dalam-dalam, karena ia juga sudah tahu bagaimana sikap dari istrinya itu, yang suka sekali untuk menggoda dirinya. “Sayang, ia aku itu mau tahu. Emang kenapa sih?” tanya Prawira, dengan suara yang dilembutkan selembut mungkin. Sehingga istrinya itu langsung menganggukkan kepala dan mengeluarkan senyuman yang sangat manis. “Okay jadi gini ya, aku jelasin. Nanti besok itu adalah, hari di mana Dion ulang tahun dan mama udah rencanain semuanya sangat detail. Sampai-sampai, kekasihnya dia aja tuh Mama ajak buat ngasih kejutan ke dia,” ujar Reta mulai menjelaskan. “Kejutan gimana sih maksudnya?” tanya Prawira, yang masih belum mengerti. “Masa iya belum ngerti sih? Penjelasan yang tadi nggak dengerin apa? Mama itu lagi merencanakan gimana kejutan yang nanti bakalan Mama kasih buat anak kita.” “Karena, Mama itu mau membuat Dion menjadi orang yang paling sengsara dalam perihal cinta.” “Tapi ini bukan ide dari mama loh kalau nyakitin hati Dion, tapi ditambah ide dari kekasihnya juga yang ikutan jahil. Maka dari itu, Dion sekarang juga lagi nggak mood banget ya, kan? Kelihatannya jelas banget malah!” jelas Reta, yang membuat Prawira langsung menganggukkan kepalanya. “Oh iya terus ngelaksanainnya itu di mana?” tanya Prawira, setelah ia paham tentang penjelasan yang dijabarkan oleh sang istri. “Nggak jauh-jauh dan juga nggak mewah. Cuma ada keluarga besar kita yang waktu itu datang buat ngerayain tunangannya Dion sama Keysa. Nah, nanti mereka bakalan ke sini lagi, buat ngerayain itu. Nanti, di tempat yang sama yaitu rooftop rumah kita sendiri,” jawab Reta dengan sangat bangga. “Ya ampun, jadi semuanya itu dilakuin di rooftop sendiri? Simpel banget sih, Ma, tapi pasti bakal berkesan selamanya buat Dion, karena jarang-jarang juga kan kita ngasih kejutan ke dia,” ujar Prawira yang menyadari akan kesibukan akhir-akhir ini, pada tugas-tugas kantor yang menghantuinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN