Penjelasan

1018 Kata
“Nah, maka dari itu untuk nanti besok Ayah kan libur. Jadi, kita bisa ngerayain semuanya itu bareng-bareng sama ayah juga!” sahut Reta, dengan sangat semangat. Karena, ternyata suaminya juga satu pemikiran dengan dirinya. Sehingga, ia tidak terlalu pusing dan juga males untuk memberitahukan semuanya. Karena, jika memiliki keselarasan yang sama itu sudah tidak akan repot lagi. "Jadi, mau lanjut atau nggak nih tentang yang tadi?" tanya Prawira, dengan kedua alis yang sengaja ia naik turunkan, karena hasratnya itu belum tertuntaskan sama sekali. "Iya silahkan dilanjut lagi aja makanya, kan itu belum selesai sama kali tuh!" balas Reta, lalu kembali berlanjut. "Lagian, ini juga kan udah malam banget!" sahut Reta lagi. Dan mengeluarkan tawa, dengan suara yang sangat kecil, tapi itu cukup berarti dan menggambarkan jika dirinya itu benar-benar lucu akan tingkah laku suami. "Yah, kamu mah gitu, nggak pernah paham deh sama aku! Padahal, aku lagi itu," ujar Prawira, dengan nada sendu, tapi tangan kanannya langsung bergerak untuk mengarah ke mulutnya sendiri. Reta memilih untuk menggelengkan kepalanya dan kembali berucap, "Udah, jangan berisik aja. Dilanjutin aja dulu makannya tuh!" Dengan sangat terpaksa sekali, tetapi pada akhirnya Prawira tetap melanjutkan kegiatan makannya itu. Tentu saja membuat Reta langsung mengulas senyum dan menghembuskan napas sangat lega. "Alhamdulillah! Akhirnya selesai juga!" ujar Prawira, lalu meraih gelas di depannya untuk segera diminum. Air langsung mengalir dan juga membahasi tenggorokannya itu, setelah selesai dengan kegiatan tersebut, Prawira justru mengulas senyum. Namun, senyuman yang ditunjukkan oleh Prawira itu memiliki arti tersendiri, lalu laki-laki itu pun berucap, "Ma, mau enggak?" "Mau apaan, sih?" tanya Reta, dengan tatapan yang pura-pura merasa heran. Karena memang dirinya tengah menggoda sang suami. Merasa jika istrinya itu tengah tak ingin untuk melakukan hal yang ia inginkan. Maka, untuk mengalihkan suasana, Prawira memilih untuk berucap, "Kamu tau gak, Ma?" "Tau tentang apaan?" tanya Reta, dengan dahi yang kini langsung berkerut. "Masakan kamu itu emang paling enak daripada yang lainnya," jawab Prawira, dan seketika Reta langsung mengulas senyum. Lebih tepatnya, jika itu adalah senyuman yang menggambarkan dirinya tengah menahan malu. "Kalau kamu udah muji kek gini, biasanya sih bakalan ada apa-apanya, nih. Mau apaan, sih?" sindir Reta, setelah ia selesai dan sudah berhasil mengatur tawa yang sedari tadi dikeluarkan. "Ya ampun, sama suami sendiri kok malah curiga gitu?" protes, dengan raut wajah yang langsung ia tampilkan berpura-pura sedih. Mendengar kata protes seperti itu yang keluar dari mulut sang suami, membuat Reta langsung mengeluarkan tawanya lagi. "Loh, bukannya curiga, Ayah! Tapi, kan emang bener, kamu itu kalau mau minta sesuatu aja baru sikapnya manis banget." "Enggak gitu juga, tapi emang aku itu ngerasa kalau masakan kamu rasanya itu enak banget!" ujar Prawira lagi. "Masa iya?" tanya Reta, dengan wajah yang langsung mendekat ke arah sang suami, lalu kembali mengulas senyum. "Serius, bahkan di sana aja kan ada tuh nasi kotak, tapi masakannya sama sekali enggak enak," jawab Prawira, raut wajahnya sangat meyakinkan sekali jika laki-laki itu tidak berbohong. Namun, tanggapan dari Reta justru langsung mengibaskan tangan kanan di depan wajah, lalu memilih untuk meraih peralatan makan yang tadi digunakan oleh suaminya itu. Berniat untuk membersihkan peralatan tersebut. Membawa semua itu ke arah wastafel, lalu membersihkan piring dan juga gelas yang sudah kotor. Mendapati sang istri yang justru meninggalkan dirinya sendirian di meja makan, membuat Prawira langsung menarik napas dalam-dalam. Tetapi, laki-laki itu sama sekali tak menyerah. Justru ia ikut berdiri dan melangkahkan kaki mendekat ke arah Reta. Tanpa basa-basi sama sekali, Prawira langsung menggerakkan kedua tangan untuk memeluk istri tercintanya itu, dengan dagu yang ia letakkan di atas pundak. Dengan tangan yang terus saja berkutat dengan pekerjaannya, Reta sama sekali tak menggubris apa yang tengah dilakukan oleh Prawira. "Ma," ucap Prawira, suaranya sudah cukup serak. Menandakan jika suaminya itu memang sudah sangat tidak tahan sekali. Reta pun langsung membalikkan tubuhnya, menatap wajah sang suami, dengan senyuman yang langsung tampil di wajah cantiknya. "Mau! Yuk!" ajak Reta, terdengar sangat ambigu di telinga Prawira, tetapi ia sangat yakin sekali jika sang istri memang menyetujui ajakannya. Keromantisan yang dijalani oleh keduanya, tidak ada yang tahu sama sekali kecuali mereka. Karena Prawira dan juga Reta melakukan hal itu hingga malam hari, di mana semuanya sudah terlelap. Sampai akhirnya, hari kini sudah berganti menjadi pagi dan semuanya kembali beraktivitas seperti biasanya. Namun, karena ini adalah hari minggu, jadi seperti biasa Dion langsung melakukan aktivitas seperti biasanya, yaitu lari pagi mengitari komplek rumahnya dan memang kalau tidak ada kata malas yang menyelimuti, maka laki-laki tersebut bisa saja sampai menuju ke taman kota. "Nak, bangun!" Reta menggerakkan kedua tangannya untuk menepuk dan sesekali mencubit pelan, serta memainkan pipi milik calon menantunya itu. Tak butuh waktu lama untuk membangunkan Keysa, karena saat ini perempuan itu sudah terbangun dari kegiatan tidurnya itu. "Tante, ada apa?" tanya Keysa, setelah perempuan itu sudah membuka kedua matanya. Mendapati Reta yang kini sudah berada di depan mata, tentu saja membuat Keysa merasa heran, tetapi ingatannya itu langsung sadar. Jika ternyata saat ini dirinya memang bukan tengah berada di rumah sendiri. Melainkan rumah milik sang kekasih, dan ... bagaimana keadaan laki-laki yang sangat ia cintai itu? "Dion sekarang lagi keluar rumah, dan kita sekarang tugasnya adalah buat nyiapin semuanya," ujar Reta memberitahu sebuah jawaban yang sudah ia tebak jika itu adalah pertanyaan yang akan keluar dari mulut perempuan di depannya. "Keluar? Keluar ngapain, Tante? Ke mana tujuannya?" tanya Keysa, karena perasaannya itu masih tetap takut jika Dion akan meninggalkan dirinya. Padahal, pada kenyataannya tidak seperti itu sama sekali. Bahkan, Dion saya memiliki pikiran yang sama dengan Keysa. Jadi, dapat diartikan jika keduanya memang sama-sama mencintai. Namun, memang kondisinya tengah seperti ini. Lagipula, sekali lagi harus ditegaskan jika ini semua adalah rencana untuk memberi kejutan pada laki-laki tersebut. "Dion emang gitu, kalau hari minggu dia emang keluar buat lari pagi. Makanya Tante langsung bangunin kamu, buat nyiapin semuanya," sahut Reta, dengan kedua mata yang tidak lepas sama sekali dari wajah Keysa. "Itu setiap hari kek gitu, Tante?" tanya Keysa, untuk kembali memastikan, dan langsung mendapatkan jawaban dari Reta, yaitu berupa anggukan kepala. "Ya udah, yuk! Takutnya enggak keburu, dan Dion udah balik ke sini," ajak Reta, dengan tangan yang kini meraih pergelangan tangan kiri milik Keysa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN