"Yuk, turun!" ajak Reta, dengan tangan yang langsung bergerak untuk melepas sabuk pengaman.
Keysa menganggukkan kepalanya, lalu perempuan itu juga mulai menggerakkan kedua tangannya untuk melepas sabuk pengaman, yang masih melekat pada tubuh.
"Nanti, kalau kamu udah turun dari dalam mobil, nanti langsung masuk ke kamar yang udah disediain," ucap Reta, yang langsung dijawab anggukan kepala.
Setelah mendapat anggukan seperti itu dari Keysa, Reta pun mengawali untuk membuka mobil terlebih dulu. Dengan segera mereka berdua masuk ke dalam rumah, dan Reta juga menunjukkan di mana kamar yang akan ditempati oleh calon menantunya itu.
"Ya udah, kamu diem dulu di situ aja ya," ujar Reta, setelah selesai mengantarkan Keysa hingga masuk ke dalam kamar tersebut.
"Iya, Tante," jawab Keysa, seraya menganggukkan kepala.
Saat Reta akan melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamarnya, perempuan itu langsung berhenti melangkah, lalu kembali berucap, "Oh iya, Tante sampai lupa bilang, kalau nanti ponsel kamu disenyapin dulu ya."
"Kenapa, Tante?" tanya Keysa, yang tidak langsung paham, dengan apa yang diutarakan oleh calon mertuanya itu.
"Takut aja gitu kalau nanti Dion tiba-tiba nelpon kamu, dan denger ada dering ponsel dari arah kamar kamu," jawab Reta menjelaskan.
Setelah mendapat penjelasan yang seperti itu, Keysa pun menganggukkan kepalanya, dan menggerakkan tangan kanan untuk meraih ponsel, lalu menonaktifkan bunyi dari ponsel tersebut.
Tebakan dari Reta memanglah benar, karena Dion saat ini tengah mengendarai kendaraan roda empat miliknya itu menuju ke indekos yang ditempati oleh Keysa.
"Key! Sayang!" seru Dion, dengan tangan yang bergerak untuk mengetuk pintu tersebut.
"Key! Kok kamu malah marah kek gini sih? Aku itu enggak ada niatan buat nyari cewek lain lagi. Sama sekali enggak kok," ujar Dion, dengan suara yang sedikit dikeraskan.
"Key! Buka pintunya, dong!" pinta Dion, suaranya kini mulai melemah.
Lelah akan apa yang ia lakukan, tetapi justru berujung sia-sia. Kini, Dion memilih untuk duduk di kursi yang berada di depan indekos, lalu tangannya bergerak untuk meraih ponsel.
Segera mencari nama kontak milik sang kekasihnya itu, lalu tanpa basa-basi lagi, Dion pun menghubungi perempuan tersebut.
Mendapat panggilan dari Dion, Keysa langsung merasa sangat panik, lalu ia segera membawa ponselnya itu dan melangkahkan kaki menuju ke kamar milik Reta.
"Tante, maaf kalau Keysa enggak ngetuk pintu dulu, tapi ini Mas Dion nelpon. Diangkat enggak?" ujar Keysa, lalu menyodorkan ponsel miliknya.
Reta menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Udah, diangkat aja. Terus tanyain, ada apa gitu!"
Apa yang diucapkan oleh Reta, tentu aja langsung dijawab anggukan oleh Kiara. Perempuan itu pun segera mengangkat telepon tersebut, tetapi memilih untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ada di mana sekarang?" tanya Dion pada akhirnya, setelah beberapa detik mereka berdua memilih untuk saling diam.
"Ada apa nanyain kek gitu?" tanya Keysa balik, lalu perempuan itu langsung disuruh duduk tepat di samping Reta.
"Loh, kok malah jawabnya kek gitu, sih? Enggak suka kalau aku itu nanyain tentang kabar kamu yang ada di mana?" sahut Dion, dengan perasaan yang sangat membara sekali.
Keysa secara refleks langsung menggelengkan kepalanya, tetapi karena Dion tak ada di depannya saat ini, maka tidak ada masalah sama sekali.
"Ya kalau sekarang itu bukannya nggak suka, tapi ya ... kenapa dari tadi itu nanya terus," sahut Keysa, lalu ia langsung menggigit bibir bawahnya karena takut juga jika apa yang ia katakan itu salah.
Dan Reta sedari tadi hanya mendengarkan juga bingung sebenarnya apa yang diutarakan oleh calon menantunya itu, benar atau salah, tetapi karena sudah terlanjur keluar dari mulut. Maka, ia juga hanya bisa diam dan tetap setia untuk mendengarkan.
"Jadi gitu? Intinya kamu itu nggak suka kalau aku ngasih kabar ke kamu atau nanyain kabar sama kamu? Atau karena gara-gara ada laki-laki lain yang lebih mikat kamu?" tanya Dion, dengan nada bicara yang penuh berubah menjadi ketus.
Sebenarnya Keysa saat ini ingin sekali berteriak, jika ini semua hanyalah rancangan dan juga rencana dari Keysa sendiri, tetapi tidak mungkin sekali. Ini adalah demi kebahagiaan Dion di saat hari ulang tahunnya. Maka Keysa harus menahan dan memilih untuk menjawab, "Ya bukan gitu."
"Udah, nggak usah ada yang perlu dijelasin ya. Intinya mah cuma satu, kamu itu nggak mau diganggu sama aku. Sekarang lagi ada di mana, aku tanya satu kali lagi, kamu sekarang ada di mana?" potong Dion langsung pada intinya saja, karena laki-laki itu juga tahu dan juga punya perasaan. Ia juga paham bagaimana ciri dari seseorang yang tengah menyukai orang lain.
"Emang harus banget buat dijawab?" Keysa kembali melontar pertanyaan yang membuat Dion langsung menarik napasnya dalam dan berkali-kali mengucapkan kata sabar, perihal apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu.
Mengusap dadanya pelan, lalu kembali menjawab, "Iya Key, yang namanya pertanyaan itu pasti butuh jawaban dan aku sekarang lagi nungguin jawaban kamu. Sekali lagi ya aku nanya, kamu itu lagi ada di mana?"
"Aku lagi ada sama cowok itu dan kamu ganggu tau nggak!" jawab Keysa, lalu memilih untuk langsung mematikan sambungan telepon dan menonaktifkan ponselnya.
Keysa melakukan hal itu bukan tanpa sebab, tetapi supaya rencana yang sudah dipikir sematang mungkin oleh dirinya dan juga Reta itu tidak sia-sia hanya sampai disini.
Karena pada tujuan pertamanya juga akan menyakiti hati Dion terlebih dahulu, baru setelah itu diberi kejutan yang sangat menyakitkan, sehingga sebisa mungkin Dion akan mengeluarkan tangis haru.
"Tante, Keysa benar nggak sih ngelakuin hal itu?" tanya Keysa, karena ia juga merasa bersalah telah melakukan hal seperti tadi. Ucapan yang ia lontarkan itu sangat sakit jika terdengar.
Namun, tanggapan dari Reta justru mengedikkan kedua bahunya, lalu menjawab dengan ragu. "Ya mungkin kayaknya nggak salah deh, kan ... terserah kamu juga mau jawab apa."
"Tapi Keysa takutnya terlalu kasar gitu loh, kan biasanya Keysa nggak pernah bilang kayak gitu. Apalagi kalau dicariin sama Dion itu enggak pernah nolak," sahut Keysa, yang mengutarakan opininya tentang apa yang ia lakukan tadi pada Dion.
Tangan kanan Reta langsung mengibas tepat di depan wajah, lalu menjawab, "Udah Key, tentang itu mah nggak usah dipikirin. Lagi pula Dion juga nggak bakal masukin ke hati kok, udah santai aja ya."
Jawaban dari Reta yang seperti itu tidak langsung membuat Keysa lega, tetapi justru rasa bersalah itu semakin menyelimuti.
Sampai akhirnya Reta kembali berucap, "Ya udah gih, takutnya Dion bakalan balik ke sini dan kamu ada di kamarnya dia, itu kan lebih bahaya lagi."