"Sayang! Kamu ada di dalem?" seru Reta, dengan tangan kanan yang sudah bergerak untuk mengetuk pintu indekos yang ditempati oleh Keysa.
Mendengar suara yang sangat familier sekali, membuat Keysa langsung terbangun dari posisinya itu dan segera membuka pintu. "Tante!"
"Hey! kamu nangis?" tanya Reta, yang langsung menangkup wajah calon menantunya itu, saat Keysa memeluk dirinya dengan sangat erat.
"Dion, Tante! Keysa takut banget kalau Dion sampai nyari cewek lain," ujar Keysa, dengan suara yang kini sesenggukan.
Bayangannya langsung menuju ke saat di mana Dion akan memiliki perempuan baru, dan hubungannya dengan laki-laki itu terputus. Berakhir sudah, hanya gara-gara dirinya yang memancing emosi terlebih dulu.
Karena Keysa yang tak ingin melepas pelukan, maka Reta memilih untuk hanya menggerakkan tangan kanannya bergerak mengusap kepala perempuan yang akan menjadi menantunya itu.
"Sayang, calon menantu kesayangan, Tante. Jangan sedih kek gitu, dong!" ujar Reta, yang masih berusaha keras untuk tak membuat Keysa terus saja menangis.
"Kita duduk dulu di situ, yuk! Atau masuk ke dalam kosan kamu aja?" tawar Reta, setelah dirinya tak mendapat jawaban sama sekali dari Keysa.
Perlahan Keysa melepas pelukan yang sedari tadi ia lakukan itu, lalu pada akhirnya perempuan itu pun menjawab, "Kita duduk di dalam aja yuk, Tante!"
Tentu saja dengan sangat senang hati sekali, Reta langsung menganggukkan kepala dan dengan kedua kaki, yang saling bekerja sama untuk melepas sandal.
"Eum ... maaf kalau kamarnya berantakan, Tan, soalnya tadi milih baju yang menurut Keysa itu rapi," ucap Keysa, dengan tangan yang langsung bergerak untuk memunguti baju dan juga rok yang ia punya.
Reta mengulas senyum, menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Enggak apa-apa, Sayang. Enggak ada masalahnya sama sekali kok."
"Jadi gini loh, Key, seriusan Tante kira kalau Dion itu bakalan ke sini buat jemput kamu dan ngajak kamu jalan-jalan ke mana gitu," ujar Reta, yang mulai untuk membicarakan tentang apa yang tadi ingin sekali dibicarakan, tetapi tidak sempat.
"Mungkin aja, emang mas Dion itu bener-bener mau nyari cewek lain di luaran sana yang lebih bening lagi, Tan," sahut Keysa, dengan raut wajah yang mencirikan sekali jika dirinya itu sudah sangat putus asa sekali.
Namun, keyakinan yang berada di dalam hati Reta, membuat perempuan itu langsung menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Percaya sama Tante, kalau anak Tante itu enggak bakalan ngelakuin hal yang kek gitu!"
"Kamu tau? Waktu Tante ngelarang Dion buat menjalin hubungan sama perempuan yang enggak Tante suka, Dion langsung ngejauhin perempuan itu."
"Apalagi, Dion itu udah sayang sama kamu, dan Tante juga udah ngasih restu buat hubungan kalian berdua. Percaya deh sama, Tante, Dion enggak bakalan ngelakuin hal yang nyeleweng," ujar Reta, dengan sangat panjang sekali.
Semua apa yang diucapkan oleh Reta memang benar adanya, di samping memberi semangat untuk perempuan yang ada di sampingnya itu, Reta juga ingin memberitahu bagaimana sosok anak semata wayangnya itu.
Saat mereka sama-sama terdiam, hingga menciptakan keheningan. Tiba-tiba saja ponsel milik Keysa berdering.
"Siapa, Key?" tanya Reta langsung, yang tentu saja langsung dijawab gelengan kepala oleh Keysa, karena ia sendiri juga tidak tahu siapa yang meneleponnya.
Buru-buru Keysa berdiri dan meraih ponsel yang berada cukup jauh dari posisinya saat ini.
"Tante, ini dari Dion!" seru Keysa, dengan suara yang sarat akan kebahagiaan.
Dan tanggapan dari Reta hanyalah mengulas senyum saja, karena ia juga akan ikut senang, jika kedua orang yang sudah ia sayangi itu bahagia.
"Keysa angkat ya, Tante," ucap Keysa, yang justru meminta izin terlebih dulu. Tentu saja dengan sangat senang hati sekali, Keysa langsung menganggukkan kepalanya untuk sebagai pertanda jika ia menyetujui hal tersebut.
"Key, kamu enggak nyariin keberadaan aku di mana?" tanya Dion, dengan kedua mata yang melihat ke kanan dan juga kiri, tetapi semua yang ia lihat itu selalu saja orang berpasangan.
Mendapat pertanyaan yang seperti itu, tentu saja membuat Keysa langsung mengulas senyum, tetapi ia buru-buru menetralkan semuanya, lalu menjawab, "Loh, buat apa? Enggak penting banget!"
'Ya Tuhan! Ingin banget saya itu mau bilang, kalau apa yang tadi saya bilang, itu enggak bener sama sekali!' teriak Keysa di dalam hatinya.
"Enggak penting kamu bilang? Key, kok kamu lama-kelamaan makin aneh ya? Padahal kita belum lama loh jadian, kenapa jadi jutek gini, sih? Jangan bilang kalau kamu itu nerima aku jadi pasangan kamu karena terpaksa?" Dion langsung mengeluarkan pertanyaan yang sangat banyak sekali.
"Ya udah, sih! Kan lagian kamu juga lagi nyari cewek yang lain! Yang fokus aja nyarinya, jangan sampai dapet yang lebih jelek dari aku!" sahut Keysa, dengan nada suara yang sangat ketus.
"Loh, kok malah bilangnya kek gitu, sih? Padahal, kan apa yang tadi saya bilang itu enggak ada yang bener sama sekali," ujar Dion, dengan suara yang sudah terdengar sangat sendu.
Namun, permainan menyakiti hati yang sudah disusun oleh Reta dan juga Keysa tak semudah itu berakhir.
Perempuan itu kembali berucap, "Kalau bener juga nggak masalah sama sekali. Santai aja kali kalau sama saya!"
"Ih, kok jawabnya kek gitu lagi? Enggak percaya ya sama saya, kalau saya itu bener-bener bercanda tentang hal itu?" tanya Dion, yang kembali mencoba untuk meyakinkan perempuan yang ia suka itu.
"Ah! Iya, Mas. Tunggu bentar! Udah dulu, deh! Aku mau jalan sama laki-laki yang waktu itu ketemu dan kamu silahkan cari perempuan yang lebih cantik, bening dari aku!" ujar Keysa, lalu tanpa meminta persetujuan sama sekali, keysa memutuskan untuk langsung mengakhiri panggilan itu.
Apa yang dilakukan oleh Keysa, tentu saja membuat Dion merasa sangat frustrasi sekali, dan bingung harus melakukan apa lagi.
"Ish! Pantes aja Dion waktu itu pulang ke rumah, wajahnya langsung enggak enak gitu, orang kekasihnya aja ngeselin banget!" ucap Reta, yang sedari tadi hanya bisa mendengarkan ucapan calon menantunya itu.
"Hihi! Kan biar nendang gitu, Tante kejutannya!" sahut Keysa, lalu mengeluarkan tawa kecil.
"Jadi gimana? Kamu dah percaya, kan kalau anak Tante itu enggak akan ngelakuin hal yang enggak bener?" tanya Reta, dengan wajah yang ingin mengeluarkan sedikit tawa.
Keysa pun mengulas senyum dengan sangat lebar, lalu mendekat ke arah Reta dan memeluk perempuan itu cukup erat. "Maafin Keysa ya, Tante. Keysa cuma enggak mau kalau Mas Dion emang bener-bener pindah hati."
"Keysa udah terlanjur cinta banget sama Mas Dion," sambung Keysa, dengan kedua tangan yang kembali semakin mengeratkan pelukannya itu.
Reta yang juga sebagai perempuan dan pernah merasakan hal itu, hanya menganggukkan kepalanya. Mengusap punggung Kiara, memberi ketenangan pada perempuan itu.
"Tante tau kok gimana rasanya jadi kamu, soalnya Tante juga pernah ngerasain hal itu," sahut Reta, lalu mengulas senyum, karena ingatannya langsung menuju ke saat-saat itu.