"Yakin ini udah selesai semua?" tanya Keysa, saat dirinya merasa sedikit ragu, dengan laki-laki tersebut, tetapi lebih tepatnya untuk menggoda Dion, supaya laki-laki tersebut terpancing amarahnya.
Namun, yang namanya Dion sama sekali tak terpancing, ia justru mengeluarkan senyum dan memilih untuk menjawab, "Seriusan, kalau nggak percaya, silahkan dicek aja dulu! Nanti kalau ada apa-apa, tinggal bilang aja lagian gue masih di sini, kan?"
Dan seperti apa yang diucapkan oleh Dion tadi, Keysa memilih untuk melaksanakannya. Ia segera membuka tampilan layar ponsel tersebut dan memastikan juga, semuanya itu sudah benar. Meskipun, Keysa sendiri juga tidak paham, tentang segala sesuatu yang ada di ponsel ini.
"Gimana? Ada yang salah? Apa ada yang kurang atau gimana?" tanya Dion, untuk memastikan. Sedangkan jawaban dari Keysa langsung mengulas senyum, lalu menjawab, "Hehe, gue juga gak tahu sih, tapi bentar dulu ya, gue mau lihat-lihat dulu dan ngecek semuanya! Kalau memang benar udah nggak ada lagi yang perlu ditanyain, ya silahkan lo boleh pergi."
"Ish! Kagak ada terasa terima kasihnya banget, sih! Udah dibantu kayak gitu malah langsung ngusir gue kek gitu!" protes Dion, setelah mendengarkan apa yang tadi diutarakan oleh Keysa itu.
Mendapat kalimat protes seperti itu dari Dion, yang sebenarnya dalam artian bukan seperti itu, membuat Keysa langsung menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Maksud gue bukan gitu yaelah! Maksud gue itu, lo juga kan perlu istirahat di rumah, jadi gak harus terus-terusan ada di depan kosan gue!"
Dan Dion memilih untuk tak menyahut apa yang diucapkan dari mulut Keysa itu, ia lebih memutuskan untuk memberikan waktu pada Keysa, supaya dapat mengecek semua bagian-bagian ponsel yang saat ini ia genggam.
"Gue bingung, kalau ini itu tuh fungsinya buat apa, sih? Dan, oh iya buat nyalain data seluler itu kaya gimana?" tanya Keysa, sembari menyerahkan ponsel miliknya itu dan ia lebih mendekatkan ke arah Dion.
Kali ini Dion benar-benar harus melatih kesabarannya, ia menghembuskan napas terlebih dahulu, sebelum akhirnya menjawab, "Ini nih yang namanya mengaktifkan data seluler, itu bukan kayak hp lama lo, yang biasanya dari atas ke bawah, kalau ini dari bawah ke atas!" Penjelasan dari Dion langsung membuat Keysa paham, karena laki-laki itu juga mempraktekkan bagaimana caranya.
Dan beberapa pertanyaan yang Keysa lontarkan, tidak hanya cukup satu ataupun dua, tetapi memang cukup banyak, karena seluruh bagian ponsel itu rata-rata tidak diketahui oleh Keysa. Sehingga perempuan tersebut membutuhkan seseorang yang mengarahkannya pada beberapa menu yang ada di situ.
Dan untung sekali Keysa dipertemukan dengan laki-laki yang cukup sabar, serta tidak mengeluarkan amarah, meskipun diberi pertanyaan yang sangat banyak. Bahkan, ada beberapa pertanyaan yang kadang tak langsung dipahami, walau dengan penjelasan yang diberikan.
Sehingga perempuan tersebut harus kembali bertanya dan bertanya, tetapi Dion lebih sabar dan kalau menjawab semua pertanyaan yang terlontar dari Keysa itu. Saat semua yang tentang ponsel itu sudah dipahami oleh Keysa, barulah Bimo bertanya "Bagaimana? Sudah paham semua?" Dengan sangat lega dan cukup senang juga.
Keysa menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban yang ia berikan untuk sebuah pertanyaan yang tadi dilontarkan oleh Dion.
"Udah yakin? Enggak ada sesuatu lagi yang bakalan buat lo bingung nanti? Kalau nggak ada gue mau balik!" tanya Dion, untuk memastikan sebelum dirinya benar-benar pergi dari halaman indekos milik perempuan yang ada di sampingnya ini.
Dan dengan sangat yakin sekali Keysa menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Iya, gue yakin kalau sekarang gue udah bisa semuanya dan udah gampang kok, hafal juga gue!"
Dian menganggukkan kepalanya, lalu berucap, "Ya udah, kalau emang udah paham semuanya. Silahkan keluar dari mobil gue, karena gue bakalan pulang ke rumah. Jadi, silahkan masuk ke dalam kosan lo sendiri, terus istirahat!"
Jawaban dari Keysa hanyalah mengacungkan jempol kanannya, melepaskan sealt belt yang masih menempel pada tubuhnya itu, lalu menggerakkan tangan kiri untuk membuka pintu mobil. Keluar dari dalam mobil, sembari tersenyum dan tanpa ucapan terima kasih sama sekali, perempuan itu langsung melangkahkan kaki untuk segera membuka pintu indekos tersebut dan masuk ke dalamnya.
Buru-buru Dion membuka kaca mobil yang tadi ditempati oleh Keysa, lalu berucap, "Ya ampun! Gak ada ucapan terima kasih sama sekali, nih? Langsung kayak gitu aja?"
Untung saja Keysa masih mendengar ucapan dari Dion tersebut dan ia langsung menolehkan kepalanya, lalu menjawab, "Hehe, maaf. Makasih banyak, ya! Kalau nggak ada lo, gue nggak bakal bisa ngerasain happy kayak gini! Apalagi udah dibenerin semuanya."
"Iya sama-sama! Meskipun ucapan permintaan terima kasihnya itu harus diingetin dulu," jawab Dion, lalu kembali menutup kaca mobil tersebut, membuat Keysa hanya mengedikkan kedua bahunya dan kembali melangkahkan kaki supaya tempat di depan pintu.
Namun, terlebih dulu Keysa melihat mobil milik Dion perlahan keluar dari halaman indekosnya dan benar-benar hilang dari pandangan, baru setelah itu perempuan tersebut membuka tas yang masih berada di tubuhnya, mengambil kunci indekos sebelum dirinya masuk ke dalam.
Pandangan mata milik Keysa itu tak kunjung lepas dari ponsel yang masih ia genggam, hingga tubuhnya berada di atas tempat tidur. Pandangan matanya masih tetap terfokus pada ponsel baru miliknya, yang diberikan oleh laki-laki menyebalkan baginya itu.
Rasanya memang sangat asing, karena jika pertama kali menggunakan hal atau sesuatu yang baru, pasti rasanya itu akan berbeda, tapi lama kelamaan memang akan terbiasa dan bahkan rasa nyaman itu akan hadir.
Cukup lama untuk membuka dan juga memeriksa semuanya, mencoba beberapa menu dan juga fitur yang terdapat dari ponsel tersebut, sampai akhirnya Keysa mengingat tentang kabar orang tua dan juga satu adiknya itu.
Buru-buru ia menyalakan data seluler dan membuka aplikasi berwarna hijau, atau disebut dengan w******p, lalu mencari nomor telepon milik adiknya itu. Memencet tombol untuk melakukan sebuah panggilan.
Di layar itu, langsung tertulis berdering, sehingga hanya menunggu beberapa detik saja, sampai akhirnya orang yang dituju itu mengangkat panggilan. Sedikit selama untuk menunggunya dan bahkan sama sekali tak diangkat oleh adiknya itu.
Membuat Keysa memutuskan untuk mematikan layar ponsel dan terbangun dari posisi tidur itu, segera melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi, lalu mulai melaksanakan kegiatan membersihkan seluruh tubuhnya dari keringat yang masih menempel.
Karena daripada pusing memikirkan keluarganya, yang tak kunjung mengangkat telepon darinya Keysa memilih untuk merefresh otak, dengan cara mandi. Lagipula, setelah kegiatan mandinya Keysa memiliki list tersendiri. Yaitu, akan mengerjakan beberapa tugas mata kuliah yang akan ia serahkan besok, sebelum nanti menuju ke rumah dari Dion.