Pandu tersenyum, “Bunda.” Mengulurkan tangan dan segera mencium punggung tangan bunda Tari. Dia akan menjemput Tari untuk makan malam, itu adalah rencananya dan Tari, Pandu senang bunda Tari sudah tak terlihat bersedih lagi. “Wajahmu sama dengan wajah Rizky tadi pagi,” ucap bunda Tari. Pandu tersenyum kecut, tidak menyangka kalau Rizky ke sini juga tadi pagi, bahkan bisa dibilang dia terlambat. “... apa kalian baru saja berkelahi?” tanya bunda Tari. Pandu terkekeh, “Tidak, Bunda. Aku belum bertemu dengannya. Tari sudah siap, Bunda? Aku mau mengajak Tari makan malam di rumah.” ucap Pandu setelah duduk di ruang tamu, bunda Tari yang mengajaknya tadi. “Sudah, Bunda ... ah! Itu dia.” Bunda Tari menunjuk putrinya yang baru saja ke luar dari kamar, “Bunda punya sesuatu untuk mamamu, tunggu

