“Sekali lagi, Tuan Rizky.” Mintanya sambil menyodorkan kamera, “Sempurna. Terima kasih, Tuan Rizky.” Segera berbalik, akan pergi dari rumah ini. “Bawa kuenya.” Rizky mengambil kue itu, menyodorkannya ke pekerja kue, “Oh! Aku—“ Rizky segera meringis, tidak menyangka kalau akan menubruk pekerja itu dan membuat seragamnya terkena kue. “Tidak apa-apa, Tuan Rizky. Saya boleh menumpang ke kamar mandi? Di mana?” setelah mendapatkan arah, dia pun segera ke sana, membersihkan kemejanya, dan segera ke luar. Tentu saja tak kembali ke mana ada tuan Rizky, dia sengaja berkeliling dulu untuk mencari nona Tari. Pintu demi pintu dia buka, hingga menemukan sebuah kamar yang terlalu sulit untuk dibuka, tidak seperti semua kamar kosong yang tadi dimasukinya. “Apa aku bisa membuka ini?” tanyanya sambil ter

