“Hey!” Pandu melambai, Hendra dan Rio sudah memulai pesta ini ternyata. “Ayo!” ajaknya ke Tari dan segera menggandeng tangan itu. “Hey.” Tari menyapa Hendra dan Rio, mengajak ke duanya bersalaman. Meski sambutan Rio terbilang kaku, Tari tak peduli, bersikap sama, dengan Rio mau pun Hendra juga. “Kamu minum apa?” tanya Hendra ke Tari. “Zero saja.” pinta Tari. Dia tak mau lidahnya menjadi terbiasa dengan alkohol. Hendra yang paham, segera meminta ke pekerja bar, kemudian kembali melanjutkan pesta. “Hanya berempat?” tanya Pandu. Ada anggur merah di meja, minuman mahal sebotol, dan sisanya hanya minuman penyemarak. Ini bukan pilihannya, tapi Pandu menghargai karena bukan pesta biasa yang diadakan di rumah atau perkumpulan khususnya. “Temanku tidak bisa datang, dia dinas malam, jadi kita

