Rizky tersenyum, obat yang dia suntikkan berhasil dengan baik, dia mencoba dengan terus memagut bibir itu, meraba d**a Tari, memutar dan meremasnya, sangat mengasyikkan. Tari pun sama gilanya, dia tak tahu dengan dirinya sendiri, meski sadar semua ini salah, ternyata dia tetap menikmati semua sentuhan ini. Pandu yang gelisah, dia seperti orang gila, “Aku ke belakang dulu.” Pandu tak menunggu jawaban dari Rio, segera menelepon Tari untuk memastikan kalau dia memang sampai di rumah dengan selamat, tapi ponsel itu tetap tak ada yang menjawabnya. Pandu ingin menelepon lagi, tapi sebuah pesan masuk membuatnya sedikit lega. [Aku tidur dengan bunda, Sayang. Maaf tidak bisa menerima telepon darimu. Nikmati pestamu, Sayang.] Rizky tertawa, ponsel itu pun segera di matikan, melemparnya sembarang

