Pandu menarik Tari dengan kuat, meski harus susah payah karena Tari sudah mengangkangi Rio, untung saja dia bisa menarik tubuh itu. “Bawa Rio pergi, Hendra!” perintahnya lebih keras agar Rio tak lagi ada di depan Tari. Hendra tak menjawab, memilih untuk segera membantu Rio, mengajaknya ke luar, dan berangkat ke bandara. Hendra menoleh ke Rio sesekali, dia yang tak tahan, meraih tangan itu, meremasnya agar lebih tenang. Rio menoleh sekilas, dia membuang muka kembali, mulutnya tetap terkunci karena tak ingin membahas apa pun, masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Tari menangis lagi, meraung, dia sangat kesal dan bercampur dengan jengkel. Tubuhnya lemas, dia masih duduk di lantai. “Sssstttt!” Pandu masih memeluk Tari, mengecupi puncak kepala itu, saat merasa Tari sudah tak sesenggukan, P

