Seperti permintaan Risa, Rizka harus mengajak Teddy untuk latihan boxing hari ini. Rizka menjemput Teddy ke rumahnya.
"Halo, Tante." Rizka menyapa ramah.
"Aduhh anak gadiiisss mukanya bonyok gini," komentar Risa melihat lebam di wajah Rizka akibat berkelahi dengan Abangnya kemarin.
"Biasa, Tante," jawab Rizka tersenyum.
"Teddy! Teddy! Lama amat anak laki satu ini!" omel Risa pada anaknya. Teddy mengintip dari pintu kamarnya.
"Teddy!" bentak Risa.
"Ibu! Teddy ga mau latihan tinju," rengek Teddy di balik pintu yang hanya terbuka selebar wajahnya.
"Loh kenapa ga mau? Ini biar kamu bisa berkelahi. Emangnya kamu ga mau kayak laki-laki lain?" tanya Risa.
"Nanti kalau muka Teddy bonyok kayak Rizka, gimana?!" jeritnya sambil menangis.
Model kayak begini diajak latihan tinju? Mending suruh main bekel. Batin Rizka ikut menolak Teddy untuk latihan.
"Ga apa-apa, Sayang," bujuk Risa menghampiri anaknya itu.
"Ibu!" bentak Teddy terkejut. "Ibu ga sayang ya sama Teddy!" jeritnya dengan tangisan yang semakin menjadi.
"Sayang kok, Cah Lanang Ibu." Risa membuka pintu kamar Teddy dan mengusap air mata laki-laki berusia 17 tahun itu. "Teddy kan Cah Lanang, makanya Ibu suruh latihan tinju biar bisa bela diri. Setidaknya biar Teddy ga digangguin orang. Kalau Teddy bisa tinju-tinju 'kan bisa jagain Rizka juga," lanjutnya sambil terus mengusap air mata Teddy.
"Teddy mau bela diri, tapi ga mau belain Rizka!" tegas Teddy dengan gemulai.
"Iya iya, Rizka bisa bela diri sendiri," imbuh Risa membujuk anaknya lagi. Teddy masih mengirup ingusnya berkali-kali dan berjalan ke luar kamar.
Rizka hanya melihat saja tanpa berkomentar apapun. Karena dia tahu Teddy memang seperti itu, dan itulah alasan ia menolak perjodohan ini.
"Ga usah lihatin Teddy!" ucap Teddy sinis. Rizka menghela napasnya ke arah lain.
"Pokoknya Teddy ga mau latihan. Nanti antar Teddy ke rumah Sarah, biar Teddy main di sana ..." bisik Teddy.
"Iya serah lu!" bentak Rizka membuat Teddy terkejut.
"Ibuuu!" jerit Teddy kesal. "Suruh Rizka jangan bentak-bentak Teddy lagi! Kalau Teddy kaget-kaget terus, Teddy bisa kena serangan jantung. Ibu mau kalau Teddy mati muda?!" Teddy menekuk wajahnya cemberut.
"Iya, Teddy yang tampan dan baik hati. Maaf!" tegas Rizka dengan nada selembut-lembutnya.
***
Sementara Teddy dan Rizka menuju ke rumah Sarah, motor Rifki terparkir di depan rumah berwarna putih itu. Ia tengah menjelaskan sebuah kesalahpahaman yang baru saja terjadi antara ia dan Sarah kepada Dewa.
"Anj*ng!!!" teriak Dewa.
Siapa yang tidak akan kesal jika mendengar bahwa adik perempuannya telah dijamahi pemuda-pemuda yang biadab?
"Itu sebabnya, kenapa gua selalu larang Sarah ke luar sendirian! Apa lagi pas malem-malem kayak gitu!" Dewa meremas kepalanya penuh amarah.
"Dulu pas SD. Sarah pernah digangguin teman sekelasnya! Dia jadi trauma kalau ketemu laki-laki! Dia cuma berani ketemu gua sama Teddy! Bahkan sama Ayah aja, dia takut!" jelas Dewa.
"Kalau aja Sarah ngomong siapa orangnya, udah gua gampar tuh orang sampai mati!" lanjutnya sambil mengepal tangan hingga urat lengannya terekspos.
Rifki hanya terdiam, dialah orang yang harus ditampar hingga mati oleh Dewa. Dialah orang yang mengganggu Sarah dari SD hingga berlanjut ke bangku SMA. Dialah orang yang membuat Sarah trauma. Dialah orang yang membuat Sarah mengatup mulutnya dengan rapat karena tahu hal ini bisa memecah-belah persaudaraan antara Ayahnya dan Ayah Rifki.
"Tolong jagain Sarah ya, Rif." Kalimat itu mengejutkan Rifki yang sedang terdiam.
"Gua tahu lu pasti bisa jagain dia," lanjut Dewa menepuk pundak Rifki.
***
Hari ini Rifka merasa aneh pada tubuhnya. Ia terus memandang wajahnya yang berada di pantulan cermin. Lagi-lagi ia melihat bayi kecil di kasurnya dari pantulan cermin. Segera ia menoleh ke sana dan tak ada apapun.
Rifka berpikir ini hanyalah rasa bersalahnya yang telah 2 kali menggugurkan kehamilan tanpa sepengetahuan Orangtuanya.
***
Rizka dan Teddy baru saja sampai di rumah Sarah. Rizka mengernyit heran karena motor Ninja berwarna hijau milik Rifki berada di depan pagar rumah tersebut.
"Rifki di sini?" tanya Teddy.
"Mana gua tau!" bentak Rizka.
"Teddy ga suka ya kalau Rizka kayak gitu! Cewek itu harus lemah lembut!" omel Teddy menghentak-hentakkan kakinya.
"Ciwik iti hiris limih limbit," ejek Rizka. "Bapak kau suruh lemah lembut sana! Lu mau tukeran kelamin sama gua. Kayaknya lu lebih cocok jadi cewek," ucap Rizka sangat frontal.
"Iiiih! Mulutnya mulutnya mulutnya! Jahat banget!" omel Teddy menekuk wajahnya.
Rifki ke luar dari rumah Sarah, melihat Rizka dan Teddy.
"Rifki ngapain ke sini?" tanya Teddy. Rifki hanya terdiam tanpa jawaban.
"Jadi ceritanya, lu udah terima dijodohin?" ejek Rizka .
"Apa sih lu. Lu berdua ngapain ke sini?" Rifki berusaha mengalihkan pertanyaan tentang dirinya.
"Gua nganterin Si Konted ke sini!" bentak Rizka.
"Ya ampun ya ampun ya-am-pun! Nama Teddy udah bagus banget 'Teddy Bimantoro' kenapa disebut 'Konted'?!" jerit Teddy.
"Apa sih, Ted?! Lebay deh lu!" bentak Rizka.
"Udah ah, daripada deket-deket sama cewek macho kayak Rizka, mending Teddy ketemu Sarah. Bye!" ucap Teddy berlalu.
"Sarah? Dia pergi sama Ibunya," ucap Rifki membuat Teddy menghentikan langkahnya.
"Pergi?" Teddy melongok menghampiri Rifki.
"Yaudah, ayok latihan!" ajak Rizka tersenyum sumringah.
"Tapi tapi tapi, tapi! Tapi ... Teddy ga mau latihan tinju!" rengeknya.
"Rif, lu bawa dia! Ribet banget kalau gua bawa beginian di jalan," ejek Rizka.