Salah Paham

963 Kata
Rizka dan Rifki sedang melakukan sidang keluarga di kamar orangtuanya. "Kenapa kamu memukul Rifki?" tanya Fauziah pelan. Rizka tetap enggan menyebutkannya. "Jika kamu terus diam seperti ini, kaulah yang terlihat bersalah, Rizka." Ayahnya ikut menimpali. Rizka tak ingin terlihat bersalah. Namun, ia juga tak bisa menyebutkan alasannya. Hal itu sangat tabu untuk dibahas. "Kenapa lu diam?!" bentak Rifki memancing emosi Rizka. Rizka mulai kesal dengan rasa tidak bersalah abangnya itu. "Kenapa lu nyuruh anak-anak tongkrongan lu megang-megang tubuh Sarah?!" teriak Rizka penuh geram membuat kedua orangtuanya tak bisa mengucap sepatah katapun. "Gua?! Gila kali lu! Kenapa juga gua ngelakuin hal kayak gitu?!" bantah Rifki. "Semalam lu ke mana? Lu nyuruh anak-anak tongkrongan lu ngebawa Sarah ke gedung kosong terus lu suruh mereka megang-megang tubuh Sarah?! Gila ya lu, ga nyanga gua Rif! Biadab banget lu!" bentak Rizka. "Kapan gua nyuruh mereka?! Gua pulang latihan mampir ke rumah dia! Gua ngobrol sama ibunya! Gua sama Bang Dewa nyariin dia karena dia ga balik-balik pas di suruh ibunya ke warung!" teriak Rifki. "Pinter banget lu ngilangin jejak!" balas Rizka. "Ngilangim jejak? Emang gila lu!" Rifki mulai kesal dibuat oleh argumen adiknya itu. "Ini sebenarnya apa? Apa yang terjadi?! Jelaskan dari awal!" bentak Raka, ayah mereka. "Rifki nyuruh teman-teman tongkrongan dia buat megang-megang tubuh Sarah semalam!" tegas Rizka. "Kapan gua nyuruhnya?! Semalam Sarah hilang, Yah Bu. Rifki sama Bang Dewa nyariin dia. Pas waktu itu Rifki ketemu sama dia. Dia lagi di kejar 3 orang laki-laki. Apa salah Rifki bawa dia pulanh?!" tegas Rifki. Untungnya ketidaksengajaan malam itu bisa menyelamatkan Rifki dari kesalahpahaman ini. Jika saja ia tak menemukan Sarah, mungkin tuduhan Rizka itu bisa benar-benar membunuhnya sekarang. "Kamu tahu dari mana kalau Rifki menyuruh teman-temannya?" tanya Fauziah. "Mereka yang bilang ke Obet! Obet bilang ke aku!" bentak Rizka pada Ibunya. "Gua hajar kalau mereka benar-benar bawa nama gua buat gituin Sarah! Tapi, kalau ini cuma kebohongan Obet ... Gua hajar Obet besok balik sekolah!" tegas Rifki penuh geram menarik Rizka keluar dari kamar orangtuanya itu. Mereka berpapasan dengan Rizki yang baru keluar dari kamar Rifka dan Rizka. "Eng- Rifka demam katanya," ucap Rizki kikuk dengan keringat memenuhi tubuhnya. "Jagain adek lu kalo dia sakit!" tegas Rifki. Keringat lelah hasil persetubuhan sedarah itu malah terlihat seperti keringat lelah karena mengurusi saudara yang tengah sakit. Sangat sulit melihat kisah di balik keringat yang melekat di tubuh Rizki. *** Rifki membawa Rizka ke tempat tongkrongannya. Seketika, teman-teman Rifki bergedik terkejut. Pasalnya telah lama Rifki tak pernah berkunjung ke tempat itu lagi, terlebih lagi saat perjodohannya terdengar oleh mereka yang ada di tempat itu. Rifki sangat peka dengan gerak-gerik mereka semua. Dengan cepat ia menghantam wajah salah satu dari mereka. Kedua teman yang lain pun mengamankan temannya yang telah tersungkur di bawah bangku. "Ada apaan nih, Rif?!" bentak temannya itu. "Setan lu semua!" teriak Rifki terus menghantam wajah temannya itu. Kedua temannya memegangi Rifki membuatnya tak bisa melakukan perlawanan. Satu temannya yang tersungkur, bangkit dan tersenyum sumringah. "Udah lama ga nongkrong. Lu ke sini karena cewek lu?" tanyanya. "Anj*ng lu!" teriak Rifki lagi. "3 lawan 1, berani juga lu," ejeknya pada Rifki. Tubuh kecil Rizka tak terlihat oleh mereka. "Riz bantuin gua Riz!" teriak Rifki. "Gua? Gila kali lu, bukan urusan gua." Rizka mengipasi dirinya sendiri karena suasana secara tiba-tiba menjadi terasa panas. "Cewek baru?" tanya pria yang baru saja dipukul oleh Rifki itu. "Gua? Ceweknya Rifki? Buta kali gua mau sama dia. Kalo lu mau mukulin dia, pukulin aja. Buru! Dia emang biadab," ucap Rizka. "Santai amat lu lihat cowok lu dipukulin," ucap pria itu. "Buru Riz!" perintah Rifki. "Jadi gini, gua tuh cuma mau nanya. Lu kenal sama Sarah?" tanya Rizka pada pria yang bersiap menghantam wajah abangnya itu. Rizka duduk di bangku yang sudah kosong di hadapan mereka. "Ceweknya Rifki, kenapa?" imbuh pria itu. "Semalam lu ketemu dia?" Rizka mengendus-endus aroma masam di tempat itu. "Haha, cuma main doang dikit," ucap pria itu sambil terkekeh. "Bau apa sih nih?" tanya Rizka. "Ah? Bau apa?" Mereka ikut mengendus aroma masam tersebut. Rifki pun ikut mengendus. "Kayak bau t*i kuda!" bentak Rizka. "Burulah Riz!" teriak Rifki berusaha untuk membebaskan diri. "Eh, by the way. Emang Rifki nyuruh lu buat gituin ceweknya?" tanya Rizka lagi. "Sengaja gua ngincar ceweknya biar dia nongkrong lagi di mari!" tegas pria itu. "Ga usah nyolot juga, Anj*ng!" bentak Rizka. "Maksud lu apa ngatain gua anj*ng?" tanya pria itu. "Eeh gapapa kok. Kebawa emosi aja. Kalo mau mukulin Rifki, pukulin aja. Gua kasih semangat dari sini," ucap Rizka. "Ini cewek lu apa bukan sih Rif?" tanya pria itu. "Bacot amat lu!" teriak Rifki. Segera pria itu menghantam perut Rifki, namun Rizka lebih cepat menahan tangannya dari belakang. Hanya dengan satu tendangan di p****t bagian atas, pria itu tersungkur dan susah untuk bangkit kembali. "Maaf ya kalo tulang ekornya patah," ucap Rizka penuh kepolosan. Kedua temannya yang lain, segera melepaskan Rifki. "Yah, kenapa? 3 lawan 2 masa takut, kan ini cewek bro!" ejek Rifki. "Kalo lu ga sanggup, ga usah bacot!" bentak Rizka menaiki tempat duduk belakang Motor Ninja milik Rifki. Pertanda bahwa ia ingin segera pergi dari tempat itu. Rifki memang peka, sangat peka. Dia langsung menaiki motornya dan membawa Rizka pulang. "Sorry ya, salah paham," ucap Rizka pada abangnya. "Salah paham sih salah paham, ini d**a gua masih sakit!" omel Rifki. "Lu kira hidung gua ga sakit?!" Rizka menepuk helm abangnya itu. "Gara-gara salah paham kayak begini. Gua dipukulin adek gua sendiri, Sarah makin benci sama gua!" gerutu Rifki. "Lu suka ya sama Sarah?" tebak Rizka membuat abangnya bergedik terkejut. "Kaget lu? Beneran lu suka sama Sarah?!" jerit Rizka menodongkan pertanyaan setajam belati di ujung urat leher Rifki. Rifki tak bisa menjawab maupun mengalihkan pertanyaan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN