Bab 2 Ini Bundaku

1888 Kata
"Emira nggak mau ke rumah oma!" jerit gadis kecil berusia tiga tahun pada lelaki yang berdiri dengan angkuh di hadapannya. "Selalu saja menyusahkan, andai bukan darah dagingku, tidak sudi aku mengurusi gadis kecil pemberontak ini." Gerutuan dalam hati tercermin jelas dari raut wajah khas Timur Tengah itu. "Em, hari ini kamu ulang tahun, oma sudah mempersiapkan acara ulang tahunmu. Ayo kita ke sana sekarang." Lelaki berjambang dan berkumis itu mencoba membujuk kembali anaknya. Tubuh tegapnya disejajarkan pada gadis pemilik garis wajah, yang mirip dengannya tapi dalam versi perempuan. "Benarkah? apakah ada bunda juga?" Pertanyaan yang sudah sering keluar dari bibir mungil itu, selalu mampu menggores nurani siapa saja yang tahu kisah hidupnya. Tapi tidak untuk lelaki yang ada di hadapannya. "Mungkin. Nanti tanyakan saja pada oma, oke. Ayo kita segera berangkat, Mbak Ria sudah menunggu di depan." "Oke, Pah." Wajah ceria mengurangi langkah bapak dan anak keluar dari kamar dengan nuansa biru. "Pah, gandeng Emira," pinta gadis kecil berhidung mancung itu. "Ck, kamu sudah besar Em, jadi jalanlan sendiri. Belajar mandiri dan tidak manja, aku tidak selamanya akan ada bersamamu," ujar lelaki yang dipanggil Pah oleh Emira sambil berlalu. Tanpa mempedulikan perkataan papanya, Emira melanjutkan langkah kecilnya menyusul sang papa. "Oma!" Emira langsung menghambur ke pelukan sang oma, begitu melihat sosok wanita yang sangat menyayanginya. "Sayang, cucu oma yang paling cantik. Hemm, sudah harum, tadi mandi sama papa atau sama Mbak Ria?" Nyonya Gulizar mendekap erat cucu satu-satunya. Reiga--papa Emira--segera membukakan pintu mobil untuk ibu dan anaknya. Sedang dirinya memutari depan badan mobil, lalu duduk tenang di belakang kemudi. "Sama Mbak Ria, papa sibuk masukin baju ke ransel," adu Emira dengan bibir mengerucut. "Tugas kemana lagi, Re? baru juga dua minggu di rumah. Emira butuh kamu," protes Nyonya Gulizar menatap tajam pada anak lelakinya. "Mah, aku prajurit lo, sudah kontrak mati kalau harus siap ditugaskan kemana saja dan kapan saja. Emira lebih aman bersama mama dan papa. Aku tidak bisa dekat dengannya, percuma." Terdengar dingin suara Reiga kalau membahas soal Emira. "Oma, kata papa hari ini aku ulang tahun, apa benar?" Suara ceria Emira memutus perbincangan antara papa dan neneknya. "Iya, Sayang. Hari ini umur Emira sudah tiga tahun. Oma mempersiapkan acara ulang tahu Emira di rumah. Nanti ada banyak teman. Em, senang?" Nyonya Gulizar menjawab dengan antusias. Hatinya selalu diliputi kesedihan setiap mendapati Reiga belum bisa menerima Emira. "Senang, Oma. Apakah ada bunda juga?" Lengan wanita keturunan Arab Turki itu, langsung mengetat pada tubuh cucunya. Selalu ada kesedihan jika Emira menanyakan tentang ibunya. "Kita lihat nanti, ya, Sayang, apakah bunda ada atau tidak." Nyonya Gulizar sekuat tenaga menahan air mata. Dia tidak mau di hari bahagia cucunya justru memancing kesedihan. Mesya, mantan istri Reiga yang juga ibu Emira pergi setelah melahirkan Emira. Menurut berita yang didengar, Mesya kembali pada kekasihnya. Pernikahan Reiga dan Mesya memang hasil perjodohan dari kedua orang tua. Sebagai bakti anak pada orang tuanya, dua manusia dewasa yang sebenarnya berhak memutuskan jalan hidup masing-masing, malah menerima perjodohan tersebut. Mobil yang dikendarai Reiga memasuki halaman luas rumah orang tuanya, setelah membelah jalanan selama dua puluh menit, tanpa kemacetan. Reiga menghentikan mobil di depan teras. Emira langsung berlari ke dalam rumah, begitu turun dari mobil. Mbak Ria gegas mengejar gadis kecil yang diasuhnya sejak bayi. Nyonya Gulizar menunggu anak lelakinya memarkirkan mobil di garasi, untuk masuk bersama. "Bunda ...." Emira menatap takjub sosok yang sedang menata makanan di atas meja makan. Binar bahagia tergambar jelas di wajah cantiknya. Bocah dengan rambut bergelombang itu sangat senang dengan kejutan dari sang oma, terlebih di hari ulang tahunnya. "Bunda!" Kaki kecil Emira berlari menuju ke arah meja makan. Dan dua lengannya langsung memeluk kaki orang yang disangka ibunya. "Eh, ini siapa?" Frida sangat terkejut karena kakinya tiba-tiba dipeluk erat anak kecil sambil memanggilnya bunda. "Bunda, kenapa lama sekali perginya, apa Bunda nggak sayang Emira?" Suara protes terdengar beriringan dengan isak tangis. Mau tidak mau Frida menoleh ke bawah kakinya. Anak perempuan dengan gaun indah, berwarna marron, sedang menangis sambil memeluk kedua kaki Frida. Dilepaskan sarung tangan plastik dari jemari, lalu menyentuh bahu kecil yang turun naik, karena tangis. Frida memposisikan tubuhnya sejajar dengan Emira. Perlahan dihapusnya air mata dari wajah cantik itu. "Sayang, kenapa?" Frida bertanya sambil menatap wajah anak perempuan, yang diyakini berdarah TimurTengah. "Emira kangen Bunda." Pemilik rambut kecokelatan itu langsung melingkarkan dua lengannya di leher Frida. Terkejut, itu reaksi Frida saat mendengar gadis kecil yang bernama Emira memanggilnya bunda. "Sayang, lihat sini. Memang wajah Kakak mirip dengan Bundamu?" Frida mengangkat wajah mungil yang sudah bersimbah air mata itu. Emira menelisik wajah cantik di depannya dengan kening berkerut. "Emira belum pernah bertemu Bunda. Kata Papa, Bunda pergi setelah melahirkan aku." Isak tangis terdengar lagi dari bibir mungil kemerahan. Sesak d**a Frida mendengar kalau gadis sekecil ini sudah kehilangan kasih sayang seorang ibu. Frida kembali memeluk tubuh kecil dengan aroma khas minyak telon. Perjalanan hidup setiap manusi memang berbeda-beda. Dirinya yang selalu merasa kesepian, hingga harus mencari sebentuk kehangatan keluarga di luar rumah, justru bertemu dengan anak kecil bernasib hampir sama, bahkan usianya jauh lebih muda darinya. "Em, di mana kamu? Jangan bikin ulah!" Suara berat seorang lelaki terdengar mendekat ke arah ruang makan, seiring dengan derap langkah kaki. "Em, apa yang kamu lakukan? Siapa itu?" Frida mengangkat wajahnya begitu mendengar suara berat dengan jarak begitu dekat. "Papa, ini ada Bunda," ujar Emira dengan wajah semringah dan tampak binar bahagia tergambar jelas di sana. "Eh, bu--kan, Kakak bukan bunda kamu," sanggah Frida dengan kegugupan juga rasa takut. Terlebih ketika pandangannya bersitobrok dengan tatapan tajam, lelaki berjambang dan berkumis tersebut. "Kamu siapa, kenapa ada di rumah mama saya? Dan kamu Em, jangan sembarangan memanggil Bunda pada orang asing!" Lelaki yang baru saja datang dengan tatapan tajam, menelisik Frida dari atas ke bawah. "Saya membantu menyiapkan menu untuk acara ulang tahun cucu pemilik rumah ini." Suara Frida sangat jelas, tanpa ada kesan takut. Gadis dengan bulu mata lentik itu memang seperti tidak punya rasa takut, selama dia benar dan tidak merugikan orang lain. "Pembantu?" ejek lelaki di hadapan Frida. "Kalau pembantu memang kenapa? Toh pekerjaan halal dan tidak merugikan siapapun," jawab Frida sarkas. Merasa harga dirinya tergores oleh perkataan lelaki sombong. Emosi sudah menguasai hati Frida, dan saat ini dirinya hanya ingin enyah dari hadapan lelaki yang sudah merendahkan harga dirinya. Secepat kilat, gadis berambut panjang itu membalikan badan lalu berniat melangkah. Namun, kakinya terasa berat. Embusan napas terdengar dari mulut Frida begitu pandangannya menangkap sosok cantik masih memeluk erat kedua kakinya. "Sayang, Kakak harus kembali ke dapur, menyelesaikan masakan untuk acara ulang tahun. Kamu tunggu di depan saja, ya. Nanti kita ketemu lagi." Frida kembali menyamakan tinggi tubuhnya dengan Emira. "Kenapa panggil Kakak? Bunda kan bundanya aku." Ada sorot kecewa di wajah cantik Emira, hal itu sangat mengganggu hati dan pikiran Frida. Diusapnya lembut rambut berwarna kecokelatan dan sedikit ikal. Embusan napas kembali terdemgar dari bibir tipis kemerahan milik Frida. "Ya sudah kamu boleh panggil Bunda, tapi kalau hanya ada kita berdua saja, ya," bisik Frida akhirnya, tidak tega melihat kekecewaan pada wajah polos di hadapannya. Emira langsung memeluk erat leher Frida, membisikan ucapan terima kasih dan memberikan ciuman beberapa kali di kedua pipi perempuan yang sudah mengabulkan keinginannya mempunyai seorang ibu. Rasa haru melingkupi perasaan Frida, binar bahagia tergambar jelas di wajah Emira. Deheman dari arah belakang Emira segera menyadakran Frida, dan langsung mengurai pelukannya. "Bunda aku ke depan dulu, ya. Bey," ucap Emira perlahan pada Frida, takut kalau sampai ketahuan papanya. Emira lalu berlari menuju ruang tengah, tinggalah Reiga yang menatap tajam pada Frida. Tapi, gadis yang memang sedang dikejar waktu itu tidak mempedulikan hal tersebut. Gegas dia membalikan bandan, dan belum genap dua langkah, suara berat di belakangnya telah menahan kakinya. "Tunggu! Kamu di sini hanya bekerja di bagian dapur, saya harap kamu tidak usah terlalu dekat dengan orang-orang yang tidak kamu kenal, paham?" Reiga memperingatkan Frida dengan nada tegas. "Maaf Pak, saya di sini memang hanya bekerja, dan harapan saya tidak akan diundang lagi di rumah ini, apalagi bertemu dengan orang sombong seperti Anda!" Frida sama sekali tidak merasa takut dengan gertakan lelaki sombong seperti Reiga. "Heh, perempuan sombong, saya tegaskan sekali lagi, segera angkat kaki dari rumah ini setelah pekerjaanmu selesai! Saya tidak mau melihatmu berkeliaran di sini, apa lagi sampai mendekati Emira!" "Jadi gadis kecil tadi Emira, berarti dia yang sedang berulang tahun. Kasihan baru tiga tahun tapi sudah terpisah dari ibunya. Semoga kamu bahagia selalu, anak manis," guman Frida dalam diam. "Tuli, ya, Kamu?!" bentakan Reiga cukup mengagetkan Ftida yang sedang asyik dengan pikirannya. "Saya nggak tuli, Tuan sombong! Akan saya ingat perkataan Anda yang sangat tidak sopan hari ini. Semoga kita tidak akan bertemu lagi." Gegas Firda meninggalkan Reiga yang menahan amarahnya. Ingin rasanya menelan hidup-hidup sosok perempuan yang sudah lancang memeluk anaknya tanpa seizinnya. "Ck, kenapa aku bisa semarah ini, hanya gara-gara melihat bocah tengil itu dipeluk orang asing? Ah … ada-ada saja perasaan yang nggak sinkron sama pikiran. Enyah saja rasa simpati dari hidupku untuk bocah itu." Reiga mengomel panjang lebar pada dirinya sendiri, yang tetiba mempunyai rasa khawatir terhadap keselamatan Emira. Padahal dalam kesehariannya, mana mau lelaki yang juga anggota pasukan khusus angkatan darat itu, peduli pada darah dagingnya sendiri. Suasana hati Firda sedang tidak baik-baik saja, sejak bertemu dengan Reiga. Beberapa kali dia sampai melakukan kesalaham, membuat hancur lumpia yang sedang digorengnya. Hingga akhirnya Frida memutuskan rehat sejenak. Melihat jam yang tertempel di dinding dapur, masih cukup waktu untuknya menyelesaikan tanggung jawabnya. Hanya tinggal menggoreng lumpia saja, semua menu makanan sudah tersaji di meja hidang. "Mbok, maaf bisa bantu saya, nggak?" Frida mendekat pada Mbok Jum yang terlihat sudah selesai dengan pekerjaannya. "Bantu apa, Mbak?" Mbok Jum langsung mendekati Frida. "Tapi, tugas Mbok Jum sudah selesai belum?" Frida tidak mau kalau dirinya malah membebankan pekerjaan yang jadi tanggung jawabnya pada wanita ramah tersebut. "Alhamdulillah sudah beres semua, berkat Mbak Frida juga. Nggak tahu deh, gimana jadinya kalau tadi Pak Nardi nggak ketemu Mbak Frida." Senyum semringah tercetak jelas di wajah keibuan Mbok Jum. "Alhamdulillah, semua karena Allah, Mbok. Ini saya minta tolong untuk lanjut'in goreng lumpianya. Orang yang nganter pesanan perkakas yang saya rusakan sudah di depan." Kebetulan memang Frida baru saja menerima pesan singkat dari langganan tempatnya membuat perkakas yang sesuai permintaan. "Owalah, silahkan kalau itu, kirain minta tolong apa. Mbak Frida tenang saja, nanti Mbok yang goreng lumpianya." Sedikit tergesa Frida menuju gerbang, di pos satpam sudah menunggu kurir pengantar barang pesanannya. Pak Nardi yang melihat Firda kepayahan membawa tiga perkakas dengan ukuran lumayan besar, langsung mendekat dan membantu membawa ke dalam. Langkah kaki Frida terhenti ketika mendengar suara anak kecil sedang mendebat seseorang yang lebih dewasa umurnya. Dapat dipastikan lawan bicara anak kecil itu adalah lelaki. "Dia Bundaku, Pah!" Firda semakin menajamkan pendengarannya. Langkahnya perlahan mendekati sumber suara. "Dia hanya pembantu di rumah ini, ibumu pergi karena tidak tahan dengan kenakalanmu!" Jantung Frida berdebar semakin kencang, napasnya sedikit memburu. Emosinya mulai terpancing mendengar suara berat yang terasa tidak asing. "Itu pasti Emira. Apa lelaki tadi ayahnya, lalu kenapa bersikap kasar dan seakan tidak peduli dengan perasaan anaknya?" Frida semakin mendekat ke arah dua suara yang saling berteriak. "PAPA JAHAT!" Emira berlari meninggalkan Reiga yang masih mematung di tempatnya. Selama ini gadis kecil itu selalu menurut perkataannya, tidak sekali pun berani membantah. Tapi lihat, sekarang Emira berani bersuara keras terhadapnya. "Ini pasti gara-gara perempuan tukang masak sialan itu," geram Reiga menahan emosinya yang kembali memuncak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN