Bab 3 Mulai Mengancam

1293 Kata
Emira berlari menuju taman samping dan tanpa sengaja tubuh kecilnya membentur kaki jenjang Frida yang sedang mengendap-endap, ingin melihat perdebatan Emira dengan ayahnya. Beruntung tangan Frida sigap menahan lengan Emira, supaya tubuh kecil itu tidak terjungkal ke belakang, karena terpental. "Bunda, Papa jahat. Bunda jangan pergi lagi. Emira tidak mau sama Papa!" Tangis Emira pecah, begitu tahu siapa yang menahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Tanpa mempedulikan peringatan lelaki sombong tadi, Frida merengkuh tubuh kecil Emira dalam dekapannya. Diusapnya perlahan punggung yang terguncang karena tangis. Lalu diangkatnya dalam gendongan. Kaki Frida melangkah menuju bangku yang tidak jauh dari tempatnya. Menyamankan posisi duduknya, dan juga menyamankan tubuh gadis kecil di atas pangkuannya. Cukup lama Frida dan Emira dalam posisi seperti itu. Pemilik rambut berhias bando berwarna senada dengan gaun yang dipakainya, terlihat nyaman dalam dekapan wanita yang disangka ibunya. Bibir Frida terdengar berguman lirih, tangannya tidak henti memgusap kepala bergantian punggung Emira. Tangis Emira sudah mulai reda, hanya sesekali masih terdengar sesenggukan. "Sudah nangisnya, Nak?" Frida mulai membuka suara. Emira mengangkat wajahnya, dan mengangguk perlahan. "Bun--da ja--ngan pergi," pinta Emira terputus-putus karena sisa tangisnya. "Sst, sudah jangan nangis lagi. Anak Bunda nggak boleh cengeng, harus kuat, oke." Akhirmya Frida meloloskan keinginan Emira mnganggapnya ibu. Hati kecil gadis bermata indah itu merasa tidak tega saja dengan keadaan Emira. Bisa dibayangkan bagaimana kalau berada diposisi Emira. Ya, mungkin ada yang berkomentar, "Anak sekecil itu belum paham arti kehilangan." Justru masa-masa golden age, sangat mempengaruhi perkembangan psikis seorang anak. Apalagi merasakan timpangnya kasih sayang dalam kehidupnya. Seorang pengasuh, atau bahkan neneknya, tidak begitu saja bisa menggantikan, posisi dan peran sosok wanita yang telah melahirkan seorang anak ke dunia. Jadi jangan menyalahkan anak kalau mempunyai luka batin begitu mendalam, terhadap orang yang telah membuatnya terluka. Kondisi psikis Emira'lah, yang jadi alasan utama Frida, untuk mengiyakan keinginan gadis kecil itu. Efek yang akan timbul dari tindakannya, itu urusan nanti. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana menjaga hati anak kecil yang sedang rapuh dan berada dalam pelukannya. * "Mbak Ria, Emira di mana?" Nyonya Gulizar mulai gelisah saat tidak menemukan keberadaan cucu tersayangnya. Padahal tamu sudah mulai berdatangan. Memang kebanyakan undangan yang hadir adalah rekan kerja Opa dan teman-teman arisan Oma Emira, tapi mereka juga membawa serta anak atau cucu mereka yang seusia Emira. "Saya juga dari tadi sedang mencari Non Emira, Nya. Tapi, belum ketemu juga." Wajah Mbak Ria sudah mengambarkan kecemasan. Takut kalau anak asuhnya sampai kenapa-napa jelas dia yang kena imbas untuk pertama kali. Sanksi pemecatan jelas, belum kalau sampai harus dilaporkan ke pihak berwajib, lalu nasib orang tua di kampung, bagaimana? "Rei, Emira di mana?" Langkah kaki Reiga dihentikan oleh ibunya. "Nggak tahu, Mam. Biar saja ilang, nggak ngaruh juga buat hidupku. Aku ke atas dulu, mau istirahat. Nanti jam sepuluh malam harus kumpul di mako," jawab Reiga datar, seakan tanpa beban. Membuat Nyonya Gulizar langsung melayangkan pukulan di lengan keras anak lelakinya. "Sinting kamu, Rei. Emira itu anakmu! Bisa-bisanya kamu bersikap masa bodoh begitu. Awas kalau sampai Emira benar-benar hilang, Mama pecat kamu jadi anak!" bentak Nyonya Gulizar meninggalkan Reiga yang masih diam di tempatnya. "Dasar anak sialan, dia yang hilang kenapa jadi aku yang harus disingkirkan juga. Arrgh ... Mama lebay!" jerit Reiga sambil menyugar rambut tebalnya, menyalurkan emosi yang tertahan sejak tadi. Langkah lebar Riega berlawanan arah dengan sang ibu. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu dengan cepat menuju kamarnya di lantai atas. Dia sama sekali tidak peduli dengan acara yang dipersiapakan untuk anaknya. Riega memang sangat tidak suka dengan Emira, terlebih setelah istrinya meninggalkan bayi tanpa dosa demi bisa bersatu dengan kekasihnya. Penikahan Reiga dan Mesya yang terjadi karena perjodohan, akhirnya menyisakan luka terdalam untuk Emira, anak mereka yang belum paham apa-apa. Seharusnya Reiga lebih bisa menerima juga menyayangi Emira, biar bagaimana gadis kecil itu adalah darah dagingnya. Tapi, lagi-lagi lelaki berperawakan khas prajurit terlatih itu malah abai terhadap Emira. "Nyonya, maaf, itu Non Emira di taman samping. Tapi, kok sama perepmuan, ya?" adu Mbak Ria setelah menemukan keberadaan anak asuhnya. "Perempuan siapa? angan aneh-aneh, deh, Mbak." Nyonya Gulizar bergegas melihat cucunya di taman samping. Nyonya Gulizar tertegun melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Emira terlihat nyaman, berada dalam pelukan gadis juru masak dadakan di rumahnya, yang baru datang siang tadi. Tangan kecil cucu kesayangan keluarga Latif mengusap-usap pipi perempuan yang tampak tulus memperlakukan Emira. "Ehem … Emira, Sayang, masuk ke dalam, yuk!" Nyonya Gulizar sudah berada di dekat Frida dan Emira duduk. "Eh, maaf, Bu." Frida terkejut mendapati sosok cantik berdiri tidak jauh dari tempatnya. "Sudah tidak apa-apa, saya yang minta maaf karena sudah mengagetkanmu. O, ya, urusan dapur sudah selesai?" Nyonya Gulizar merasa heran saja, kenapa gadis berwajah cantik ini tidak berada di dapur, malah asyik bercengkerama dengan Emira. "Oma, dia Bundaku. Ayo kenalan dulu." Emira menyela pembicaraan antara neneknya dan Frida. "Oya, Oma baru tahu kalau ini Bundamu, Sayang," balas Nyonya Gulizar dengan tatapan penuh tanya diarahakan pada Frida. "E ... maaf sebelumanya, saya akan jelaskan satu per satu supaya tidak ada kesalah pahaman. Pekerjaan saya di dapur hanya tinggal menggoreng lumpia, kebetulan tadi ada kurir yang mengirim perkakas, mencari saya. Mbok Jum membantu melanjutkan menggoreng lumpia, sedangkan saya keluar mengambil perkakas yang diantar. Saat akan kembali ke dapur, saya mendengar Emira sedang berdebat dengan lelaki yang mungkin ayahnya. Emira meminta saya menjadi Bundanya, maaf jika saya lancang mengiyakan kemauan Emira. Saya hanya tidak tega perasaan anak sekecil ini tergores karena perlakuan egois orang tuanya," tutur Frida pada Nyonya Gulizar sesuai dengan apa yang terjadi. "Lalu kalau justru keputusanmu mengiyakan kemauan cucu saya, tapi kenyataannya kamu bukan ibunya, apa itu tidak melukai perasaannya? PHP'in kalau istilah anak zaman sekarang." Pandangan Nyonya Gulizar tajam, menusuk tepat di manik kecokelatan milik Frida. "Saya sadar kalau itu salah satu resikonya. Tapi, jika Ibu izinkan, Emira bisa bertemu dengan saya kapan saja. Saya rasa hal ini tidak akan membuatnya kecewa," balas Frida dengan tenang. Perasaan Emira adalah prioritasnya saat ini. "Kamu tahu siapa Emira itu?" Tetiba suara berat menyebalkan dan sebisa mungkin Frida hindari sudah ada di anatara mereka. "Mbak Ria, bawa Emira masuk!" pinta Reiga tanpa bisa dibantah. Mbak Ria mendekat ke arah Frida dan berusaha mengambil Emira dari pelukan gadis berlesung pipi saat tersenyum. Namun, Emira tidak mau melepas pelukannya di leher Frida. "Sayang, ikut Mbak Ria dulu. Bunda mau ngobrol sama Papa juga Oma. Kita sudah janjikan untuk berteman? jadi Emira harus nurut apa kata orang tua, oke?" Frida membujuk Emira supaya mau ikut dengan pengasuhnya. Dan gadis kecil itu langsung ikut apa kata Frida. "Saya tidak tahu, dan tidak mau tahu siapa Emira. Saya hanya tahu Emira adalah gadis kecil yang manis. Sepertinya dia sangat merindukan sosok seorang ibu, saya merasa berempati dengan dan berusaha mengiyakan keinginannya memanggil saya bunda, tidak ada maksud apapun. Maaf jika saya terkesan lancang dengan niat saya.” Frida berusaha jujur dengan niat hatinya untuk sedikit membahagiakan Emira, bahkan dirinya tidak peduli siapa orang tua Emira. Nyatanya keadaan gadis kecil itu sedang terluka dan tidak ada yang mempedulikan keadaannya. "Bisa kamu tinggalkan rumah ini sekarang juga. Masalah bayaran untuk pekerjaan kamu nanti saya transfer. Tapi, saya harap kamu angkat kaki sekarang juga. Dan jangan pernah bertemu dengan Emira!" Reiga terang-terangan meminta Frida segera pergi dari rumah orang tuanya. “Rei ….” Nyonya Gulizar berusaha mengingatkan anak lelakinya untuk tidak bersikap kasar pada Frida. “Saya permisi, Nyonya. Assalamualaikum,” pamit Frida pada ibunda Reiga. Tanpa menunggu lama, Frida gegas meninggalkan tempat itu. Masuk kedalam mengambil barang-barang miliknya, dan meninggalkan secarik kertas bertuliskan nomor rekeningnya. Hati Frida semakin sakit dengan perlakuan Reiga. Sudah lebih dari tiga kali, kata-kata tajam dan pengusiran, dengan enteng keluar dari mulut lelaki sombong itu. "Laki-laki sialan, sombongnya minta ampun. Memang dasar manusia tidak berperasaan, aku sumpahin nggak laku-laku, tahu rasa, kamu!" jerit Frida sambil berjalan keluar. "Siapa yang kamu sumpahin?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN