Susah payah Frida membujuk Emira supaya mau berangkat sekolah. Karena hari ini dirinya harus mulai belanja, untuk menyiapkan pesanan besok siang. Tidak mau membuat Aini kecewa lagi, karena Frida sudah berkomitmen menyisihkan waktunya untuk Emira. Keduanya harus mendapat porsi prioritas yang sama. Jangan sampai salah satunya justru akan menjadi hambatan. "Da, ada apa?" Aini memperhatikan sahabatnya malah melamun di depan kios daging. Memang masih antre, dan mereka belum mendapat giliran. Tapi, gelagat Frida yang biasa cerewet jadi pendiam, mengusik hati Aini. "Eh, nggak pa-pa. Kepikiran Pak Reiga saja," sahut Frida sambil menyerahkan daftar belanjanya pada penjual daging sapi langganannya. "Kamu jatuh cinta sama lelaki arogan itu?" Kening Aini sampai berkerut dengan sorot mata tajam ke a

