"Mbak ... Mbak kenapa?" Seorang perawat menegur Frida. Perempuan berseragam itu merasa heran melihat seorang perempuan menangis sambil menatap ke dalam ruang rawat yang dibatasi kaca. "Sus, pasien yang ada di dalam ke mana ya?" Frida mengusap cepat air matanya dengan punggung tangan. "Sudah dibawa ke kamar jenasah, Mbak. Kasihan masih muda tap--" Frida semakin meraung, kantong palstik berisi makanan yang dibawa dari kantin sampai terlepas. Sungguh tidak bisa diterima oleh nalar Frida, bagaimana bisa Reiga meninggal secepat ini. Lalu nasib Emira akan seperti apa? Betapa hancurnya hati gadis kecil itu, belum sempat bertemu papanya, justru ditinggal untuk selamanya. "Mbak keluarga pasien?" Perawat itu kembali bertanya pada Frida. "Saya temannya, Sus. Kenapa memang?" "Alhamdulillah, akh

