Sekarang gue sedang menuju ruangan kepala sekolah, bareng sama anak baru yang nama nya Leo. Tahun ini, sekolah gue mengalami peningkatan murid baru yang mau mendaftar di sekolah gue semakin banyak, ini semua berkat usaha dan kerja keras gue bersama anak OSIS yang lain untuk menyebar selebaran yang isinya; alamat, nama sekolah, perincian pembayaran, dan lain-lain.
Selama perjalanan menuju ruang kepala sekolah gue nggak banyak bicara, karena orang yang namanya Leo itu juga sibuk dengan ponsel nya, jadi gue memilih untuk diam. Sesampainya di depan ruang kepala sekolah gue mengintip dari jendela yang tirainya terbuka sedikit, takutnya ada orangtua dari walimurid sedang berbincang serius dan gue masuk sesuka hati kan nggak sopan.
Disana, gue melihat kepala sekolah gue sedang serius menatap benda kotak yang sering disebut dengan laptop. Kepala sekolah gue terkenal dengan tegas dan agak sedikit menyeramkan, beliau memang jarang marah pada siswa-siswa nya. Kalian boleh percaya atau enggak, kalau kalian ketahuan cabut1 beliau cuma neriakin kalian sekali, kalian bawaan nya enggak jadi cabut, saking takutnya. Tapi kalau gue jujur juga, kepala sekolah gue itu cantik, apalagi kalau senyum kalian semua kalah intinya, dan point terakhir beliau masih muda.
Gue menengok kearah Leo yang sejak tadi diam, orang yang namanya Leo itu diam enggak berkutik entah karena apa, mungkin karena terpesona sama kepala sekolah gue yang memang cantik.
“Lo tunggu disini dulu ya, gue mau konfirmasi dulu ke dalem.”
“Oke,” Singkat, padat, jelas, kok gue kesel ya lama-lama sama ini orang.
Gue mengetuk pintu ruangan kepala sekolah dua kali, setelah mendengar perintah untuk masuk kedalam, gue baru berani melangkah masuk kedalam ruangan dengan mengucapkan salam tentunya. Yang pertama biar sopan, yang kedua memang sudah ada dari dulu jadi gue hanya mengikuti saja.
“Eh kamu Rif, ada apa?” tanya kepala sekolah dengan menjeda pekerjaan nya sementara.
“Itu bu, ada yang mau ketemu.. mau tanya-tanya tentang sekolah.”
“Ya sudah, bawa masuk orang nya, Rif.” Gue tersenyum lalu mengangguk.
Setelah mendapat izin dari yang berkepentingan, gue keluar dari ruangan guna menghampiri Leo yang sedang menyandarkan tubuh nya tepat di tembok. Menepuk bahu Leo pelan lalu memberikan isyarat agar orang itu masuk lebih dahulu kedalam ruangan kepala sekolah dengan gue dibelakang nya. Di ruangan kepala sekolah ini terdapat sofa panjang, sofa tunggal, dan meja kecil yang berada ditengah.
Jangan tanya kegunaan sofa panjang dan sofa tunggal itu apa, yang jelas tempat itu di pakai kalau ada tamu dari dinas atau wali murid dari siswa yang bersekolah disini karena membuat masalah, wali murid yang sering dipanggil itu rata-rata itu dari kelas gue yang anak nya memang petakilan, dan gue akui itu, karena gue juga sama.
“Silakan masuk, saya duduk di dekat pintu.. kalau sudah samperin saya aja.” Kata gue yang mengganti kosakata gue menjadi saya, jangan berpikir gue pencitraan, karena gue memang kebiasaan mengubah cara berbicara gue kalau dihadapan orang yang lebih tua. Leo mengangguk sebagai jawaban, gue agak kesal sih karena perbedaan Leo saat berbicara dengan si Yusna sama gue berbeda. Apa karena si Yusna itu perempuan sedangkan gue laki? Yashh, kenapa jadi mikirin hal enggak penting begini.
Gue mendudukan diri gue di kursi kayu dekat pintu masuk tadi, gue melihat interaksi antara Leo dengan kepala sekolah. “Maaf bu, saya mau tanya kalau mau pindah kesekolah ini apa masih bisa?” Disaat Leo melemparkan pertanyaan, kepala sekolah menatap gue sebentar.
“Rifan, kamu boleh keluar dan bantu teman-teman yang lain.”
“Baik bu, kalau begitu saya permisi.”
Gue berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah menuju tempat pembelian formulir, pandangan gue tertuju pada satu orang yang tengah sibuk mencatat dan menghitung uang yang masuk hari ini karena pembelian formulir. Kadang gue berpikir, apa gue terlalu jahat karena nyuruh dia ini itu? mengingat hal itu membuat gue tertawa pelan lalu menggeleng.
Dengan langkah santai gue mendekati Yusna lalu duduk di sebelah nya, disaat gue datang pun dia tetap serius dengan pekerjaan nya. Gue menatap dia lama, banyak hal yang harus gue akui tentang Yusna, dia orang pertama yang gue kenal dengan sikap cuek bahkan hampir bisa dibilang dingin karena enggak pernah merespon omongan orang yang nggak dikenal, sebetulnya itu hanya topeng. Yusna itu orang nya baik, seru, lucu juga, banyak yang suka bercanda sama dia, terlebih adik kelas, semua orang nyaman sama dia, walaupun ada beberapa yang malah gak suka dengan keberadaan dia, mungkin termaksud beberapa teman-teman gue. Yang lucu adalah, di saat mereka ketemu atau lagi satu kelompok mereka bisa nyatu, ya kayak gak punya masalah aja gitu, cuma kalau udah selesai pasti Yusna bakalan di omongin, ada aja yang di omongin.
Gue mau ngasih tau sesuatu yang rahasia nih, dulu dia itu suka sama gue, sekedar suka sih sampai jadi bahan ledekan tapi itu dulu, sekarang enggak, yang ada dia kesel ngeliat gue ada didekat dia. Alasan lain kenapa gue menyuruh Yusna untuk mendata itu... karena tulisan nya lebih bagus dari gue, jadi bagian TU nggak bakalan pusing baca tulisan nya.
“Widih, serius banget Unaaaa!”
“Haduh, lo lagi! Ganggu aja lo, pergi gih!” ucap nya tanpa menatap lawan bicara nya, berubah lagi.. topeng nya bongkar pasang nih.
“Ya elah, gue kan hanya mau nemenin lo doang Yus.” Kata gue. Membuat Yusna menatap gue sinis, tapi sayang nya gue enggak takut hahaha.. untuk saat ini.
“Nemenin-nemenin, gigi lo nungguing! Yang ada dengan kehadiran lo disini gue semakin disinisin sama teman-teman lo itu! belum lagi pacar lo nanti salah paham, mending lo bantu yang lain, atau main bola lagi gih!” Menaikan alis sebelah kanan lalu menatap Yusna dengan senyum yang tertahan.
Ajaib banget lo yus, secuek-cuek nya lo sama orang lain pun tetap aja lo masih perduli.. sejahat-jahat nya orang lain ke lo, lo tetap aja baik sama mereka.
“Waduh, santai aja.. Gue udah putus sama dia, enggak punya pacar gue sekarang.” Kata gue sambil menyandarkan punggung gue pada sandaran kursi, “Eh, by the way.. mau dengerin lagu nggak?” tawar gue karena gue merasa ada perubahan suasana disekeliling gue.
“Ya..” Gue mendengus kesal saat mendengar jawaban yang irit seirit-iritnya, sedangkan kalau bersama Leo jawaban nya selalu panjang dikali lebar dikali tinggi.
Gue mengeluarkan ponsel dari kantung celana, menekan ikon musik lalu mencari lagu yang akan gue dengarkan bareng si 2.Waketos, gue menekan salah satu lagu yang suka di dengerin sewaktu dia dikelas John Legend – All of Me, Yusna melirik gue sebentar lalu fokus lagi ke pekerjaan nya yang sebentar lagi selesai.
“Besok kira-kira pas 3.MOS kita bakalan ngadain acara apa ya?” Tanya gue pura-pura enggak tau, padahal gue sudah pasti tau apa yang bakalan anak OSIS adain, tetapi namanya juga usah biar bisa ngobrol sama dia.
“Enggak tau, belum cek grup inti. Gue masih sibuk nih, mending lo diem dulu rif.”
“Makanya dicek dong! Elah, jangan galak-galak.. nanti nggak ada yang suka lho..” Pancing gue biar dia lebih banyak ngomong dan ngejawab pertanyaan gue enggak sesingkat yang sebelum nya.
“Ya mending lo buka grup inti terus lo cek sendiri apa aja yang udah disiapin sama anak osis.” Ketus nya dengan menghela nafas panjang, “Iyadeh.. iya.. gue mah apa sih? Enggak seperti lo banyak yang suka.”
“Iya nanti gue cek,” gue menyeringai kecil saat mendengar jawaban yang terlontar barusan, “Pasti itu, termkasud lo kan? Ciyee.. pernah suka sama gue, gue tau kok gue mirip sama boyband yang lo suka itu, siapa namanya? Cahyo? Cayo?”
“Chanyeol,”
“Nah! Itu maksudnya, gue juga bisa ngerapp kayak Cahyo-Cahyo itu.. Gampang lahh,”
“Namanya itu Chanyeol! Udah deh, diam! terus dengerin lagu nya, percuma dengerin lagu kalau lo masih ngomong mulu kayak burung beo!”
“Iya.. ampun bu bos!” kata gue sambil menyatukan kedua telapak tangan gue dengan cengiran diwajah.
Brak!
Enggak, itu bukan gebrakan tangan diatas meja, bukan. Itu cuma suara pulpen yang beradu dengan meja, kalau mau tau siapa pelakunya ya orang yang ada di sebelah gue. “Udah ah, gue bosen disini! Gue pindah kedalem aja, nggak usah ngikutin apalagi ngegangguin gue mulu!”
Nah kan, udah dah.. selesai gue, bakalan ada isi tas yang dibuang sampai dikelas ini mah, sudah pasti. Sepatu gue tadi gue taruh dimana ya? harus gue amanin secepatnya nih sebelum di buang ke tempat sampah. Ringis gue dalam hati.
Disaat dia udah selesai dengan formulir yang ada dimeja tadi, Yusna bangkit dari duduk nya pas dia mau menjauh dari meja, entah ini gue reflek atau bagaimana.. gue langsung nahan tangan nya biar dia duduk lagi di sebelah gue dan enggak kemana-kemana.
“Rif, lepasin! Jangan kayak drama deh..”
“Ya.. makanya lo duduk lagi, biar enggak gue tarik-tarik,” kata gue dengan senyum yang masih terhias diwajah gue.
Gue lihat dia memutar bola matanya malas, lalu duduk di sebelah gue dengan paksaan dari gue tentunya. “Nah kan begini enak, mending dilanjutin lagi kerjaan lo.. biar gue duduk anteng disini, daripada lo sendirian.”
“Ngomong sekali lagi..” dia natap gue tajam, “ini pulpen gue jamin, ngebuat jidat lo itu merah.”
“Iya deh, galak banget lo.”
Gue menatap lama ruangan kepala sekolah yang ada diujung koridor, tatapan gue bertemu dengan Leo yang baru aja keluar dari ruangan kepala sekolah. Gue menyunggingkan senyum miring, tangan yang sejak tadi berada diatas mejapun gue arahkan untuk merangkul Yusna yang ada di sebelah gue sampai membuat Yusna mengejang kaget karena tangan kanan gue merangkul bahu nya. Yang gue lihat, Leo natap gue tajam seolah menyuruh gue untuk melepaskan rangkulan gue pada Yusna yang ada di sebelah gue ini.
Kena kan lo, siapa suruh main-main sama gue.
“Rif! Jauhin kenapa tangan lo, berat dah!”
“Kamu kenapa sih? Biasanya juga biasa aja kalau aku rangkul kayak gini, gara-gara tadi ya? maaf deh.. aku nggak ulangin lagi, janji!” Ucap gue saat melihat Leo yang jaraknya tinggal beberapa langkah lagi dari meja yang sedang gue tempati dengan Waketos.
“Apasih! Lepas nggak? Wah, beneran minta dibikin merah nih jidat sama pipi?”
Glup!
Astagfirullah.. tolong doa-kan gue kawan, gue dalam tanda-tanda bahaya ini.
“A-ah, kamu jangan galak-galak dong.. nanti kalau temen kita yang lain lihat terus iri karena kita romantis banget gimana? Kasian mereka...” Yusna mendengus kesal, lalu menyingkirkan tangan gue yang ada dipundaknya, tetapi diulangi lagi sama gue sampai membuat Yusna kesal karena ulah gue.
“Ehem, permisi!” ujar Leo lalu menatap gue dengan sinis.
“Udah selesai mas? Ada yang bisa dibantu lagi?” tanya Yusna sambil mendorong gue kesamping dan otomatis ngebuat gue yang keseimbangan nya enggak stabil jatuh dari bangku. Gue bisa lihat kalau Leo itu nahan ketawa pas gue jatuh tadi, menatap nya sinis lalu kembali duduk di sebelah Yusna.
“Udah kok, oh iya.. gue boleh minta nomor telepon atau ID lo untuk informasi kalau ada yang gue lupa, tadi yang nyuruh gue, kepsek kok.” Kata Leo sambil ngeluarin ponsel nya dari kantung celana jeans hitam nya.
Aih, ponsel nya..., Da.. aing mah apa atuh, canda deng.
Baru aja Yusna mau sebutin nomornya, “Pake ID gue aja, sama kok! Gue lebih fast respon.” Leo menatap gue kesal, lalu mengehela nafas pelan.
“Ya udah, apa?”
“Marif strip bawah Pato (dibaca: Marif_Pato).”
“Udah tuh, tolong di addback ya pato.” Kata Leo dengan nada yang sedikit meledek gue, lalu pergi dari hadapan gue dan Waketos sambil senyum, senyum nya ke arah Waketos, kalau ke gue malah disinisin gue nya.
“Udah juga tuh!” Jawab gue ketus. “Udah jangan diliatin mulu!! nanti copot mata nya, kan besok masih ada hari lagi!!” teriak gue.
“A!!” pekik gue kencang karena pinggang gue dicubit kecil terus dipelintir kekanan gitu rasanya pedes, panas sampai bikin gue mules rasanya. “Ngapain dicubit si gue!”
“Baru juga segitu, lebay lo ah!”
***
Coba tebak sekarang gue lagi dimana, gue lagi didalam ruangan khusus untuk anak OSIS inti. Coba tebak juga, gue mau ngapain disini bareng waketos sama yang lain? Mau rapat dadakan, mau ngebahas soal MOS biar nggak ada yang berantakan pas hari H nanti. Sebetulnya tadi Yusna enggak mau ikut rapat ini karena udah ninggalin banyak waktu belajar dikelas karena gue suruh mendata bantuin TU.
Rapat pun gue mulai karena merasa semua orang yang gue butuhin udah ada didalam ruangan ini, ponsel gue yang ada di atas meja sejak tadi memunculkan pesan-pesan masuk entah dari e-mail, line, dan wa, tetapi gue diamkan karena rapat lebih penting, alasan lain nya ya biar orang yang bakalan gantiin posisi gue nanti bisa meneruskan kebijakan gue.
“Oke, karena kalian udah tau maksud dan tujuan gue mengumpulkan kalian diruangan ini.. jadi gue harap banget untuk kalian semua pikirin matang-matang tentang MOS yang bakalan diadain disekolah kita ini, gue harap MOS kali ini enggak nyeleneh seperti alumni kita dulu, karena itu bisa mengurangi nilai dimata orang tua murid.” Melirik ke arah samping gue, Yusna masih sibuk nonton video salah satu boyband yang terkenal bareng Michelle yang komat-kamit bilang “Ya Allah.., suami gue si Kyuhyun ganteng bangeeeet.”
“Lo denger gue gak si Yus, Cel?”
“Dengeer, tapi kok ini Chanyeol ganteng banget sih, Rif?”
“Dengerin Rif, tenang gue fokus kok! Cuma ini karisma suami gue tidak bisa di tolak.”
Gue terdiam sebentar, melirik lagi kearah Wakil gue yang masih fokus menatap ponsel nya seraya berkata “Chanyeol ganteng..” . sedangkan Michelle udah diem semenjak Rafirman mensita ponsel gadis itu. Berdeham pelan lalu menatap keseluruh anggota yang lain, “Jadi gue mohon sama kalian untuk ngebuat MOS yang nggak bakal dilupain sama murid baru, gue dengar-dengar dari kepsek tadi.. beliau akan memberikan kita hadiah kalau kita mengerjakan MOS ini dengan serius, jangan lupa.. kita bulan kemarin sudah libur jadi jangan ada alasan kalau kalian lupa atau yang lain nya, karena gue nggak menerima alasan apapun, dan soal susunan acara nanti dibuat lagi di grup. Tulis dinote biar semua nya cek note!”
“Yu, lo denger nggak gue jelasin apa dari tadi?” geram gue, pasalnya dia dari tadi sibuk nonton Chanyeol mulu.
“Denger kok! Intinya kita harus mikirin mateng-mateng tentang daftar sususan acara MOS biar nggak kayak angkatan kakak kelas kita tahun kemarin, terus kepsek mau ngasih kita hadiah kalau kinerja kita bagus.” Jawab nya dengan senyum lebar nya saat menatap gue, lalu sedetik kemudian ia kembali fokus dengan Chanyeol nya itu.
Walaupun pandangan nya tertuju ke ponsel nya, ternyata dia masih bisa mendengar dan menyimak dengan baik apa yang gue katakan sejak tadi, enggak sia-sia ternyata dia jadi wakil gue.
“Oke, ada yang mau tanya atau enggak?”
H e n i n g.
“Ya.. karena enggak ada yang tanya, jadi gue anggap kalian ngerti.. sekian dari gue, kalian boleh kembali ke kelas masing-masing!”
“Siap!” jawab mereka bersamaan dan gue bisa senyum tanpa beban karena memiliki tim yang bisa dipercaya dan tanggung jawab. Walaupun terkadang beberapa teman-teman gue selalu bilang kalau gue bekerja sendiri, entah apa maksud mereka, gue pun bisa di posisi ini karena mereka semua, bisa tanggung jawab dalam tugas pun karena mereka juga, karena bantuan mereka, terlebih wakil ketua osis gue itu.
----
1. Cabut : Pergi
2. Waketos : Wakil Ketua Osis.