Sebelumnya Rensha tidak pernah ada niatan untuk berkunjung di tempat ini sendirian. Membayangkan tempat sesak penuh asap rokok, musik kencang dan suara dentuman saja sudah membuatnya seketika pusing. Namun, kondisinya yang penat sekarang justru membuatnya ke hiburan malam iti. Rensha melangkah masuk, telinganya mulai sakit akibat dari musik dengan volume tinggi. Dia berjalan menuju meja bar, sambil sesekali melirik kanan dan kiri. Pria-pria yang belum mendapat pasangan memperhatikannya saksama. Rensha tidak memberi respons apapun dari tatapan itu. Dia bertekad tidak akan menerima perkenalan dari pria asing itu. “Cocktail satu,” pesannya setelah duduk di kursi panjang depan bartender. Sang bartender menatap wanita di depannya, merasa tidak asing. Namun, dia lupa siapa nama wanita itu. “

