Di dalam tenda yang roboh, Semuanya remang. Sekuat apapun pupil matanya melebar, yang dilihatnya hanya kegelapan. Butuh dua puluh detik lamanya hingga bayang-bayang mulai menampak bersama secerca cahaya yang tersisa. Asap, mungkin itu asap. Atau sekedar debu yang terbang bersama barang-barang yang menimpa tanah lalu menerbangkan butiran halus yang menyesakkan itu. Naviza tersedak, napasnya terasa kotor, dia batuk beberapa kali. Pening, dan terus bertambah berat, kepalanya terasa pusing. Ketika matanya mengerjap, segalanya terasa berputar seperti roda. Dia kembali memejamkan matanya, menarik napas dalam, lalu membuka matanya lagi. Pipi kanannya terasa dingin, dan lengket. Begitu juga dengan satu sisi tangan kanannya yang menyentuh tanah. Dia masih tak berdaya disana. Ditengah-tengah run

