Kesedihan Abyra

2673 Kata

Mereka sampai di ruang kerja raja. Naviza tak bisa berlari sekencang biasanya. Tiap kali berlari atau bekerja fisik yang agak berat, napasnya lebih mudah lelah dan itu membuat jantung dan paru-parunya bekerja lebih ekstra. Saat itulah, retakan halus di tulang rusuk dan dadanya nyeri tak tertahankan. Jadi, Naviza sampai paling akhir.                 “Tenangkan dulu napasmu,” ucap Xatho yang menunggu di ambang pintu. Dia belum masuk, sengaja menunggu Naviza sampai.                 “Aku baik-baik saja,” sangkal Naviza. Napasnya masih berat. Dadanya naik turun intens. Keringatnya mengucur lebih deras padahal jarak dari kandang kuda belakang dengan ruang kerja Faritzal tak seberapa jauh. Pintu diceklek Xatho, Faritzal masih duduk dan terlihat sibuk dengan setumpuk berkas laporan. Ada dua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN