bc

Bimo Superhero dan Game Semesta

book_age16+
30
IKUTI
1K
BACA
adventure
space
no-couple
kicking
mystery
expert
multiverse
special ability
weak to strong
like
intro-logo
Uraian

Innovel Writing Contest - The Next BIG Name

Ini adalah cerita tentang Bimo, seorang pemuda kaya dan tampan, yang bosan dengan hidupnya karena merasa keseluruhan hidupnya telah diatur oleh keluarga kayanya dan ia dipersiapkan untuk mewarisi perusahaan yang telah turun-temurun. Ia menginginkan sebuah kehidupan dunia yang bisa ia atur sendiri.

Hingga pada suatu ketika ia memenangkan permainan game di waktu senggangnya. Sebenarnya game itu adalah sebuah game dari dunia di luar galaksinya. Kemenangan itu menjadi sebuah tiket baginya untuk memasuki dunia galaksi baru, kemudian ia bertransformasi menjadi superhero di sana.

Prestasi-prestasi atas misi yang selalu berhasil ia lewati membuat ia bertemu langsung dengan Sang Creator, yaitu pusat alam semesta. Sang creator bermaksud menjadikannya orang kepercayaan-Nya, di mana ia dapat menciptakan dunia baru lengkap dengan kehidupannya yang bisa ia atur sesuka hati.

Bagaimana keseruan cerita ini? Selamat menikmati sajiannya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Ketika Semua Begitu Memuakkan
Seperti hari-hari sebelumnya, suasana begitu membosankan bagiku. Aku baru saja selesai mengerjakan tugas dari dosen yang menyebalkan itu. Kulit di kepalaku ini juga seakan mau runtuh, seperti bangunan tua Yunani, mereka meranggas ketika aku garuk. Benar-benar terasa gatal, tapi aku sedang malas untuk mandi sekarang. Aku ingin memejamkan mata. “DERRT.. DERRT..” Ponselku pun bergetar. Lantas di sofa yang empuk dan lembut ini aku tegakkan kepalaku dan kuraih ponselku dengan sisa-sisa tenagaku yang seolah lenyap dihisap lubang hitam. “Hai, Bimo. Lu udah makan belum?” ‘7 panggilan tak terjawab’ “Bim, kemana aja sih lu? Ini Nenek sihir nanya-nanyain elu mulu ke gua.” ’11 permintaan pertemanan menunggu untuk ditanggapi.’ ‘Kimberly Jongh, Minie Imoet Chyk, Helen Margareth, Yupi 998-jkluu, ... klik selanjutnya’ Huft.. Seperti biasanya, cewek-cewek kampus selalu menerorku seperti ini. Benar-benar menyebalkan. Pasalnya aku sangat yakin mereka mendekatiku bukan benar-benar tulus ingin menjalin hubungan denganku. Semua karena nama besar Papa, dan aku bagaikan sebuah stiker kecil yang ikut menempel di label harga pakaiannya. “TIIING.. TIIING..” Ternyata ada sebuah pop up muncul tetiba di layar ponselku. Sejak kapan media sosial yang aku gunakan ada pop up-nya? Ataukah mungkin ini adalah kerjaan provider gadungan yang mencoba meretas data selulerku? Akupun berdecak, pasalnya cibiranku tak kian habis walau hanya sekedar gumaman di kepala. Netraku lantas tak terhindarkan pada sebuah tulisan berkedip dengan latar spektrum warna dan gambar antariksa. “KLIK..” “Selamat datang di Game Semesta. Ini adalah tantangan yang mengasyikkan! Keluarlah dari zona nyamanmu, temukan jati dirimu yang sebenarnya. Mungkin saja kamu adalah sosok superhero yang dicari selama ini.” Ajakan yang menarik bagiku. Sebab selama ini aku rasa semua kehidupanku disetir oleh keluargaku, khususnya papa. Segala sesuatu yang aku hasilkan, prestasi atau penghargaan-penghargaan, maka ujung-ujungnya yang dielu-elukan adalah nama besar papa. Betapa bedebahnya, bukan? Aku tidak diminta dilahirkan seperti ini, semua ketenaran dan kekayaan yang tidak pernah mengijinkan keringatku jatuh barang setetespun. Tapi sebenarnya tidak juga, aku rutin ke gym atau berburu dan berkuda, kadang-kadang juga off road. Ketika itu kurasa butiran keringatku sebesar biji-biji jagung. Namun, yang sebenarnya aku inginkan adalah benar-benar memancing ikan paus di laut dalam, bahkan menombak mereka di kedalaman. Bukan justru duduk diam menunggu di pinggir kolam berisi ikan. Begitu d***u kurasa. Baiklah, permainan ini akan kucoba sebentar saja. Lagipula gambar latarnya sungguh sangat menarik, antariksa. “KLIK...” “Level Satu.. Tuntaskan misi ini, Kaisar Langit menitahkanmu untuk mencari gulungan pesan yang tersembunyi di dalam kota ini.” Baiklah, aku akan berjalan pelan-pelan sesuai arah penanda jalan. Namun tiba-tiba, argh! Sialan, rupanya aku tidak diijinkan ‘planga-plongo’ barang sebentar saja. Mode simulasi pun tidak ada. Aku tidak boleh menyepelekan permainan ini. Permainan macam apa ini? Penanda yang diberikan sangat minim, sedangkan tantangan dari musuh semakin banyak seiring waktu. Aku terkena tembakan dan sayatan berkali-kali, sedangkan aku tidak dibekali senjata apapun. Rupanya mereka ingin menjadikan aku seorang pencuri di bagian ini. Baiklah, aku akan mencoba bersembunyi dulu. Aku mulai dapat membaca pola serangan musuh. Aku tidak diijinkan untuk melawan, aku harus terus mengendap-endap karena level kekuatanku masih sangat rendah. Mereka mengajarkanku untuk menunda arogansi yang kupunya. “CLIING..” Benar perkiraanku tadi. Apabila aku menjadi penurut dan penjilat di level ini, maka aku akan selamat. Ternyata kemenangan itu tidak melulu tentang siapa yang terkuat dan dapat mengalahkan siapa melalui kemampuan ototnya, namun ini adalah mengenai taktik. Aku harus dapat bertahan dulu, jangan selalu memikirkan p*********n. Aku pun melanjutkan perjalanan. Daerah yang kumasuki ini begitu sepi. Aku tetap harus waspada. Tiba-tiba aku melihat sebuah kotak peti di depanku. Biasanya kotak seperti itu adalah kotak yang menyimpan harta karun. Tapi aku sangsi dengan bagian ini, sebab setelah zona yang aku lalui tadi bagian ini terlalu mudah. Aku berputar-putar di sekitarnya, berjaga-jaga seumpama ada yang menyerangku tiba-tiba. Namun, setelah kutunggu-tunggu, ternyata benar-benar tidak ada apa-apa di sini kecuali kotak peti itu. Ini aku yang jadi paranoid sendiri karena retetan serangan tadi? Baiklah, akan aku coba menyentuh kotak peti itu. “JIREEENG JREEEENG...” “Selamat, Kamu berhasil menemukan gulungan pesan yang hilang.” “Silahkan ambil tiketmu untuk melanjutkan misimu selanjutnya. Hadiri pertemuan para gamers lainnya yang kami selenggarakan tiga hari lagi di Kota Surabaya! Klik link berikut untuk info lokasi dan reservasi undangan.” Akupun terperanjat. Setelah aku periksa, ternyata tempat di link ini benar-benar ada. Baiklah, aku akan memastikannya sekali lagi. “TUUUT..TUUUUT..” “Halo?” “Wang?” “Eh, elu Bim. Gimana kabar lu Bray? Udah lama ga keliatan batang ujung *ontol lu.” “A j r * t, lu.. BTW gua mau nanya Wang, elu masih di Surabaya khan?” “Iya, apaan tuh Bim?” “Stadion Utama Bung Sutom. Gua dapet undangan ke sana, elu pernah lihat ada tanda-tanda bakal diselenggarain acara ga di tempat itu?” “Kebetulan sih itu tempat gua biasa main skateboard sama anak-anak. Iya, bener Bim. Gua lihat banyak umbul-umbul dipasang di sana, acara pertemuan gamers dunia gitu katanya. Elu diundang di acara itu Bim?” “Serius lu? Pertemuan gamers dunia? Iya gua diundang ke sana. Gua kira itu cuma acara ecek-ecek doang.” “Gila lu Bim. Ga nyangka gua punya temen gamer hebat...” “BRUK-BRUK-BRUK..” “Biim.. Biimooo..” Belum usai percakapan antara aku dan Awang, teman SMA-ku dulu, tiba-tiba papa mengetuk pintu dengan sangat berisik. “Eh, udah dulu ya. Ntar gua telepon lagi? Oke, thank you Wang.” “Iya, Pa?” “Buka pintu!” Aku pun membuka pintu kamarku. Di hadapanku kini ada sesosok monster yang hampir bermutasi menjadi lebih mengerikan lagi. Aku tidak yakin kulitnya akan bertahan, baiklah, aku menunggu ruas-ruasnya menonjol menembus daging dan kulitnya sekarang. “Papa dengar kamu menolak beasiswa studi singkat ke Pennsylvania ya? Maksud kamu apa, Bimo?” ucap Tn. Wijaya, CEO perusahaan Roundtable of Sustainable Palm Oil (RSPO) di Indonesia yang adalah papaku. Aku gelagapan. Berkarung-karung kata-kata sepat sedang berguling-guling di kepala, minta dikeluarkan secara serampangan. Namun, sayangnya nyaliku tidak cukup besar untuk melakukannya. “Beasiswa studi bisnis, Pa,” jawabku menunduk. “Justru itu, Bimo! Itu akan menjadi nilai tambah kamu sebagai lulusan jurusan Ekonomi Bisnis. Orang-orang akan tahu bahwa penerus perusahaan RedEagle adalah orang yang mumpuni walaupun masih muda,” jelas papa dengan berapi-api. Aku benar-benar muak dengan obrolan yang sudah diulang-ulang sejak aku lulus dari SMP, mengenai obrolan ini. Aku begitu ingin mengeluarkan lidahku seperti seekor anjing yang sangat haus, sekaligus mencemooh isi kepala barang pabrikan yang ada di dalam monster ini. “Apa? Kenapa itu kamu lakukan?” ujar Tn. Wijaya. Rupanya ocehan itu belum juga selesai, masih ada kelanjutannya. Oh iya, aku lupa, rupanya sejak tadi beliau ini sedang bertanya dan menunggu tanggapanku. “Itu Pa, ujian akhir semester. Saya tidak ingin mengulangi semester pendek lagi, jadi saya pikir saya harus berhasil pada ujian kali ini dulu,” jawabku dengan karangan yang tiba-tiba melintas di kepalaku. Tapi memang benar, aku selalu gagal di mata kuliah Ekonomi Makro, dan aku tidak berniat untuk benar-benar mempelajarinya. “Makanya Bimo, belajar yang benar. Sekarang hobi apa lagi yang sedang kamu tekuni?” ucap papa sambil berkeliling di kamarku. Untungnya papa tidak menemukan apapun yang berhasil ia sita untuk dimusnahkannya. Jadi teringat, dulu koleksi buku-buku tentang filsuf astronomi dan komik-komik Sci-fi milikku ia bakar. Setelah lelah ia berbicara bising di kamarku, papa pun berlalu pergi. Mungkin kini ia perlu mengecas energinya kembali di gua naga, sebelah selatannya Tower Cahaya Mas di Jalan Jenderal Supirman. Aku begitu betul-betul menginginkan ia pergi ke sana, sambil terjebak macet para pendemo atau terjebak aturan ‘Ganjil-Genap’.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Patah Hati Terindah

read
83.0K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

JANUARI

read
49.0K
bc

Life of Mi (Completed)

read
1.0M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook