Hari ini aku berangkat ke Surabaya. Jangan tanya bagaimana dengan monster tua itu. Beliau tengah sibuk saat ini dan selalu seperti itu. Terkadang tiba-tiba pagi hari beliau berangkat kerja, lalu sore hari sudah berada di Eropa.
Baiklah, aku mulai terbang. Tidak perlu memikirkan apapun, seperti biasanya lagi-lagi pelarianku ini tak akan berlangsung lama. Lalu aku akan kembali ke lingkungan yang menjemukan itu, kampus.
Untungnya penerbangan kali ini tidak ada delay. Apapun maskapainya, mau mahal atau murah mereka terbiasa untuk delay, untungnya tidak hari ini.
Aku baru saja sampai di bandara Surabaya. Aku begitu penasaran dengan tempat pertemuan itu, lantas dari bandara aku sempat mengisi perutku sejenak lalu aku lanjutkan ke Stadion Utama Bung Sutom dengan menggunakan taxi.
“Nak, kamu sudah makan? Baik-baik kamu di sana ya, Sayang. Nanti kamu mau nemuin siapa dulu di sana?” ucap mama melalui panggilan telepon.
“Iya Mama sayang, yang cantik. Satu-satu dong nanyanya,” jawabku.
Aku baru saja duduk di dalam taxi, mobil belum melaju, tapi rentetan ucapan mama sudah sangat kebut mengalahi kecepatan kereta listrik.
Waktu perjalanan yang kutempuh adalah satu jam, setelah itu akupun sampai di Sadion Utama Bung Sutom. Memang benar, tampak dari luar terlihat sanduk dan hiasan-hiasan di tepi jalan menyambut para gamers dunia.
Aku lalu mencari hotel terdekat dan menghubungi temanku Awang.
“Di Aston Wang, nomor 231. Iya, lu buru ke mari dah tapi bawain sajen ya,” ucapku melalui sambungan telepon.
Aku dan Awang pun lantas bertemu dan bercerita-cerita tentang bagaimana aku bisa diundang di event ini. Awang sontak hampir tidak percaya, sebab terlalu mudah untuk mendapatkan tiket untuk masuk ke dalam event ini.
Ia ingin untuk ikut juga, namun sayangnya setelah aku menghubungi call center yang tertera di tiket, mereka mengatakan tidak menjual tiket untuk umum. Mereka hanya menerima tamu yang memiliki bukti undangan, hanya peserta tanpa official.
Malam hari pun tiba. Aku mendatangi acara yang terselenggara malam hari itu. Awang hanya menemani hingga pintu utama saja. Ia bilang akan menungguku, namun ku minta Awang bisa pulang kapanpun ia mau.
Aku pun memasuki pintu utama yang dijawab oleh dua orang algojo asing, seperti berasal dari Afrika, entah lah. Penampilannya pun benar-benar asing, mungkin gaya mereka berpakaian sesuai dengan tema event apapun itu. Aku melihat mereka lebih kepada penduduk-penduduk negeri Wakanda.
Aku melewati pintu dengan melintasi gerbang metal detector. Para undangan tidak diijinkan membawa kamera termasuk ponsel ke dalamnya, bahkan arloji sekalipun.
Agak sedikit aneh menurutku, namun aku ikuti saja peraturannya, sebab para undangan di depanku semua tidak ada yang protes satupun. Sedangkan, orang yang mengantri di belakangku pun menunggu giliran mereka untuk masuk. Jadi, protes apapun tidak memungkinkan untuk saat ini.
Aku memasukkan barang-barang berhargaku di dalam lemari loker yang sangat banyak. Tidak cukup untukku memegang kunci berlabel angka nomor loker. Aku benar-benar membutuhkan kunci alarm penanda, atau aku akan menemukan lemari lokerku dalam waktu yang cukup lama.
Aku pun masuk ke dalam setelah melalui pemeriksaan keamanan yang sangat ketat itu. Para undangan terlihat dari berbagai negara, fisik mereka sangat beraneka ragam.
Namun, di tengah keramaian ini aku bisa membedakan mana panitia dan mana undangan. Ya, lagi-lagi kukatakan, para panitia akan terlihat sebagai penghuni negeri Wakanda.
Aku pun duduk di tribun, seseorang berjubah hendak berbicara memberikan sambutan di panggung yang berdiri di tengah. Panggung yang didisain seperti sebuah arena pertandingan. Seseorang itu pun mulai berbicara dalam Bahasa Inggris.
“Para undangan sekalian, selamat datang di acara yang spektakuler ini. Anda semua tentu bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan Anda sekalian diundang ke sini.”
“Perlu diketahui sebelumnya, bahwa Anda semua yang diundang ke acara ini adalah orang-orang pilihan. Tentu ada yang sudah dapat merasakan potensi terpendam yang seharusnya perlu dikeluarkan namun lingkungan asal Anda tidak memungkinkannya untuk dilakukan.”
Sementara seseorang itu berpidato di arena, seseorang yang duduk di sebelahku terdengar begitu membangga-banggakan dirinya. Ia berbicara dengan seseorang di sampingnya, entahlah itu temannya atau bukan, yang jelas tidak cukup meyakinkan kalau seseorang yang sombong ini benar-benar hebat.
Pemandu acara pun menghimbau semua peserta untuk menggunakan sebuah gelang yang sudah disediakan di bawah kursi masing-masing undangan.
Sesuai himbauan, aku pun memakainya di pergelangan sebelah kananku. Lalu tiba-tiba, terasa sebuah setruman hebat yang berasal dari gelang itu ke seluruh aliran darahku.
“Ini adalah alat prototype terbaru dari kami. Dengan itu, Anda dapat bermain game langsung tanpa membutuhkan perangkat apapun. Benar, tubuh Anda kini sudah terhubung ke dalam sistem game secara nirkabel.”
Sekarang aku paham, mengapa barang-barangku seperti ponsel, arloji dan peralatan semacamnya tidak diijinkan untuk dibawa masuk.
Aku pun mencoba menggerakkan jariku. Aku menggenggam dan membuka telapak tanganku, lalu terdengarlah suara-suara efek seperti sedang menekan beberapa tombol di dalam game.
Aku pun melihat ke sekelilingku, para undangan masih ada, namun nuansa kini telah berubah. Spektrum pencahayaan begitu redup, namun aku masih bisa merasakan kehadiran mereka. Seperti sedang memandangi sekelilingku dengan kamera infrared.
Aku merasa aneh, apakah mataku akan bermasalah nantinya? Namun suasana begitu menyenangkan, menghindariku dari berpikir curiga dan semacamnya. Orang-orang disampingku memandangku dan memandang lainnya sambil menyeringai senang.
“Selamat datang, Tuan. Persiapkan diri Anda untuk memasuki pengalaman yang tidak terlupakan,” terdengar suara yang tak kutahu dari mana sumbernya. Seakan ia sedang berbicara langsung dari dalam serabut otakku.