Nyatakah Ini?

1261 Kata
Sebuah kejutan listrik mengalir dalam darahku. Entah itu berasal dari mana. Apakah gelang yang sekilas terbuat dari silikon ini memiliki sumber daya? Ataukah hanya sebuah alat penghantar listrik saja yang menerima radiasi dari sumber yang itu entah ada dimana. “KLING... KLING.. KLING..” Netraku menampilkan tulisan-tulisan digital. Kemanapun aku mengarahkan pendanganku, lantas tulisan digital itu masih mengikutiku. Seperti sedang menggunakan kacamata, tapi ini benar-benar mata telanjang. “Hey, Man, did you see what I saw?” tanyaku kepada seorang peserta lain yang duduk di sebelahku. Perawakannya seperti orang Timur Tengah. “Is it some writing in front of your eyes?” tanyanya kembali. “Ya,” jawabku. Lalu lelaki itu pun mengiyakannya. Apa yang sedang terjadi padaku kini juga terjadi padanya. “Apakah Anda sudah siap melanjutkannya?” tulisan hologram itu berkedip-kedip di depan mataku. “Ya, baiklah,” jawabku. Tiba-tiba aku melayang dari tempat dudukku menuju ke tengah arena. Ya, melayang begitu saja, seakan grafitasi sedang melemah kemudian ada yang menghisapku pelan menuju ke tengah arena. Aku pun tidak sabar, seperti menaiki sebuah tangga eskalator, laju mereka selalu lambat. Seperti biasanya pula, aku selalu bergegas melangkahkan kakiku walaupun eskalator sudah berjalan. Kini aku ayunkan kedua tanganku seperti sedang berenang, syukurlah cara itu berhasil mempercepatku sampai di tengah arena. Ketika kakiku sudah menapak di tengah arena, aku melihat sekelilingku, di tribun-tribun, tetiba semua peserta lenyap. Hanya tinggal aku sendiri di dalam stadion ini, dengan lantai arena yang bercahaya. Arena yang kira-kira luasnya 8m × 8m dengan dua garis paralel yang menegaskan adanya batas di tepiannya. “Misi pertama, level 2. Pastikan Anda mengalahkan musuh yang sebenarnya. Simulasi bermula pada lima... empat.. tiga.. dua.. satu.. NUUUT..” Lalu muncullah seorang kurcaci pendek dengan tubuh setinggi pusarku. Ia menembakkan peluru-peluru yang memercik seperti petasan kecil dengan ketapelnya. “Aw”, petasan kecil itu langsung mengenai betisku, dan celana jinsku yang tiba-tiba berubah menjadi kain berbahan fleksibel melindungi kulitku, walau panasnya masih begitu terasa menggigit. Seperti permainan di ponselku beberapa waktu yang lalu, kali ini aku menebaknya, aku pasti belum dibekali senjata. Lantas aku menghindar dari serangannya yang cepat itu. entah mengapa aku tiba-tiba bisa mengendalikan tubuhku menjadi sangat ringan juga bisa menitikberatkan bebanku tidak hanya pada kakiku. Sehingga, aku bisa bersalto sesukaku, memindahkan beban tubuhku dengan cepat dari kaki, beralih ke punuk dan kembali ke kaki. Sudah sekitar beberapa menit aku menghindar dari bocah kecil menyebalkan ini terus. Tidak mungkin sampai akhir pertandingan akan seperti ini terus. Lantas aku pun meluncur dengan cepat sambil memposisikan kedua kakiku seperti dua buah tombak yang menggesek lantai. Bukan tombak lebih tepatnya, tapi menjadi gunting yang menjepit kaki-kaki pendek bocah itu dan membanting tubuhnya dengan sangat kasar. Aku puas melihatnya tersungkur. Tiba-tiba tubuh pendeknya pecah kemudian dari belakangku muncul dua buah belalang sembah raksasa. Mereka mengeroyokku, dan aku hanya bisa menghindar dengan cara melompat dan mengelak serta meluncur di lantai. Sayangnya kedua belalang setinggi tubuh manusia itu bisa melompat lebih jauh, bisa menghujam-hujam lantai dengan kedua sejnata di tangan mereka, untungnya aku hanya terkena serangan mereka sedikit saja. kain yang menutupi lenganku sampai sobek, rupanya menembus hingga kulitku ikut sobek mengeluarkan darah. Astaga, mereka cepat sekali. Aku hampir-hampir tidak bisa mengatur napasku. Lalu aku menjadi panik, mungkin karena sudah kelelahan, sehingga tidak lagi bisa berpikir dengan jernih. Lalu, sekelibat kata-kata muncul di ingatanku. “Pastikan Anda mengalahkan musuh yang sebenarnya.” Aku pun tersentak dari ingatan yang sepersekian detik itu. Jangan-jangan mereka ini bukan musuh. Kelemahan apa yang sedang aku rasakan saat ini? Jawabannya adalah rasa takut. Aku terlalu panik. Baiklan, aku akan mengalahkan rasa takut ini. Bukankah mereka hanya dua ekor belalang sembah? Aku pun memberanikan diri, aku mengincar punggung-punggung mereka, sebab belalang sembah hanya menyerang yang ada di depan mereka. Aku lalu bersalto-salto yang aku bisa, aku menganggap tungkaiku setajam senjata mereka dan bisa menyentuh punggung-punggung mereka. Benar saja, kakiku lalu berubah benar-benar menjadi mata pisau yang tajam dan mengoyak kulit tipis salah satu belalang di bagian belakangnya. Kedua belalang itu lalu tiba-tiba menjadi seukuran belalang sembah normal. Mereka sangat menggiurkan untuk aku injak sampai hancur. Namun, kalau dipikir-pikir mereka hanya makhluk lemah, jadi buat apa aku menginjaknya. “Hus! Hus!” Aku mengusir mereka berdua, merekapun terbang menjauh selayaknya belalang sembah normal. Belum sempat aku menenangkan napasku, muncul lagi sesosok robot raksasa di hadapanku. Ia lebih mirip dengan Transformer, tapi sepertinya bukan. Sebab bentuk tubuh mereka seperti seekor makhluk hidup yang punya kulit yang elastis, tidak seperti robot yang kaku diselubungi lapisan logam. Entahlah, aku bingung sebenarnya ini makhluk apa. Digimon? Monster musuh Ultramen? Semunya sungguh berbeda. Makhluk raksasa itu mengangkat kakinya dan hampir-hampir menginjakku. Astaga, aku harus berlari ke mana, sebab telapak kakinya begitu luas. Jelas ini sudah terlambat bagiku untuk menghindar. Lalu aku bayangkan tubuhku menjadi cair. Aku ingin mencair agar tidak hancur ketika terinjak. Benar saja, seluruh jaringan tubuhku, hingga ke tingkat molekul, semua tiba-tiba berubah. Ya, aku kini menjadi semacam fluida. Bukannya aku tumpah berceceran, aku malah terserap ke dalam kaki raksasa ini. Aku merasakannya, aku menjalar menuju ke atas. Baiklah, aku akan mengincar bagian kepalanya. Aku meluncur ke atas dengan cepat, memenuhi rongga di kepalanya. “KLING...” Aku memiliki tubuh baru. Ya, tubuh raksasa ini menjadi tubuhku. Tiba-tiba arena berubah menjadi seluas lapangan sepak bola. Aku mencoba semuanya, mengendalikan kaki, aku berjalan, berlari, kemudian melompat dan bersalto di udara. Benar-benar tidak ada perlawanan berarti dari diri makhluk besar ini. Aku lalu memeriksa tubuh baruku ini, di mana kira-kira senjata yang aku punya. Lantas aku meraba kaki, perut, d**a, punggung, tidak kutemui senjata yang terpasang. Minimal senjata api, pedang atau apapun itu. Mulanya, aku merasa aku sudah cukup keren dengan tubuh baruku ini. Tapi, apa artinya bila tanpa senjata? Aku lantas merasa kesal dan kubanting-banting sendiri tubuh ini. Aku melompat dan menghujamkan dadaku ke lantai arena, punggungku, bokongku. Membentur-benturkan kepala dan berguling, persis seperti seekor monster yang sedang gila. Tiba-tiba.. “CLING..” Tangan kanan raksasa ini berubah menjadi meriam. Aku senang bukan kepalang. Lalu aku mencobanya, aku meledakkan bagian tribun yang ada di hadapanku. “JEDUUM..” Aku berhasil menggunakan senjata hebat ini. Perlahan aku terdiam. Aku pikir apa yang aku lakukan sedari tadi? Aku hanya heboh sendiri, tanpa seorang lawan pun. Malah aku menghancurkan sesuatu tanpa sebab. Aku mulai menyadari, aku mungkin mengalami sebuah reaksi kimia di dalam otak manusiaku. Sebuah emosi kepuasan dan keserakahan atas kekuatan dasyat yang belum pernah kumiliki sebelumnya. Lantas aku malah berubah menjadi sosok jahat penghancur yang gila? Sebentar, ini adalah sebuah permainan. Aku hampir saja melupakannya. Di sini aku seharusnya menyelesaikan sebuah misi. Lalu apa yang telah terjadi sekarang? Untuk pertama kalinya, aku jijik kepada kekuatan yang baru saja membuatku terperanjat kegirangan ini. Lalu bagaimana mengakhiri ini? Tidak ada tombol apapun di sini, minimal tombol pause pun tidak ada. “Aku ingin menjadi manusia lagi. Kekuatan yang aku ingini ini tidak aku butuhkan,” gumamku lirih. “Selamat, Anda berhasil pada misi ini.” Sebuah suara kembali terdengar entah dari mana asalnya. Tubuh raksasa ini lalu bercahaya, dan aku pun kembali menjadi manusia yang sedang menggunakan sebuah gelang elastis dari silikon. Aku berpikir, mungkin ini yang disebut musuh yang sebenarnya. Musuh yang sebenarnya adalah diri sendiri. Ketika diri sendiri kerap meremehkan sesuatu, ketika diri merasa takut dan tidak tenang, dan terakhir ketika diri berada pada puncak keserakahan. “Apakah Anda siap untuk melanjutkan misi berikutnya?” Suara itu terdengar lagi. Kini aku yakin, bahwa sedang ada chip berukuran miksroskopik di dalam serabut otakku. Sebab suara itu aku mengerti tanpa adanya rambatan melalui udara. Sebab aku tidak merasakannya masuk di kedua telingaku. Lalu sekarang bagaimana, akankah aku melanjutkan permainan ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN