Aku pun melanjutkan permainan ini. Kini aku akan berada pada misi kedua. Bersiap, gelang di tanganku pun kembali memberikan sinyal kejut listrik namun kali ini terasa lebih dingin. Mereka mengalir ke syaraf-syaraf di sekujur tubuhku.
“CENGIIIIT...”
Tetiba tubuhku diselimuti logam keras, namun cukup ringan untuk kugerakkan. Tentu saja ini terbuat dari baja, aku bisa mengetahuinya sekilas saja.
Di hadapanku pun terdapat sosok monster berpijar. Api, mungkin aku akan menamainya monster api. Namun, aku dapat mengatasi ketakutanku kini. Tentu saja aku mampu, sebab aku telah lolos pada misi pertama tadi, di mana aku telah mengetahui cara mengalahkan rasa takutku sendiri.
Baiklah, sifat baja adalah hanya akan dapat meleleh di panas bersuhu sekitar 1300 derajat celcius. Aku sangat percaya diri, serangan oleh monster ini tidak sampai di titik itu.
Sebentar, biasanya sosok manusia logam sepertiku dibekali senjata, bukan? Laser atau lain sebagainya.
“CIUUUNG..”
Aku baru saja menembakkan laser kepada kaki monster itu. Ya, aku yang memulai serangan ini. Namun, betapa bodohnya aku, pasalnya monster itu adalah monster yang terbuat dari api, lalu bagaimana bisa jitu seranganku kalau dilawan dengan laser.
Monster api itu pun menyerangku, aku hanya menghindar sebisaku, sebab aku telah salah perhitungan tadi. Setidaknya aku harus bisa memadamkan nyala api.
Sembari menghindar dari serangan monster api itu, aku pun berpikir bagaimana caranya memadamkan api. Seketika aku pun ingat pada pelajaran Fisika dulu, bahwa api akan padam oleh pemutusan tiga elemen ‘segitiga api’. Sumber api, pemicu, dan bahan bakar.
Sumber dan pemicu, tentu aku tidak mengetahui bagaimana monster ini diciptakan, ada di mana sumber panasnya dan bagaimana pemicu panasnya. Satu-satunya yang dapat aku mainkan di sini adalah bahan bakar. Tentu saja, di bumi api akan terbakar dengan bantuan oksigen.
“Aw,” tembakan monster api ini mengenai bokongku. Tentu saja tidak tembus mengenai kulit, karena baja yang menjadi pakaianku ini menghalanginya. Namun, ternyata tekanannya begitu dasyat. Seperti habis tertembak peluru, membuat pelapis baja ini menjadi melengkung ke dalam dan menusuk kulitku.
Baiklah, aku tidak akan berlama-lama. Aku pun melihat ke langit-langit arena. Rupanya langit-langit arena diselubungi kubah. Maka langsung saja aku tembakkan laser ke sekeliling kubah, kubah pun runtuh menutupi monster.
Sebelum kubah benar-benar mengurung monster itu, aku pun menyemprotkan gas CO2 dengan cara kuhisap semua APAR di arena stadion ini dan kuledakkan di dalamnya.
Kubah itupun runtuh menutupi monster seperti sebuah mangkuk yang mengurung seekor kecoa di dalamnya, tentunya dengan isi gas APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dari puluhan tabung yang meledak itu.
Setelah itu, arena pun senyap. Hanya tinggal tersisa debu-debu yang berterbangan saja, sisa-sisa atap stadion ini runtuh. Namun, itu pun tidak meninggalkan suara apapun. Suasana begitu senyap.
Tak lama, kubah itu pun bergetar. Aku menebaknya, mungkin monster ini belum mati, jadi aku pun menunggunya hingga tidak ada reaksi susulan lagi.
Waktu terus berjalan. Aku dengan ketidaksabaranku, aku pun menuju kobah yang sudah tidak menunjukkan gerakan apapun itu. Sebab kalau monster sudah mati, tentu misi ini usai dan ada pemberitahuan dari tulisan hologram maupun suara-suara gaib itu. Namun, nyatanya semua senyap-senyap saja.
Apakah mereka menunggu kegilaanku seperti pada permainan di misi pertama tadi? Maka aku pun mendekati kubah itu, aku berdiri di atasnya dan melompat-lompat untuk memastikan tidak ada lagi respon apapun darinya.
“DIIING.. DIING.. DIIING..”
Lampu di sekitar arena berkedip seirama dengan suara alarm yang berbunyi itu.
Seketika kubah yang telah runtuh pun menghilang dan ia kembali lagi terpasang dengan rapi di bagian atap stadion. Monster api di dalamnya pun sudah menghilang.
Seraya penglihatanku pun mulai kabur. Dengan tubuh baja yang masih kukenakan ini, serasa grafitasi mulai melemah. Aku melayang. Seketika seluruh pemandangan di sekelilingku berubah menjadi hitam, gelap dan aku pun terhisap ke dalam terowongan.
Aku pun tiba di ujung terowongan dan menyembur keluar dari mulut lubang itu. Kini aku berada melayang-layang terkatung-katung di samudera kehampaan. Aku bingung, sebenarnya aku berada di mana. Kapalaku pun kini sudah terbungkus helm, aku seperti seorang astronot tapi pakaian ini jauh lebih aerodinamis daripada pakaian astronot.
“JEDUUUUM..”
Aku ditabrak sebuah batu sebesar sofa yang bergerak dari arah belakangku dengan kecepatan tinggi. Tubuhku tidak remuk, melainkan aku terbawa di atasnya dengan kecepatan tinggi.
Tabrakan tadi membuat kepalaku pusing dan hampir membuat kumuntah. Tidak mungkin kumuntah di dalam pelindung kepala yang tertutup ini. Bisa-bisa aku menghirup muntahku sendiri dalam waktu yang lama nantinya. Jadi, begitu isi perutku sampai di ujung lidahku, maka mereka aku paksa kembali mundur ke tenggorokan.
Melalui batu terbang ini aku dibawanya kepada pemandangan yang semakin lama semakin jelas. Beberapa benda-benda mereka meluncur dan menabrak yang lain, lalu berbalas arah lagi.
Ini kelihatannya lebih kepada perang adu tembak yang sedang terjadi. Jangan-jangan batu ini pun akan meluncur menabrak salah satu benda di depan? Lantas aku pun terjun dari batu terbang itu.
Aku saat ini hanya bisa melihat perang itu terjadi. Lalu apa tujuannya aku didatangkan ke tempat ini?
Tiba-tiba sebuah pesawat dengan bentuk yang aneh pun menghisapku ke dalamnya. Dari luar pesawat itu lerlihat seperti tabung yang besar dengan banyak cincin yang berputar dengan arah yang berbeda-beda.
Aku lalu sampai di dalam pesawat. Beberapa orang dengan pakaian senada denganku, namun agak berbeda, mereka menyeretku tanpa banyak bicara.
Aku pun dihadapkan pada sebuah jendela besar lengkap dengan alat-alat pengendali di dekatnya. Sepertinya aku berada di ruangan kokpit dengan beberapa staf yang sedang sibuk menekan-nekan tuts komputer.
Seseorang dengan pakaian yang menurutku paling mewah, seperti berlapis emas dan beberapa benda berkilau sebagai aksennya berteriak dan beberapa orang menekan-nekan tuts komputer dengan seirama.
Aku mulai memahami, orang berpakaian mewah itu mungkin adalah seorang panglima perang, dan staf lainnya adalah bawahannya. Karena ketika mereka bekerja denga ritme yang sama setelah orang itu berteriak, maka ada tembakan-tembakan yang keluar dari arah pesawat ini.
Beberapa tembakan mengenai pesawat lainnya yang mungkin itu adalah pesawat musuh, kemudian mereka meledak. Namun, tembakan juga ada yang mengenai bebatuan yang melayang yang ikut ada di antara mereka.
Bebatuan itu kemudian pecah setelah tertembak dan menyembur ke kaca jendela seperti semburan butiran pasir dan kerikil. Namun jendela besar ini ternyata sangat kuat, sehingga tiada yang retak oleh semburan itu.
Seseorang berpakaian mewah itu lalu menunjuk-nunjuk aku dan mengarahkan aku pada salah satu alat pengendali dari sudut ruangan yang lain. Aku tidak mengerti bahasanya. Mungkin saat ini aku dihadapkan pada misi membantu orang-orang di dalam pesawat ini.
Aku benar-benar tidak paham bagaimana cara mengendalikan tuas-tuas dan tombol-tombol ini. Orang itu lalu meneriakiku, seperti membentakku.
Aku lalu melirik staf lain yang sedang fokus bekerja. Mereka punya ritme yang sama. Ketika pemimpin itu berteriak, maka mereka akan menekan tombol besar berwarna merah menyala itu dan menarik tuas di sebelah kiri mereka ke arah vertikal bersamaan.
Aku pun melakukan hal yang sama. Pemimpin itu berteriak, aku melakukan hal yang sebagaimana orang lain lakukan terhadap alat-alat ini. Melihat apa yang aku lakukan, orang yang membentakku tadi pun berlalu dan kembali ke tempatnya.
Aku mengikuti perang dari dalam pesawat ini selama beberapa waktu yang kurasa lama sekali. Mungkin satu atau dua jam, entahlah. Tidak ada yang bisa menunjukkan waktu di sini. Aku benar-benar tidak paham dengan penanda-penanda yang ada di sini.
“NIIT.. NIIT.. NIIIIT..”
Sebuah alarm berbunyi dari atas kepalaku dan aku merasa semakin melemas.
Pemimpin tadi pun mendekatiku dan memanggil dua orang yang kemudian mendekatiku. Mereka berbicara dengan bahasa yang aku tidak mengerti.
Seketika aku hanya bisa terbaring lemas, tidak bergerak. Mungkin kali ini aku menggunakan sistem baterai atau sejenisnya, yang sekarang energinya sudah tidak memungkinkan lagi untuk digunakan.
Aku lalu dimasukkan ke dalam kapsul, seperti sebuah sekoci dan aku ditembakkan dengan kecepatan tinggi ke tempat yang sepi dari peperangan itu. Aku menyadarinya, sebab suara dentuman itu tidak lagi terdengar.
***